Do It Yourself, Entrepreneur, Experience, Uncategorized

Battle of Comfort VS ‘whatever’-preneur

 

Screen Shot 2016-06-07 at 1.33.02 PM

Sudah sering kan dengar teman atau temanya teman atau yang share di sosmed mengeluh soal kerja atau kerjaan, mulai dari merasa tertekan karena kerjaan, rekan kerja, atau bahkan karena bos (tentunya), belum lagi load kerjaan, jenis kerjaan hingga alasan lain yang kadang membuat alis kanan mendelik.. (gak enak, kantornya di mall!!) Menurut ngana?

Dan rasanya juga sudah sangat umum kalau mendengar komprominya, ya udah toh, kerjaan sekarang susah dicari, anak masih perlu susu/sekolah/makan, kasian istri/mertua/orangtua, dsb hingga dia akan tetap stay di kerjaannya, takut mencoba hal yang dia lebih suka/prefer dan terus mengeluh sebagai solusinya. Klasik.

Atau mungkin ada yang mendengar temannya itu nekad keluar dari kerjaannya, entah itu merintis usaha sendiri atau jadi freelance/konsultan/advisor, langsung semua bersorak entah mewakili ketertindasan sendiri atau secara tidak langsung nyinyir liat aja situ tahan berapa lama, intinya semua menyatakan salut atas inisiatif dan keberaniannya untuk keluar dari comfort zone dan mulai menjalani apa yang menjadi passionnya. Familiar?

Well, dari hasil ngobrol dan ikutan ngambil jalur ke-2, ada kesimpulannya, untuk apapun alasannya mulai menjalani passion atau stay di comfort zone, harus jelas sebenarnya apa yang kita kejar. Semua option itu ada konsekuensinya, dan kalikan resiko itu hingga 5-10x dari yang dibayangkan, kalau sudah siap menerima, silahkan ambil pilihannya.

Mungkin yang bisa dishare soal ‘whatever’preneur, coba deh mulai dari hal paling simpel, mau nyari apa sik? jangan sampai kejeblos sebelum mengenal lebih jauh. Dan pleaseeee… jangan ganti haluan hanya karena mentok di kantor atau  sebagai pelarian karir. Coba deh cari tahu dulu apa yang menjadi passion. gali lebih dalam, ngobrol dengan yang sudah lebih senior, cari tahu literaturnya, praktekan bahkan kalau memungkinkan coba mulai dari skala kecil. Kalau sudah mulai mantap dengan passionnya, boleh mulai branding diri, buat asosiasi passion itu dengan kita, mulai dari sosmed, lingkungan kerja bahkan sosial. Jadi kalau ada yang mau tau hal related dengan passion itu, kita akan dikenal sebagai at least enthusiast nya. Ini yang saya petik dari event WTF Jalansutra minggu lalu.

Dan follow your passion is great, tapi yang lebih great lagi, responsible for your choice and live it like no tomorrow. At the end, gak penting orang ngomong apa tentang lo, yang jalanin dan hidupkan lo sendiri. Got it? cuss

Screen Shot 2016-06-07 at 1.27.06 PM

Update : dan ternyata ada video yang related neh dari Joe Silva, check it out

How to find your passion

Speaker: Jason Silva
Original Video: https://youtu.be/HScOL_aOMrw
Jasons Facebook Video:https://www.facebook.com/jasonlsilva/videos/1700545290209749/

 

 

Advertisements
Standard
Cemilan, Do It Yourself, Kuliner Lokal

POPCORN bumbu RENDANG

Yes…. Gak salah bacak… Popcorn dengan rasa bumbu rendang. Idenya pop up begitu buat rendang kemarin dan memanfaatkan sisa bumbu rendang di panci untuk pasta dg bumbu rendang.
Adaptasi rendangnya simple aja, smell and taste, tapi gak perlu santan atau krim.
Bahan : jagung popcorn, garam cabe ( neh buat dari cabe giling dan garam, trus diemin sampe kering), bumbu rendang bubuk, ketumbar bubuk dan butter, pan anti lengket dan tutup panci seukuran pan (dari kaca lebih baik)

Cara buat:
1. Lelehkan butter, untuk banyaknya popcorn patokannya simpel, cukup sampai basahin semua popcorn. Api kecil.
2. Panaskan tetap dg api kecil 2-3 menit dan pan ditutup dengan tutup panci.
3. Setelah jagung agak berubah warna, masukan semua bumbu bubuk, aduk rata.
4. Masukan garam cabe terakhir, aduk kembali.
5. Besarkan api ke sedang, tutup kembali tutup pan, goyang secara regular.
6. Dalam 5 menit kedepan, jagung akan mulai meletup, tetap goyang pan supaya jagung yang belum meletup tetap di bawah.
7. Jika pan sudah penuh, matikan api, diamkan sejenak sampai letupan berakhir.
8. Selamat menikmati
IMG_7044

Standard
Cemilan, Do It Yourself, Experience, General

Crack the COLD BREW

Karena mulai rajin main IG baru-baru ini, saya mulai follow beberapa cafe yang lagi hitz, dan mereka mulai memperkenalkan minuman kopi yang judulnya COLD BREW. What the hack is that? Sounds so sophasticated.
Dan setelah minta petunjuk mbah gugel, baru ngerti itu sebenarnya salah satu cara untuk ekstrak kopi selain cara lazim dengan air panas. Dan ternyata simpel banget! dan dijanjikan rasa yang lebih smooth, gak ‘jegrak’ karena ini gentle proses.
Setelah baca dan nyobain beberapa resep dari gugel, akhirnya ketemu COLD BREW yang disuka.
Alat yang diperlukan : gelas/pitcher, saringan / coffe filter tergantung jenis kopi dan kesabaran 🙂
Caranya.
1. Gunakan kopi yang digiling halus atau fine grind, supaya proses ekstrasi lebih mudah. Yang sudah pernah saya coba kopi toraja dan kopi bali (courtesy of INADRINK).
2. Takaran untuk ‘biang’ kopinya 1:4.
1 bagian kopi, 4 bagian air.

2015/02/img_6980.jpg

3. Gunakan air suhu ruang, jangan air hangat. kalau air hangat nantihad akhir kopi akan bau apek. Setelah dicamput air, aduk hingga semua bagian kopi basah dan tercampur.

2015/02/img_6981.jpg

4. Diamkan selama 12 jam dalam suhu ruang (yesss nunggu 12 jam.. Sighh) Setelah 12 jam aduk campuran kopi, lalu saring dg saringan metal (french press kalau ada) kalau saya pakai saringan teh, lalu saring lagi dengan yang lebih halus pori2 filernya, bisa dengan filter paper atau praktianya pakai saja kain biasa (me just being practical here 🙂

2015/02/img_6982.jpg

5. Hasilnya kopi yang kelihatan ‘santai’ tapi trust me, it’s strong. Kalau saya hasil COLD BREW ini masih dilarutkan lagi. Dan bisa disimpan di lemari es untuk 10 hari dalam wadah tertutup.

2015/02/img_6983.jpg

Untuk es kopi, tambahkan gula sesuai selera, tambahkan air dengan perbandngan 1:1. Es kopi siap dinikmati. Bisa juga ditambahkan susu atau dijadikan kopi jelly. ( belum ada resepnya, nanti yak}. Now you can sit back and enjoy your ice coffee. Salam kopi.

2015/02/img_6970.jpg

Standard