Antropologi Populer, Experience, Inspire, Pencarian, Uncategorized

Nodong Tuhan!

Screen Shot 2016-08-08 at 6.14.25 PM

Karena tulisan 1 orang di FB, jadi pengen juga share , tulisan yang SUPERB, link nya ini  https://superhalaman.wordpress.com/2010/09/22/aa-jin-sm-atheis-pietis/

Dari dulu hidup tidak pernah terlalu memperdulikan status agama, kolom agama dulu diisi juga dengan pakem kalau Chinese ya seharusnya Budha. Well, tidak tahu darimana pakem itu, walaupun saya tidak tahu apapun tentang ajaran Budha.

Waktu SD sempat terkspose oleh ajaran Islam karena pelajaran agama di sekolah, diwajibkan ikut sampai harus menghafal ayat-ayat Alquran, sebagaimana halnya pelajaran sekolah lain. Dan untuk penilaiannya bahkan beratas di top 10 kelas, walaupun saya tidak mengerti ajarannya secara benar, tapi saya suka konsep pengontrolan diri waktu puasa dan cerita 25 Nabi yang membuat saya menagih guru agama setiap jam pelajarannya.  Lulus SD dilanjutkan ke sekolah Katolik, dan seperti halnya waktu SD, saya terekpose karena di sekolah tidak ada pelajaran agama Budha yang saya cantumkan di kolom Agama. ( btw di rumah kita diajarkan dengan ajaran Kong Hu Cu dengan banyak adaptasi lokal – aka Palembang, dengan pertimbangan kepraktisan dan kepentingan sosialisasi dengan lingkungan). Sepanjang SMP-SMA saya belajar agama Katolik, bahkan sempat ikut kelas yang intensif, karena cukup tertarik dengan cerita di Alkitab, seperti halnya tertarik dengan kisah 25 Nabi waktu SD.  Saya cukup mengenal Katolik, tapi tidak memahami. Sampai dengan SMA saya masih menganggap diri sebagai Agnostik, percaya Tuhan tapi tanpa label.

Waktu SMA karena hobi membaca membawa saya untuk mencari tahu agama Budha, karena itu selama ini ngakunya kan beragama Budha. Literaturnya cukup terbatas perpustakaan sekolah dulu yang lebih banyak buku cerita ketimbang agama, hingga suatu hari diajak ke Vihara, yang dalam waktu singkat saya di”sah”kan menjadi penganut agama Budha sepenuhnya melalui ibadah aliran Matreiya. Tapi terus terang, saya juga belum memahami Budha sepenuhnya, apalagi ada anggapan nilai ketaatan atau akhlak yang baik ditentukan oleh seberapa rajin mengunjungi Vihara. Lucu aja, masa Ilmu Agama kita ditentukan oleh absensi, mungkin juga karena saya pemalas, jadi membuat asumsi ini.  Tapi saya tertarik menjadi vegetarian hingga menjalaninya selama 1 tahun waktu SMA, simply karena pengen kurus seh dan agak eneg makan daging karena penjelesan bikhu di Vihara soal roda samsara. Ibu berhasil mem-veto stop vegetarian karena kekurangtahuan dalam ber-Vegetarian yang menyebabkan berat badan turun hingga 15kg. Jadilah saya kurus hingga kuliah dan saya tetap malas ke Vihara (hingga sekarang)

Singkat cerita waktu kuliah, dengan pindah ke Jakarta, semua informasi lebih banyak tersedia, dan banyak sekali yang bisa ditanya, buku banyak tersedia dan mengenal ulang Budha dengan angle yang berbeda. Seorang temang memperkenalkan dengan aliran Budha Zen, yang nyeleneh, lalu juga mengenal beberapa pemuka agama Budha seperti Yongyur Rinpoche, Ajahn Chan, dll yang membuka mata ternyata banyak sekali yang mengaku  Budha dan mengagungkan ajaran hanya karena menghafal sutra, pintar mengaitkan ajaran dengan hidup sehari-hari hingga mengaku reinkarnasi Budha tertentu, yang mengaburkan diri dari Inti ajaran Budha. Banyak sekali yang menggunakan Sutra/Rupang/Bikhu/Relik sebagai kebenaran. Heran. (note :saya bukan penganut agama Budha yang baik apalagi pakar ajaran agama Budha)

Dari literatur yang dibaca, saya cuma ngerti hal dasar, kita tidak bisa mengesampingkan fungsi manusia hingga melemparkan semua nasib kita ke tangan Tuhan, Memohon sambil menyandera ketaatan kita untuk kepentingan kita sendiri, apalagi sampai mengimingi-imingi sang Pencipta dengan janji ibadah/doa/nyanyian untuk objektif kita. Logikanya tidak jelas buat saya, kita begitu berani mendikte Beliau untuk kita, apalagi kalau ada yang sampai bisa judge untuk kita hanya karena kita tidak melakukan ibadah/doa/kebiasaan umum karena kita menganut agamanya. Apalagi sekarang ada yang berani mempertanyakan keputusan Tuhan dalam menjalankan dunia, karena kepentingan kita ada yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Surreal bener.

Haduh makin berat yah, mungkin yang paling cocok adalah seperti mbah dalam tulisan teman di atas tadi, Amitaba, Eling dan Sadar diri. Tahu diri, Kita bukan bagian terpenting dari dunia, dan fokus aja bagaimana kita bisa menjadi saluran berkat yang bisa membantu lebih banyak orang tanpa memusingkan apa kepercayaanmu dan apa yang sudah kita perbuat di masa lalu. Amitaba. Amitaba. (dan saya yang ngaku Budhis dan masih malas untuk ke vihara…so judge me! )

ps. mungkin agak diluar konteks, tapi untuk pluralisme, saya rekomen untuk nonton film India, judulnya PK, yang agak diluar pakem, menohok dan satir, yang sambil ketawa miris, itu ada di sekitar kita aau bahkan ikut melakukannya.

Advertisements
Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s