Cemilan, City Escape, Experience, Food Battle, Kuliner Lokal, Liburan Lokal

Kuliner Wajib Halal Palembang bag.2 (Chapter Masakan)

Kalau secara garis besar, masakan Palembang harusnya masuk trah Melayu, tapi karena sejak Jaman Sriwijaya Palembang adalah melting pot, tidak bisa dihindari adanya perpaduan dengan pendatang China dan Arab, plus adanya transmigrasi di tahun 70an, membawa pengaruh Jawa ke tatanan kuliner lokal. Interaksi dengan wilayah sekitar juga memperkaya perbendaharaan kuliner Palembang.

Disclaimer kali ini adalah semua rekomendasi disini adalah masakan yang dianggap trade mark Palembang walaupun bisa saja itu bukan makanan asli Palembang.

RM Pindang Meranjat – Demang Lebar Daun. Resto ini sudah tergolang senior dalam urusan pindang, mengusung pindang tarikan daerah Meranjat yang kuahnya cenderung lebih gelap, kuanya lebih light dari segi bumbu, tapi tetap nendang. Yang paling umum memakai ikan Patin, tapi kalau tersedia ikan Baung, harus dicoba, karena jenis ikan air tawar ini tidak dibudidayakan, jadi secara tektur akan lebih liat. Pindang Udangnya juga layak dicoba. CIri khas lain adalah sambal embem/mangga muda, yang cenderung kecut manis pedas. Menyegarkan sekaligus memuaskan.

RM Sri Melayu – Demang Lebar Daun. Resto ini merupakan tandem dari Meranjat, dengan tempat yang lebih luas dan banyak pilihan setting, dari meja biasa, lesehan hingga pondokan,. Menu juga cenderung lebih lengkap. Pindang adalannya juga serupa, tapi dengan trah pindang ini kuahnya cenderung lebih cerah, bumbunya lebih medok dan kental. Wajar kalau pindang tulang yang cenderung lebih berlemak, tapi tidak menjadi berat karena bumbu dan asam yang mendominasi. Menu favorit saya yang lain adalah ikan seluang goreng, sebenarnya hanya ikan kecil yang biasa mengganggu pemancing di sungai , tapi sedap sekali dipadukan dengan sambal calok (terasi). Buat yang mau coba pepes tempoyak, ikan patin yang dibungkus daun dan dibumbui dengan durian yang difermentasi. Aslinya merupakan masakan khas daerah lahat . Tastenya sedikit aneh buat yang belum terbiasa, tapi ini merupakan menu spesial yang sudah semakin langka.

RM Pagi Sore – Jendral Sudirman/Kol Atmo. Resto legendaris pilihan kedua saya, no.1 seharusnya Sari Bundo, cuma berhubung Sari Bundo sudah tutup, Pagi Sore menjadi incumbent deh. Jenis masakannya adalah Minang Melayu, jadi sekilas kelihatan seperti resto Padang. Kalau dicermati, ada perbedaan mendasar seperti rendang, yang dimasak hingga kering dengan bumbu seperti gumpalan lumpur, penggunaan lauk yang lebih variasi seperti udang, ikan hingga side dishnya. Sambal merah dan hijaunya merupakan bagian tak terlepaskan dari semua masakan lain. Buat yang di Jakarta resto ini bisa ditemukan di Fatmawati.

RM HAR – banyak cabang, diantaranya Kol. Atmo atau Jendral Sudirman. Hanya ada 1 menu, martabak telor dengan kuah kari kambing, Makanan legenda ini berakar dari budaya keturanan Arab di Palembang yang hingga kini sudah dianggap makanan local. Kulit martabak yang diolah hingga lebar, diisi dengan telur bebek dan digoreng dengan minyak samin. Wangi adonan kulit yang digoreng garing sangat cocok dengan kuah kari kambing dengan kentang sebagai saosnya, dan dimakan dengan cabe kecap sebagai penyedap. Ini makanan yang seharusnya illegal, addicted.

martabak-har

RM Sari Nande, Mayor Ruslan. Salah satu pesaing urusan pindang, segala macam kuliner klasik Palembang bisa ditemukan disini. Secara tastenya sangat dekat dengan Sri Melayu, tapi cenderung lebih light. Kuah pindang disajikan dengan burner yang menjaga kuah pindang tetap hangat, taburan kemangi yang menyedapkan dan memberikan aroma khas pindang. Yang menjadi ciri khas mereka diantaranya pepes Belido. Worth to try. Secara personal kalau harus memilih diantara 3 jagoan pindang akan berurut Sri Melayu, Sari Nande, Meranjat.

River View, Benteng Kuto Besak. RM ini masuk review ini bukan karena makanan, cuma karena letak strategis kalau dinner disini viewnya jembatan Ampera.

Mie Celor 26 Ilir, 26 ilir.. Mie celor adalah mie rebus ala Palembang, mie kuning dengan kuah kental kaldu udang dan santan, dengan taburan udang rebus cincang dan telur rebus. Dari sejak kecil tempat ini sudah melegenda, walaupun tempatnya sederhana dan agak jauh dari pusat kota. Kalau waktu kunjungan agak mepet, bisa ke Pujasera Veteran, tapi kurang aware ya cabang resmi atau bukan.

Sebenarnya ada yang harus dicoba juga kalau ke Palembang, jajanan pasar, agak tricky karena belum ada tempat yang menjual seperti halnya Monami di Jakarta, jadi harus ke area pasar, atau kalau mau jam 6-7 pagi ke Lap hatta, ada banyak penjual kue basah. Andalan saya selalu Talam Ebi, Bakcang ketan, Roti Goreng, Susu kacang fresh dan Bongkol.  Selamat hunting makanan di Palembang. Tell me what you think.

All picture are taken from Tripadvisor

Standard
City Escape, Experience, Food Battle, Kuliner Lokal, Liburan Lokal

Kulineran Wajib Palembang Halal bag.1 (Chapter Pempek)

Nah… kalau untuk yang ini malah listnya lebih panjang, secara garis besar adalah pempek dan non pempek J jadi untuk bag 1 nanti akan lebih dibahas pempek dan teman-temannya, baru bag.2 kita bahas yang non pempek. (note: di Palembang sebutannya adalah pempek, bukan mpek2 seperti di Jakarta)

Untuk disclaimer, Lupakan semua pempek yang biasa dijadiin oleh2 kebanyakan turis (C*#dy, R*&en, atau V&*o), rasanya sudah sangat Jakarta, jadi tidak dianggap original, dan karena saya besar di area seberang ilir, jadi akan lebih dominan di wilayah seberang ilir, di seberang ulu mungkin ada yang lebih enak, tapi that’s not my playground (seperti halnya Jakarta Timur buat saya sekarang)

Pempek Ek – Jalan Baru-Dempo Luar. Terkenal sebagai tempat yang menyediakan pempek ikan belido setiap hari, ukurannya termasuk bite size (dibaca imut),dan jangan salah, tempat ini terkenal juga sebagai pempek termahal di Palembang. Tapi percayalah, ada barang ada harga, untuk rasa, harus diacungin 4 jempol, kekenyalan pempeknya pas, rasa ikannya enak dan kuah cukonya mantab. Tanpa sadar sudah habis 10 pempek adaan nya. Model dan Tekwannya juga sangat dipoejikan. Item lain yang harus dicoba juga adalah pangsit ikan, dengan kuah seperti tekwan, kulit pangsitnya dibuat dari bahan pempek, dengan isi udang, yang ini WAJIB. Eits jangan takut kalau temen2/Keluarga di rumah gak bisa ikut nyobain, mereka juga menyediakan take away pack yang bisa dijadikan oleh2, siapin aja duit yang extra

Pempek Dolar – Dempo Dalam. Buat saya pempek tunu (panggang) terenak di Palembang ada disini, pempeknya wangi dan kuah cukonya yang kental dan wangi, dan dengan menulis ini saja langsung terbir air liur. Dan nama Dolar itu sendiri ada alasannya lho…. konon karena ukuran pempeknya sebesar ukuran dolar koin, dan harganya tentunya hahaha (konon lho ya…). Es kacang dan model ikan-nya termasuk lumayan enak, tapi bukan yang terbaik.

Pempek Saga – Depan walkot, jalan Merdeka. Ini adalah versi mutannya Pempek Ek, dengan harga sama dapat versi yang lebih gede, dan rasanya cuma sedikit levelnya dibawah Ek. Secara trah memang beda perguruan, kalau Ek itu anggun seperti putri Solo, kalau Saga itu seperti Putri Sunda yang lebih lugas. Pempek Lenggannya juga enak dan es campurnya termasuk enak, tapi bukan yang terbaik menurut versi saya lho ya.

Pempek Lenny – jalan Petanang, Veteran. Kalau tempat ini sebenarnya jarang didatangi, lebih sering order untuk bawa ke Jakarta, terutama untuk pempek mie dan pistel (seperti kapal selam tapi isi papaya muda yang dimasak dengan ebi dan bawang). Harus yang rebus ya, karena 2 jenis pempek ini lebih nikmat kalau dalam bentuk original. Dan yang paling penting harganya value for money banget. Kapal selamnya juga enak. Gugling aja pasti ketemu no telp nya kok.

Pempek Beringin – Jalan Baru, dempo luar. Kalau menyimak di tulisan kuliner non Halal Palembang, letaknya persis di sebelah Bakmi 88. Punya menu lengkap untuk perpempekan, pempek Tunu dan lenggang pangganya nya termasuk yang enak, dan jangan lupa nyobain menu khas palembang lain seperti celempungan (bola-bola pempek dengan kuah santan berbumbu) atau burgo (terbuat dari tepung beras, dengan tekstur seperti kwetiau dengan kuah santan berbumbu).

Pondok Pujasera – Veteran. Ini semacam foodcourt, kalau tidak banyak waktu dan ingin makan beberapa jenis makanan sekaligus, ini tempat yang harus disantroni. Mulai dari es Mamad yang terkenal di lap. Hatta, Mie Celor 26 ilir, Martabak HAR, pempek wawa, dan masih ada beberapa lagi yang tidak ingat. Praktis dan hemat waktu.

Kalau yang ini diluar konteks per-pempek-an, tapi karena jajanan favorite saya, jadi harus dilist juga deh hehehe

Es asuk koboi – Dempo Luar. Tempatnya dekat dengan mie Aloy, konon merupakan es campur terenak di Palembang, terutama es kacang, cincau, alpukat atau campur. Kacang merahnya super lembut dan manisnya ada sedikit karamel (burn) karena proses masaknya yang lama. Tempatnya kecil dan panas, jadi sebaiknya bungkus, kumpulin beberapa kulineran lalu digelar ditempat yang lebih lega ☺ ps : Senin tutup. Dan diseberang tempat ini ada tempat jual model gandum gerobakan, nah jenis makanan ini agak jarang di Jakarta, silahkan dicoba, murah meriah dan memorable.

Photo courtesy of Arie Parikesit – IG @arieparikesit

Standard
City Escape, Food Battle, Kuliner Lokal, Liburan Lokal, non HALAL

Kulineran Wajib Non Halal Palembang!

 

Pertanyaan paling sering yang ditanyakan teman, ke Palembang itu ngapain sih? Jawaban standard selalu : MAKAN. Tapi nextnya malah jadi lebih ribet karena mulai deh harus list down makanan apa aja yang kudu, wajib untuk disantroni. Secara saya kan penggemar perbabian, jadi tentu kita selalu mulai dari ibab. Berikut pilihan favorite saya, tidak berdasarkan rangking ya.

Mie Terang Bulan (Sin Chiau Lok)– Pasar Sayangan. Ini termasuk bakmi legend, sudah masuk generasi kedua, dan sangat tradisional. Buka tepat jam 4 sore sd 8.30 malam teng, jadi jangan harga bisa order diluar jam tersebut. Menu utamanya Mie, Mie goreng dan pangsing goreng. Mie yang dimaksud adalah bakmi kering, tekstur mie kenyal dengan toping daging babi cincang, dan tentu saja jeruk kunci (kalamansi). Mie gorengnya cenderung agak basah, dengan limpahan daging babi, udang, jeroan dan sayuran, dan cabenya yang cenderung seperti paste, memang tidak ada tiganya. Dan tentunya harus ditemanin dengan pangsing goreng. Pangsit gorengnya beda dengan GM yang rapu, pangsitnya cenderung lebih garing dan isiannya melimpah, dan porsinya tetap 20 pcs, jangan pernah minta porsi lebih kecil, karena pasti akan jutekin “kalau tidak bisa habis, gak usah pesen!’. Keunikan lain kalau pesen mie untuk dibungkus , gak bakalan dibungkusin kuah, kalau mau kuah, harus bawa container sendiri. Dung. But trust me, it’s worth the wait and patience. Harus Sabar yah…..

Mie Aloy – Dempo Luar. Kalau bakmi ini sudah menjamur di Jakarta, tapi sediakan waktu untuk berkunjung, karena yang kita nikmati bukan hanya mie nya, tapi juga pengalamannya. Tempat ini sudah buka dari jam 5 pagi untuk melayani yang suka berolahraga pagi dan sekarang buka hingga malam hari (dulu hanya sampai lunch time). Topingnya juga banyak macam, dari babi cincang, chasiu, rica, dan ayam jamur. Yang istimewa adalah toping untuk kuah, mulai dari segala macam jeroan babi, usus, hati, ginjal, darah hingga macam-macam bakso. Yang harus dicoba juga adalah gohiong. Karena mulai dari konsep kopitiam, tentu ada telur ½ matang dan kopi. Jadi buat saya ini semacam institusi ketimbang sekedar tempat makan. Btw hampir setiap hari si ownernya, Aloi masih ikut meracik mienya lho, just say hi.

Mie Anlok – Pasar buah. Terletak  disudut sebelum pasar buah, tempatnya kecil dan mojok, humble dan homie, hanya ada paling  5 meja. Mie di Palembang normnya adalah kering, tapi disini yang selalu saya order adalah mie kuah. Tekstur mie nya cenderung lebih lembut dibandingkan aloy ataupun terang bulan. Sangat cocok untuk sarapan sambil ditemani es kopi yang menurut saya lebih enak dibandingkan dengan Ta’kie sekarang.

Mie 88 – Jalan Baru- Dempo Luar. Nah ini juga termasuk early riser, kalau mau sarapan jam 6 pagi mereka sudah ready. Seperti halnya Aloy, mereka juga menyediakan macam-macam toping kuah dan asiknya tempat ini bisa sambil pesen pempek d sebelahnya, pempek Beringin, pempek tunu (panggang) nya sangat menggoda. Tekstur mienya lebih lembut dari Terang Bulan, dan cenderung lebih gurih. Kalau mau beli kue-kue pasar juga ada, termasuk talam ebi. Yumm.

RM Tokyo – Sayangan, lorong panglong. Umur tempat ini sudah lama, dan pastinya bertahan karena alasan yang jelas, makanannya cihui. Masakannya adalah klasik Chinese food, termasuk babi lapis, bola udang, ayam pekcamke (ayam rebus) dan jiu chai hua (sayuran, gak nemu bahasa Indonesianya apa). Tempatnya juga masuk gang kecil, jadi disarankan parkir di depan gangnya. Setelah makan disini, kalau masih punya ruang di perut, sepanjang jalan masuk gang adalah china townnya Palembang, jadi banyak makanan enak, di depan gang sebelah kiri ada mie yang tidak ada namanya, termasuk tempat yang sering dikunjungi kalau mau makan cepat dan enak.

Kedai Akiun – Lap Hatta. Suka tempat ini karena spesialisasinya adalah babi panggang Bangka, jadi tidak perlu jauh-jauh ke Bangka kalau lagi ngidam, babi panggangnya dengan bumbu yang masih agak basah nempel di dagingnya, moist tapi garing, plus bagian fatnya tipis, ngomonginnya saja sudah ngiler. Masih ada sate babi dan ngohiong yang patut dipoejikan.

RM Sumber Rasa – Kol Atmo. Sebenarnya makanan babinya tidak terlalu istimewa, cuma untuk makanan ala tio ciu agak jarang di Palembang, bisa jadi alternative yang tidak kalah enak. Sop perut ikan dan Hotplate daging menjangan malah jadi andalan. Bakutnya lumayan, yang agak ribet cuma karena tempatnya kecil dan pelanggan banyak, lebih baik datang untuk early dinner or sekalian agak malaman (jam 8.30 consider malam di Palembang)

PS. karena Palembang kecil, jadi tidak akan susah menemukan tempatnya walaupun tidak detail, tinggal nanya di area tersebut, pasti akan ktemu kok. eits yang asli Palembang jangan protes, ini kan pilihan personal saya 🙂 peace!

 

Standard
City Escape, Experience, Kuliner Lokal

Arti Sepiring Nasi Ayam

Hampir semua chef ternama akan sependapat kalau chef dengan skill dan sense terbaik bisa dinilai dari masakan yang paling sederhana, semakin simple maka akan menunjukan keahiliannya dalam mengolah bahan pilihan menjadi kuliner yang ‘manjain’ dan ‘ngangenin’ lidah dan kalau ditambahkan ke dalam dunia  bisnis harus ada tambahan kata konsisten dan ‘experience’ sehingga bisnis kulinernya akan jadi legendaris.

Contohnya banyak, kalau di Jogja orang lokal akan menunjuk ko diam, legenda nasgor yang simple dengan waktu tunggu standard 1 jam, atau Yu Djum, Gudeg Jogja tidak akan seterkenal sekarang kalau tidak dengan dibuat jadi standard dan simple. atau gres & ben akan setuju dengan bakmie nya Mbah Mo, yang dimasak dengan kasih dan anglo. dan akan muncul nama lain yang segera jadi daftar  panjang karena setiap orang punya jagoannya. Monggo lho ditambahkan sendiri.

Tapi untuk ini spesifik akan dibahas soal Nasi Ayam Hainam, terus terang agak sebel ya kalau hidangan yang sederhana ini kok ya di Jakarta tidak ada yang cetar, konon di Sing yang paling enak dan mahal ada di chatter box, yang kalau disini tidak lebih dari hidangan standar, atau konon Pandor punya nasi yang cihui, yang ternyata nasinya kurang gurih dan ayamnya agak lari dari pakem Nasi Ayam Hainam idaman. Mungkin harus disamakan persepsi dulu, pakem Nasi Ayam  Hainam yang enak adalah dengan nasi yang harum, paduan kaldu, jahe, bawang putih dengan tampilan nasi yang lembab tapi tidak pulen, masih terberai seperti halnya nasi padang. Untuk Ayamnya kulitya harus cenderung pucat, tekstur kulit halus dan daging ayamnya lembut dan wangi. Paduan ayam yang aromatik tapi juga tidak menutupi rasa dagingnya, lengkap dengan kuah siraman yang cenderung menjadi pelengkap rasa, bukan yang medok menutupi semua rasa ayamnya.  Pencarian ayam hainam di Jakarta semua berakhir dengan komen, enaknya seh, tapi bla bla bla bla.. seperti katanya ciptaan Tuhan tidak ada yang enak sempurna. Sigh..

Dan begitu ada kesempatan balik ke Sing, questnya cuma 1, nyari Nasi Ayam Hainam, yang konon paling enak, namanya Tian Tian di Maxwell Foodcourt di China Town. Wait… sebelum berargumen lapak lain, ini memang dicari yang ada di hawker center, bukan resto dengan label harga cafe. Singkatnya, stall ini kecil, hanya 2 petak dari ukuran standarnya hawker di Sing, tapi antriannya lumayan lama, sekitar 50-60 customer lain di depan, plus sesudah kita selesai antri, masih ada jumlah kurang lebih sama di belakang.

Mari kita bandingkan dari sisi harga, 1 porsi nasi Ayam Hainam $5.50 atau 53rb IDR. Lumayan Mahal ya… terutama karena pembandingnya adalah Nasi Campur Babi lengkap dengan bebek panggang standar hanya $3.5. Secara harga sudah premium. Tapi dengan antrian dalam 1 jam lebih dari 120 customers antri, yang semuanya beli lebih dari 1 porsi, seharusnya harganya tidak masalah.

Dan apalagi kalau sudah mencoba ayamnya, rasanya harganya plus antrian 30-60menit, rasanya sepadan seh. Tidak heran mereka bisa bertahan, walaupun digempur dengan jenis makanan baru, belum lagi persaingan sesama nasi ayam, bisa dibilang quest mencari Nasi Ayam Hainam sempura boleh dikatakan sukses, saya menemukan 1. Tian Tian. Tampilan Ayam yang begitu sederhan dan garnisnya pun  hanya sedikit ketumbar dan kuah kental. Semua gambaran ayam rebus sempurna, kulitnya halus dan lembut, daging empuk dan wangi ringan kombinasi jahe, bawang putih dan daging ayam.Nasinya juga juarak… tidak lengket, ringan dan cocok dg kuahnya. Semua begitu sederhana, polos, tapi memberikan komibinasi dengan ponten 10. Ke sing pasti akan diabsen lagi deh, untuk mengecek konsistensi sehingga bisa mengalami experience yang sama dengan orang Sing lokal. #halah

IMG_9489

PS : dalam gambar adalah whole chicken, harganya 24$, btw utk harga nasinya 70cent

Standard
City Escape, Experience

Kembali sejenak ke hidup ‘Pertanian’

Nama BSP farm sudah saya tahu sejak awal tahun, tapi tidak ada kesempatan untuk menyambangi salah satu bentuk ultimate dream saya (amien!), pertanian organik yang dilengkapi dengan fasilitas kemping mewah dan perkenalan dengan gaya hidup organik.

Terletak di kaki gunung salak dan sebelahan dengan pintu masuk taman nasional gunung halimun, membuat tempat ini spesial, masyatakat sekitar mengenalnya dengan nama Kapol. Lahan ex PTP yang dirubah fungsi menjadi perkebunan multi.

Point of interestnya :

area kemping yang lega dan bersih, plus ada MCK permanen dan makanan yang sudah tersedia pada waktunya. PLUS menghadap ke arah sunset dengan latar belakang gunung Gede.  PS. area kemah juga dekat (dan di bawah) pohon duren, siapa tahu “kejatuhan” rejeki nomplok.

perkebunan organik dengan pilihan sayur dan herbs yang ektensif, mulai dari daun pepaya hingga endives, you name it. kita juga diajak untuk melihat proses penanaman organik mulai dari pembibitan hingga panen dan membeli sayuran segar waktu pulang

Hiking kebun teh dan kebun kopi. Aktivitas ini bisa jadi option buat keluarga, mengajak anak untuk mulai mengenal alam, dan buat nyari keringat dikit, dengan bonus pemandangan gunung gede yang majetic waktu pagi. plus akan diajak ke kebun salak, dan kita diperbolehkan mengambil salak sesukanya, bener sesukanya, kita bahkan sambil mengeluarkan tas kresek, tadaaaaa 1 kilo deh. Nyesel kan pak?? hehe ps. akan banyak nyamuk, dianjurkan untuk bawa obat anti nyamuk.

Taman Nasional Gunung Halimun. Nah ini buat yang nyari tantangan hiking lebih. Dengan membayar 15rb/org, kita akan menikmati track hiking yang lumayan nanjak, terutama menjelang air terjun. Beberapa yang menarik disini seperti area perkemahan hutan pinus, kandang elang Jawa (sayang bukan di habitatnya) dan air terjun. Air terjunnya sendiri terdiri dari 3 bagian, dan senangnya disaat semua aliran sungainya masih jernih dan airnya bisa diminum langsung (tapi tidak dianjurkan seh 🙂  total waktu tracking 1 jam (santai) sampai dengan air terjun – 1.2Km total.

Untuk bagian utama penginapannya sangat terawat dan bersih, kamarnya juga sangat fungsional, sukak dengan pemakaian palet sebagai ranjang dan sofa di ruang tamu club house, bisa tiduran sambil ngobrol, ngopi, ngeteh dan gorengan combronya endes merendes. Kalau bisa request semurnya pak Richard. Cihui lho.

dan yang paling utama, bangun pagi! dan ini rewardnya! so gonna be back again, anyone?

IMG_5541

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Standard