City Escape, Experience, Kuliner Lokal

Arti Sepiring Nasi Ayam

Hampir semua chef ternama akan sependapat kalau chef dengan skill dan sense terbaik bisa dinilai dari masakan yang paling sederhana, semakin simple maka akan menunjukan keahiliannya dalam mengolah bahan pilihan menjadi kuliner yang ‘manjain’ dan ‘ngangenin’ lidah dan kalau ditambahkan ke dalam dunia  bisnis harus ada tambahan kata konsisten dan ‘experience’ sehingga bisnis kulinernya akan jadi legendaris.

Contohnya banyak, kalau di Jogja orang lokal akan menunjuk ko diam, legenda nasgor yang simple dengan waktu tunggu standard 1 jam, atau Yu Djum, Gudeg Jogja tidak akan seterkenal sekarang kalau tidak dengan dibuat jadi standard dan simple. atau gres & ben akan setuju dengan bakmie nya Mbah Mo, yang dimasak dengan kasih dan anglo. dan akan muncul nama lain yang segera jadi daftar  panjang karena setiap orang punya jagoannya. Monggo lho ditambahkan sendiri.

Tapi untuk ini spesifik akan dibahas soal Nasi Ayam Hainam, terus terang agak sebel ya kalau hidangan yang sederhana ini kok ya di Jakarta tidak ada yang cetar, konon di Sing yang paling enak dan mahal ada di chatter box, yang kalau disini tidak lebih dari hidangan standar, atau konon Pandor punya nasi yang cihui, yang ternyata nasinya kurang gurih dan ayamnya agak lari dari pakem Nasi Ayam Hainam idaman. Mungkin harus disamakan persepsi dulu, pakem Nasi Ayam  Hainam yang enak adalah dengan nasi yang harum, paduan kaldu, jahe, bawang putih dengan tampilan nasi yang lembab tapi tidak pulen, masih terberai seperti halnya nasi padang. Untuk Ayamnya kulitya harus cenderung pucat, tekstur kulit halus dan daging ayamnya lembut dan wangi. Paduan ayam yang aromatik tapi juga tidak menutupi rasa dagingnya, lengkap dengan kuah siraman yang cenderung menjadi pelengkap rasa, bukan yang medok menutupi semua rasa ayamnya.  Pencarian ayam hainam di Jakarta semua berakhir dengan komen, enaknya seh, tapi bla bla bla bla.. seperti katanya ciptaan Tuhan tidak ada yang enak sempurna. Sigh..

Dan begitu ada kesempatan balik ke Sing, questnya cuma 1, nyari Nasi Ayam Hainam, yang konon paling enak, namanya Tian Tian di Maxwell Foodcourt di China Town. Wait… sebelum berargumen lapak lain, ini memang dicari yang ada di hawker center, bukan resto dengan label harga cafe. Singkatnya, stall ini kecil, hanya 2 petak dari ukuran standarnya hawker di Sing, tapi antriannya lumayan lama, sekitar 50-60 customer lain di depan, plus sesudah kita selesai antri, masih ada jumlah kurang lebih sama di belakang.

Mari kita bandingkan dari sisi harga, 1 porsi nasi Ayam Hainam $5.50 atau 53rb IDR. Lumayan Mahal ya… terutama karena pembandingnya adalah Nasi Campur Babi lengkap dengan bebek panggang standar hanya $3.5. Secara harga sudah premium. Tapi dengan antrian dalam 1 jam lebih dari 120 customers antri, yang semuanya beli lebih dari 1 porsi, seharusnya harganya tidak masalah.

Dan apalagi kalau sudah mencoba ayamnya, rasanya harganya plus antrian 30-60menit, rasanya sepadan seh. Tidak heran mereka bisa bertahan, walaupun digempur dengan jenis makanan baru, belum lagi persaingan sesama nasi ayam, bisa dibilang quest mencari Nasi Ayam Hainam sempura boleh dikatakan sukses, saya menemukan 1. Tian Tian. Tampilan Ayam yang begitu sederhan dan garnisnya pun  hanya sedikit ketumbar dan kuah kental. Semua gambaran ayam rebus sempurna, kulitnya halus dan lembut, daging empuk dan wangi ringan kombinasi jahe, bawang putih dan daging ayam.Nasinya juga juarak… tidak lengket, ringan dan cocok dg kuahnya. Semua begitu sederhana, polos, tapi memberikan komibinasi dengan ponten 10. Ke sing pasti akan diabsen lagi deh, untuk mengecek konsistensi sehingga bisa mengalami experience yang sama dengan orang Sing lokal. #halah

IMG_9489

PS : dalam gambar adalah whole chicken, harganya 24$, btw utk harga nasinya 70cent

Standard
Antropologi Populer, Cemilan, Experience, Kuliner Lokal

Kuliner Nusantara dalam 1 porsi

Screen Shot 2016-07-11 at 10.58.11 PMBermula dari libur lebaran yang diisi dengan makan dan makan, plus ngobrol ngolor ngidul dengan sahabat lama, mendaratlah kita di tempat makan yang lagi hits, yang menyajikan Nasi Campur Babi Indonesia, betul BABIK.  Yang kalau dari penampakannya, bisa langsung ngeces kan. Tergolong unik karena belum ada resto sejenis yang menyajikan keanekaragaman makanan indonesia non HALAL yang dimasak dengan serius dan lengkap. Tanpa disebutkan namanya pun, penduduk Jakarta akan dengan mudah menemukan tempat jualnya. Dan yang menariknya pengusaha yang membuka tempat makan ini bukan orang Jakarta, tapi urang Bandung, masih muda dan rasanya intuisi bisnisnya mumpuni.

Kalau harus menganalisa satu persatu makanannya, mungkin saya kurang kompeten, tapi jenis masakannya sangat bervariasi, sangat berani dengan bumbu, mulai dari sejenis rendang batokok basah lengkap dengan sambal merah nan meriah, babi panggang Bali dengan sambal matah yang nendang, babi panggang Karo yang moist, lengkap dengan sambal ijo dan sayur daun singkong teri yang pedas dan menghentak, dan satu-satunya kuliner yang bukan asli Indonesia adalah bacon yang di-coating tepung dan goreng kering, yang harusnya diganti dengan lemak babi goreng kering yang biasa disediakan sebagai condiment di tempat makan bakmi Medan. Secara overall ponten untuk hidangan ini 8.5/10. Patoet Dipoejikeun, kalau mengutip penilaian seorang teman peminat kuliner yang dikenal dengan tukang nyicip.

Langsung teringat diskusi waktu WTF! JS beberapa waktu lalu, semua setuju tidak ada sumber informasi kuliner Indonesia dalam 1 atap, dan memang karena kuliner Indonesia yang begitu luas, hingga tidak bisa ditangani hanya oleh 1 badan, harus dikelola secara kolektif. Pada  tahun 2014 Tempo pernah mengeluarkan edisi khusus antropologi Kuliner Indonesia. yang sampai saat ini menurut saya masih merupakan yang paling runut, rapi dan dihimpun dengan serius. Kuliner dengan pendekatan sejarah, dan perjalanan bumbu, lengkap dengan ulasan ekonomi, politik, dan tentu saja mencicipi langsung makanannya. untuk tulisan ini, Tempo mengerahkan 1 team besar, rasanya pasti lebih dari 100 orang. Sungguh usaha yang serius, sayangnya hanya untuk 1 edisi, bukan yang berkelanjutan.

jalur remoah

Menurut Tempo, jalur rempah Indonesia terbagi menjadi 7, yang mana menjadi garis besar aliran kuliner Indonesia, yang nantinya masih akan pecah lagi menurut geografis, karena misalnya untuk Jalur 2 : Jawa, ada ratusan jenis masakan hanya dari 1 provinsi, yang masih bisa dipilah lagi berdasarkan suku, etnis, waktu dan pengembangannya karena asimilasi dan pergaulan. Bahkan kalau menurut saya Kuliner indonesia kalau dijadikan pendidikan, paling tidak bisa menjadi jurusan, bukan cuma sebagai mata kuliah. Coba bayangkan betapa kaya Kuliner Nusantara. Tidak ada salahnya kita sebagai generasi muda Indonesia mulai membuat pendataan Kuliner Indonesia, supaya generasi mendatang masih bisa menikmati Kuliner Indonesia yang sebagian sudah mulai dilupakan dan siapa tahu sambil melestarikan salah satu budaya Nusantara kita bisa belajar lebih banyak lagi dan mendapatkan manfaat ekonomi seperti urang Bandung yang kreatif membungkus kuliner Babi Nusantara dalam 1 piring? dan harusnya bukan cuma babi kan? Mari Makan.

photo : Tempo Edisi Khusus Antropologi Kuliner Nusantara 1-7 Dec 2014

 

 

Standard
Experience, Liburan Lokal

Baluran, Jawa Timur dan Wisata Lokal

image7

Ini Bukan di Afrika lho, ini Taman Nasional Baluran yang lagi naik daun. letak persisnya antara Situbondo dan Banyuwangi.  Baru akhir bulan Juni sempat main dalam rangka ‘ngangon’ ponakan judulnya, yang plannya pun hanya dalam hitungan hari. Here we go.

Ke Baluran ada 2 pilihan, via Surabaya kemudian nyambung naik mobil ke Baluran, atau via Banyuwangi, terus nyambung mobil ke Baluran. Option 1 naik mobilnya itu sekitar 6-7 jam, dan option 2 hanya 1 jam. Saya ambil option 1 karena ponakan kan belum pernah ke Surabaya jadi kita main dulu ke Surabaya.  Nah yang jadi pertanyaan main apa ya di Surabaya?  Kebun Binatang? hmmmm kan macannya pada kurus, Waterboom? next!  Jadinya kita malah ke pasar Atom karena omnya kepengen makan. Habis kangenan dengan bakwan gili dan jajanan pasar Atom, kita malah maen ke Museum Sampoerna ( i know bad uncle yah malah ajakin ke pabrik rokok ), pertama karena banyak Sejarah, kedua ada demo linting rokok, saatnya nunjukin rokok itu tidak manusiawi, karena buruh rokok sampai kerja seperti robot dan bau cengkeh yang menusuk, untungnya mereka enjoy kontennya, dan tidak enjoy bau cengkeh hehehe success.  Sorenya kita main ke hutan Mangrove dan ke Rumah Batik, sebuah usaha kecil dari pak Syarif Usman, mengumpulkan batik dari penjuru Jawa Timur hingga membuat batik khas Suroboyo. Must visit untuk pecinta Batik. (kalau mau info lengkap, bisa japri)

Perjalanan ke Baluran lumayan jauh, jadi disarankan untuk membawa hiburan untuk anak kalau memilih option 1 seperti saya. Dan untungnya ponakan pada bobo begitu di mobil, dan bangun begitu sudah lapar. Bisa singgah di Situbondo untuk lunch, baru dilanjutkan ke Baluran. Kalau ada niat untuk menginap di dalam Taman Nasional, ada 2 option penginapan, semuanya tanpa AC. Pilihannya di pos 1, Savana Bekol, dan di pos 2, Pantai Bima. Yang harus disadari karena penginapan posisinya di dalam Taman Nasional, tidak ada listrik PLN, jadi listrik hanya ada dari jam 6 sore hingga 11 malam dengan menggunakan genset. Seperti halnya semua penginapan sederhana, semuanya simpel dan basic, jadi manage expectation.

Beberapa hal yang perlu dipersiapakan kalau mau menginap di Baluran : 1. Bawa lilin, korek dan senter. 2. Bawa makanan siap makan, bisa dengan membeli dekat pintu masuk taman 3. Bawa penolak nyamuk/serangga 4.selimut/kain pantai 5.snack/cemilan dan air minum 6.Baju dan sepatu yang nyaman untuk hiking. 7.Topi, sunblock dan kacamata hitam.

Pos 2. Pantai Bima, tempat kita stay, jaraknya 9km dari pintu masuk, nama penginapannya Wisma Pilang, tarifnya hanya 200rb/malam. Bisa muat 5-6 orang, cocok untuk keluarga.

Waktu malam lumayan gelap, jadi enaknya tiduran di pantainya bisa melihat langit yang penuh bintang plus waktu kita menginap, ada tambahan bulan yang hampir purnama. Tidur malam enak juga ditemani debur ombak. Buat yang belum terbiasa dengan tidur di alam bebas (seperti halnya ponakan, dianjurkan membawa earphone, atau speaker kecil, untuk memutar lagu), akan banyak bunyi di luar, mulai dari jangkrik, burung hantu, tikus hingga monyet, jadi tidak perlu kaget, ini hutan bang.

Sunrise bisa dilihat mulai jam 5 pagi, dan pagi merupakan waktu paling tepat untuk menyusuri pantai dan hutan bakau. Pantai Bima lumayan panjang dan bisa diexplore oleh anak-anak, bisa dipakai untuk main air juga karena ombak tenang dan pantai landai. eh ada ayunan juga lho hehehe omnya senang deh.

Pos 1. Savana Bekol Jaraknya 6km dari pintu masuk TN. ditandai dengan adanya kompleks penginapan, untuk yang mencari alternatif penginapan lebih murah,disini dihitung per orang.  Ini adalah bagian TN yang paling banyak diphoto dan beredar di sosmed. Dimulai dari rak yang penuh dengan tengkorak Banteng, hingga pemandangan pohon khas Savana, gunung Baluran hingga kawanan Rusa, Banteng, Kerbau, Jerapah, Monyet, beberapa jenis burung dan mamalia besar lain. Kita diperbolehkan stop disini, tapi mobil tidak bisa masuk wilayah Savana. Jalan di kawasan TN harus lebih awas, karena kita berada di rumahnya satwa liar, jadi jangan buang sampah, jangan bawa barang berlebih, pastikan memakai topi dan bawa air minum. Banyak yang bisa diexplore, mulai dari pohon-pohon, monyet yang iseng (hati-hati dengan topi atau botol minuman, mereka bisa dengan santainya merampas lho), kubangan tempat mamalia besar bermain, juga ada tempat minum mereka yang disediakan oleh pihak TN. Intinya jangan terlalu dekat dengan mamalia besar, cukup diamati dari jauh, jangan iseng untuk mengganggu. Ponakan yang kecil sangat antusias, dia bahkan membawa tabletnya, sibuk memotret bunga liar, binatang kecil, kubangan, binatang kecil, bentuk pohon aneh hingga pemandangan yang memang sangat photogenic.  Udaranya juga enak, walaupun matahari nya sentrong, tapi masih ada angin semilir dan bisa berteduh di pohon yang tersebar di wilayah Savana. Sayang tidak berhasil menemukan Jerapah.

 

TN Baluran tempat yang asik buat yang suka mengamati hewan liar di habitatnya, buat saya istilah little Afrika seh kurang ngerti karena saya belum pernah ke Afrika tapi Baluran memang punya daya pikat sendiri. Trust me on this. I’ll be back.

Sebagai summary, Liburan tidak harus ke luar negeri lho, apalagi untuk anak-anak. terutama kalau liburannya hanya ke singapore atau malaysia, coba deh explore liburan lokal, banyak kok yang seru. Generasi sekarang kita ajak mengenal negaranya sendiri. Tak kenal maka tak sayang kan? Keponakan seh komplain habis, malam gak bisa tidur karena berisik oleh suara penghuni hutan, tidur tanpa AC di homestay hingga naik kereta ekonomi, tapi buat saya itu proses belajar kenal negara kita, tentu saja tidak lengkap kalau tidak makan makanan lokal, mulai dari nasi tempong, bakwan malang, sambal petis hingga depot Djangkrik dan Toko Oen yang legendaris. Bukan urusan saya kalau mereka bisa menikmati atau tidak, biar mereka yang memutuskan sendiri.

PS. option closingnya bisa ke Bali, tinggal menyebrang via Banyuwangi, atua ke Malang seperti saya dengan kereta Ekonomi yang berangkat jam 5 pagi. Malang sendri sekarang punya banyak tempat bermain untuk anak-anak. Tinggal gugling yak.

image2

Standard