Antropologi Populer, Cemilan, Experience, Kuliner Lokal

Kuliner Nusantara dalam 1 porsi

Screen Shot 2016-07-11 at 10.58.11 PMBermula dari libur lebaran yang diisi dengan makan dan makan, plus ngobrol ngolor ngidul dengan sahabat lama, mendaratlah kita di tempat makan yang lagi hits, yang menyajikan Nasi Campur Babi Indonesia, betul BABIK.  Yang kalau dari penampakannya, bisa langsung ngeces kan. Tergolong unik karena belum ada resto sejenis yang menyajikan keanekaragaman makanan indonesia non HALAL yang dimasak dengan serius dan lengkap. Tanpa disebutkan namanya pun, penduduk Jakarta akan dengan mudah menemukan tempat jualnya. Dan yang menariknya pengusaha yang membuka tempat makan ini bukan orang Jakarta, tapi urang Bandung, masih muda dan rasanya intuisi bisnisnya mumpuni.

Kalau harus menganalisa satu persatu makanannya, mungkin saya kurang kompeten, tapi jenis masakannya sangat bervariasi, sangat berani dengan bumbu, mulai dari sejenis rendang batokok basah lengkap dengan sambal merah nan meriah, babi panggang Bali dengan sambal matah yang nendang, babi panggang Karo yang moist, lengkap dengan sambal ijo dan sayur daun singkong teri yang pedas dan menghentak, dan satu-satunya kuliner yang bukan asli Indonesia adalah bacon yang di-coating tepung dan goreng kering, yang harusnya diganti dengan lemak babi goreng kering yang biasa disediakan sebagai condiment di tempat makan bakmi Medan. Secara overall ponten untuk hidangan ini 8.5/10. Patoet Dipoejikeun, kalau mengutip penilaian seorang teman peminat kuliner yang dikenal dengan tukang nyicip.

Langsung teringat diskusi waktu WTF! JS beberapa waktu lalu, semua setuju tidak ada sumber informasi kuliner Indonesia dalam 1 atap, dan memang karena kuliner Indonesia yang begitu luas, hingga tidak bisa ditangani hanya oleh 1 badan, harus dikelola secara kolektif. Pada  tahun 2014 Tempo pernah mengeluarkan edisi khusus antropologi Kuliner Indonesia. yang sampai saat ini menurut saya masih merupakan yang paling runut, rapi dan dihimpun dengan serius. Kuliner dengan pendekatan sejarah, dan perjalanan bumbu, lengkap dengan ulasan ekonomi, politik, dan tentu saja mencicipi langsung makanannya. untuk tulisan ini, Tempo mengerahkan 1 team besar, rasanya pasti lebih dari 100 orang. Sungguh usaha yang serius, sayangnya hanya untuk 1 edisi, bukan yang berkelanjutan.

jalur remoah

Menurut Tempo, jalur rempah Indonesia terbagi menjadi 7, yang mana menjadi garis besar aliran kuliner Indonesia, yang nantinya masih akan pecah lagi menurut geografis, karena misalnya untuk Jalur 2 : Jawa, ada ratusan jenis masakan hanya dari 1 provinsi, yang masih bisa dipilah lagi berdasarkan suku, etnis, waktu dan pengembangannya karena asimilasi dan pergaulan. Bahkan kalau menurut saya Kuliner indonesia kalau dijadikan pendidikan, paling tidak bisa menjadi jurusan, bukan cuma sebagai mata kuliah. Coba bayangkan betapa kaya Kuliner Nusantara. Tidak ada salahnya kita sebagai generasi muda Indonesia mulai membuat pendataan Kuliner Indonesia, supaya generasi mendatang masih bisa menikmati Kuliner Indonesia yang sebagian sudah mulai dilupakan dan siapa tahu sambil melestarikan salah satu budaya Nusantara kita bisa belajar lebih banyak lagi dan mendapatkan manfaat ekonomi seperti urang Bandung yang kreatif membungkus kuliner Babi Nusantara dalam 1 piring? dan harusnya bukan cuma babi kan? Mari Makan.

photo : Tempo Edisi Khusus Antropologi Kuliner Nusantara 1-7 Dec 2014

 

 

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s