Cemilan, General, Inspire, Kuliner Lokal, Uncategorized

Bakcang Festival dan Momen.

FullSizeRender

Hari ini hari bakcang, dan baru sadar kemarin ditanyain oleh sepupu kapan mau ambil bakcangnya Gile ini ya mau dikasih eh malah diingetin, kurang tahu diri hehehe.  Hm… jadi ingat dulu kalau hari bakcang itu selalu spesial. Waktunya ngumpul ngobrol ngolor ngidul dengan mama sambil bantu recokin. Kadang bareng dengan tante-tante, lalu nungguin rebus parcel kecil itu semalaman, dan paginya bangun bersemangat mau sarapan bakcang yang masih mengepul. Semakin umur bertambah jadi semakin menghargai momen.

Bakcang sendiri banyak nama dan jenis, tapi tidak perlu bahas bakcang negara lain ya, di Indonesia aja saking banyak jenisnya gak sempet nyicip atu-atu. Konon seh bakcang dibuat sebagai rasa penyesalan kaisar setelah sang pemaisuri menenggelamkan diri di sungai karena sang kaisar tidak perhatian. Bakcang dibuat untuk makanan ikan di sungai supaya jenazah sang permaisuri tidak digerogoti. anyway… kisah ini bukan yang diceritain di keluarga seh, ini hasil gugel aja.

Bakcang adalah jenis makanan yang dibungkus daun, yang berisi ketan/nasi yang  membungkus lauk dan dikukus/rebu sampai empuk. Bakcang yang kita kenal di indonesia terbagi jadi 2 genre besar, dengan bahan beras  (yang dominasi di Jakarta, Bogor, dan sebagian Jawa) dan dengan bahan ketan (selain yang disebutkan di bagianberas). Untuk pembungkus, dipakai bermacam daun bambu. Untuk lauk isian tergantung keturunan suku, kalau hokkian cenderung mengisi dengan babi cincang kecap, kalo konghu dan tiociu, biasanya dengan kombinasi kacang hijau kupas, telur kuning asin dan daging babi acar bawang. Nah ada juga adaptasi lokal dengan mengisi kacang tanah atau bahkan tanpa isian, namanya Ki cang, yang dimakan dengan gula pasir atau seperti lupis dengan parutan kelapa dan gula merah cair.

Dalam keluarga sih bakcang itu simbol silahturami, mama biasa buat bakcang dalam jumlah banyak, untuk dibagikan ke semua keluarga besar, dan dihitung lho harus buat berapa pcs. Persiapannya rumit dan panjang, minimal 2 hari. Karena keluarga kita keturunan kong hu, maka persiapan lauk isinya lebih banyak jenis  Ritual dimulai dari merendam kacang hijau, sampai kulit ari hijaunya terkupas, kacang hijau jadi kelihatan seperti kedele. Lalu daging babi yang harus banyak lemaknya, diacar dengan bawang merah, rempah dan garam, direndam selama 2 malam supaya bumbu meresap dan telur asin hanya bagian kuningnya. Ada variasi lain dengan jamur, ginko, kacang tanah dsb . Bahan utamanya ketan yang direndam min 1 malam juga. Kebayang kan time consumingnya.

Ritual bungkus juga gampang-gampang susah, eh harusnya susah-susah gampang, Karena manual, harus bisa kerajinan tangan melipat daun bambunya, sambil meracik isi nya seperti koki, lalu membentuknya seperti arsitek, dan menutupnya dengan tegas seperti butcher. Dari semua keluarga besar, sepertinya garis keturunan kedua tidak ada lagi yang menguasainya, sepertinya budaya membungkus bakcang sendiri akan kita bunuh di generasi saya dan semua sepupu, dengar….. ini tanggung jawab bareng yah.

Tapi percayalah, bakcang yang enak itu tidak dibeli di toko (maap ya juragan bakcang yang terhormat, saya suka beli juga kok di hari biasa…) tapi bakcang yang dibuat oleh mama atau kerabat dekat kita, yang dibuat dengan penuh cinta kasih dan sambil dihitung berapa lagi bakcang yang harus dibuat supaya semua kebagian. the love and care. Tuh momen lagi kan. ini ngomong bakcang atau momen seh? – ( eh thank you buat tante ellen, bakcangnya sudah beristihat tenang di perut)

Suka lupa ya kalau banyak yang lebih penting dari apa yang dikira lebih penting (baca : KERJAAN KANTOR), dulu sempet baca ntah dmana, kalau ada kesempatan bersama keluarga, atau teman terkasih, mind setnya harus ganti, bukan coba menunda dengan alasan sibuk, atau ketemu trus nyambi bales email or chat ya semacam take it for granted lah. Ehhh…  waktu kita di dunia itu terbatas lho dan kita tidak tahu kapan dipanggil, jadi mind setnya harus ganti jadi kapan lagi kita bisa ngumpul? kita tidak tahu kan? anggap aja ini selalu jadi momen kita yang terakhir. Agreed?

 

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s