Antropologi Populer, Entrepreneur, Experience, General, Inspire, Uncategorized

Moment!

Mungkin ini tema yang ditulis ulang ke-2 kali, tapi memang minggu lalu seperti ada desakan untuk nulis ulang. Saat semua orang sibuk mempertanyakan keabsahan penistaan, mayoritas minoritas, saya setuju mendingan kita posting yang positif saja. Bukan soal denial, cuma tidak mau ikutan terlibat dalam lingkaran setan saja. Dimulai dari postingan salah satu researcher handal yang mempertanyakan eksistensi diri, apa sih yang sudah kita perbuat untuk orang yang lebih banyak. Dug. langsung nusuk ulu hati seh. Tengkiu lho ri.

Lalu pas kemarin pindah2 channel TV karena bosan, ketemu talkshow di salah satu TV yang tidak pernah ditonton, ada tajuk female zone, dengan bintang tamu seorang ibu yang memperjuangkan listrik sudah dari 25 tahun yang lalu dengan julukan perempuan pembawa terang, perjuanganya masih jauh dari selesai dan masih tetap sangat positif. Di Indoneaia mungkin kurang dikenal, tapi dunia internasional sudah mengakuinya, bahkan beliau sudah pernah diundang ketemu Obama hingga ke World Economic Forum. Salah satu nasehatnya ( tidak exact, tapi ini yang saya tangkap): tetap saja berbuat baik, tidak pelu pusing soal orang gosipin atau jahatin kamu, percayalah hal-hal baik akan mengikuti kamu.

dan Pas weekend kemarin, ada 2 pertemuan dnegan 2 grup temen yang berbeda, dan baru terasa ya moment itu super cepat berlalu. Tadinya baby yang masih digendong, ileran dan tidur di pelukan, kini mau digendong aja sudah gak kuat, sudah jadi bocah 5 tahun dengan berat lebih dari 20kg.  Lalu ke perkawinannya seorang sahabat. Yang dulu waktu kita baru main bareng, tuh adenya baru masuk SMU, masih culun, dan kini sudah siap menjadi bapak untuk keluarganya. Mungkin yang menjadi pertanyaan nanti, seberapa kali lagi yah kita bisa ketemuan?  Baru sadar kalau kata bijak. “Don’t counting your things , Count Your Moments” bener banget.

Kembali ke masalah eksistensi, sighhh… langsung pengen ngeles ala matrix, langsung refleks itu harusnya kerjaan orang yang lebih mumpuni, apalah guwehhhh… Dulu pernah baca 1 buku pengembangan kepribadian, dimulai dengan pertanyaan ” Seandainya kamu mampir ke pemakaman sendiri, dan temanmu sedang memberikan testimonial tentang kamu, apa yang akan diceritakan oleh dia?”

Sampai detik ini, masih belum bisa menjawabnya. Dung.

Standard
Entrepreneur, Food Battle, General, Global Issue, Inspire, Uncategorized

Belanja Sayuran Segar di pasar Tradisional (online) bag. 2

2 tahun yang lalu, dunia startup Indonesia masih sepi adem ayem, tapi sudah lahir inovasi untuk belanja sayuran tradisional via online, dan per hari ini, syukurlah sudah lahir banyak produk inovasi pertanian yang sangat pro konsumen dan petani, sehingga 2 pihak utama yang merupakan motor demand dan supply  bisa memainkan perannya dengan lebih baik, tanpa adanya tangan lain yng selama ini menjadi penentu trend demand dan supply.  Sementara adik-adiknya terus memberikan produk inovasi, sebagai pioneer pasarminggu.co malah sepertinya jalan di tempat dan terlena dengan model bisnis yang menurut saya masih seperti saat launch. Sayang sekali.

Ada 2 produk yang menurut saya keren, dan semuanya dilahirkan oleh profesional muda yang prihati dengan problem pertanian Indonesia.

Kecipir.com  

screen-shot-2016-10-21-at-12-34-20-pm                                                                                                                              konsepnya adalah semua produk dasarnya adalah organik, jadi tidak ada alasan kalau produk organik itu mahal, caranya ya dengan membuat sebanyak mungkin petani menanam organik sehingga harganya akan turun mendekati harga pertanian konvensional. Konsep ini tercermin dari harga produk organiknya sangat murah, sudah mendekati produk sayuran segar yang ada di pasar tradisional. Konsep distribusi dengan menggunakan agen yang tersebar di semua wilayah Jakarta juga sangat unik dan memberikan kesempatan penambahan pendapatan (dan jaminan suplai sayur segar organik) buat ibu rumah tangga, begitu juga dengan supplai yang didapat dari petani yang tersebar di seputaran Jakarta. Produk lokal, dijual lokal, Brilliant!

Dengar-dengar Tantyo, sang founder lagi mempersiapkan produk barunya, semacam pemberdayaan konsumen untuk mendukung permodalan petani (crowd funding) jadi lengkap sudah siklus bisnisnya, petani dimodalin dari konsumen, jadi tidak perlu ngutang ke tengkulak dan terpaksa melepas hasil pertaniannya dengan harga tengkulak, dan konsumen mendapatkan produk segar dan harga yang tidak diinflasi oleh rantai distribusi hasil pertanian yang tidak efisien. Hmm ditunggu yak pak Tantyo.

Limakilo.id

screen-shot-2016-10-12-at-3-13-43-pm

Kalau limokilo ini bermula dari keprihatinan ketika konsumen membeli bawang merah, harganya mahal dan produknya sudah tidak segar. Jadilah dibuat riset ternyata untuk membeli langsung ke petani minumal pembelian adalah 5kg untuk retail, makanya namanya limakilo (cmiiw). Intinya juga sama seperti dengan kecipir, memotong jalur distribusi produk pertanian Indonesia yang tidak efisien.

Limakilo sendiri dilahirkan oleh 3 anak muda dan dibidani oleh kompetisi Hacketon 2015. Yang membuat salut adalah ketiganya tidak ada latar belakang pertanian atau bisnis pertanian, tapi dimulai keprihatianan dan keinginan untuk membuat suatu perubahan, dan kalau ditekuni dengan serius, dan dukungan teknologi dan dana, bisnis model ini sangat mungkin untuk melakukan sesuatu yang mungkin belum terjamah oleh pemerintah.

Summary: sebagai konsumen, kita sudah mulai dimanjakan oleh produk-produk yang dilahirkan oleh anak Indonesia yang tidak hanya berdiam diri dan mengeluh, tapi langsung terjun membuat perubahan (dan menghasikan uang!) Peran kita?? ya.. support mereka, dengan membeli atau ikut menjadi pemodal, jadi bukan inisiatif anak muda Indonesia itu bukan hanya Gojek lho. Percayalah Pertanian dan Infrastruktur akan memegang kunci keberhasilan pembangunan Indonesia 20 tahun kedepan. Mark my words.

image : dari website kecipir.com dan limakilo.id, dan cover dari beritasatu.com

Standard
Do It Yourself, Entrepreneur, Experience, Uncategorized

Battle of Comfort VS ‘whatever’-preneur

 

Screen Shot 2016-06-07 at 1.33.02 PM

Sudah sering kan dengar teman atau temanya teman atau yang share di sosmed mengeluh soal kerja atau kerjaan, mulai dari merasa tertekan karena kerjaan, rekan kerja, atau bahkan karena bos (tentunya), belum lagi load kerjaan, jenis kerjaan hingga alasan lain yang kadang membuat alis kanan mendelik.. (gak enak, kantornya di mall!!) Menurut ngana?

Dan rasanya juga sudah sangat umum kalau mendengar komprominya, ya udah toh, kerjaan sekarang susah dicari, anak masih perlu susu/sekolah/makan, kasian istri/mertua/orangtua, dsb hingga dia akan tetap stay di kerjaannya, takut mencoba hal yang dia lebih suka/prefer dan terus mengeluh sebagai solusinya. Klasik.

Atau mungkin ada yang mendengar temannya itu nekad keluar dari kerjaannya, entah itu merintis usaha sendiri atau jadi freelance/konsultan/advisor, langsung semua bersorak entah mewakili ketertindasan sendiri atau secara tidak langsung nyinyir liat aja situ tahan berapa lama, intinya semua menyatakan salut atas inisiatif dan keberaniannya untuk keluar dari comfort zone dan mulai menjalani apa yang menjadi passionnya. Familiar?

Well, dari hasil ngobrol dan ikutan ngambil jalur ke-2, ada kesimpulannya, untuk apapun alasannya mulai menjalani passion atau stay di comfort zone, harus jelas sebenarnya apa yang kita kejar. Semua option itu ada konsekuensinya, dan kalikan resiko itu hingga 5-10x dari yang dibayangkan, kalau sudah siap menerima, silahkan ambil pilihannya.

Mungkin yang bisa dishare soal ‘whatever’preneur, coba deh mulai dari hal paling simpel, mau nyari apa sik? jangan sampai kejeblos sebelum mengenal lebih jauh. Dan pleaseeee… jangan ganti haluan hanya karena mentok di kantor atau  sebagai pelarian karir. Coba deh cari tahu dulu apa yang menjadi passion. gali lebih dalam, ngobrol dengan yang sudah lebih senior, cari tahu literaturnya, praktekan bahkan kalau memungkinkan coba mulai dari skala kecil. Kalau sudah mulai mantap dengan passionnya, boleh mulai branding diri, buat asosiasi passion itu dengan kita, mulai dari sosmed, lingkungan kerja bahkan sosial. Jadi kalau ada yang mau tau hal related dengan passion itu, kita akan dikenal sebagai at least enthusiast nya. Ini yang saya petik dari event WTF Jalansutra minggu lalu.

Dan follow your passion is great, tapi yang lebih great lagi, responsible for your choice and live it like no tomorrow. At the end, gak penting orang ngomong apa tentang lo, yang jalanin dan hidupkan lo sendiri. Got it? cuss

Screen Shot 2016-06-07 at 1.27.06 PM

Update : dan ternyata ada video yang related neh dari Joe Silva, check it out

How to find your passion

Speaker: Jason Silva
Original Video: https://youtu.be/HScOL_aOMrw
Jasons Facebook Video:https://www.facebook.com/jasonlsilva/videos/1700545290209749/

 

 

Standard