Antropologi Populer, Entrepreneur, Experience, General, Inspire, Uncategorized

Moment!

Mungkin ini tema yang ditulis ulang ke-2 kali, tapi memang minggu lalu seperti ada desakan untuk nulis ulang. Saat semua orang sibuk mempertanyakan keabsahan penistaan, mayoritas minoritas, saya setuju mendingan kita posting yang positif saja. Bukan soal denial, cuma tidak mau ikutan terlibat dalam lingkaran setan saja. Dimulai dari postingan salah satu researcher handal yang mempertanyakan eksistensi diri, apa sih yang sudah kita perbuat untuk orang yang lebih banyak. Dug. langsung nusuk ulu hati seh. Tengkiu lho ri.

Lalu pas kemarin pindah2 channel TV karena bosan, ketemu talkshow di salah satu TV yang tidak pernah ditonton, ada tajuk female zone, dengan bintang tamu seorang ibu yang memperjuangkan listrik sudah dari 25 tahun yang lalu dengan julukan perempuan pembawa terang, perjuanganya masih jauh dari selesai dan masih tetap sangat positif. Di Indoneaia mungkin kurang dikenal, tapi dunia internasional sudah mengakuinya, bahkan beliau sudah pernah diundang ketemu Obama hingga ke World Economic Forum. Salah satu nasehatnya ( tidak exact, tapi ini yang saya tangkap): tetap saja berbuat baik, tidak pelu pusing soal orang gosipin atau jahatin kamu, percayalah hal-hal baik akan mengikuti kamu.

dan Pas weekend kemarin, ada 2 pertemuan dnegan 2 grup temen yang berbeda, dan baru terasa ya moment itu super cepat berlalu. Tadinya baby yang masih digendong, ileran dan tidur di pelukan, kini mau digendong aja sudah gak kuat, sudah jadi bocah 5 tahun dengan berat lebih dari 20kg.  Lalu ke perkawinannya seorang sahabat. Yang dulu waktu kita baru main bareng, tuh adenya baru masuk SMU, masih culun, dan kini sudah siap menjadi bapak untuk keluarganya. Mungkin yang menjadi pertanyaan nanti, seberapa kali lagi yah kita bisa ketemuan?  Baru sadar kalau kata bijak. “Don’t counting your things , Count Your Moments” bener banget.

Kembali ke masalah eksistensi, sighhh… langsung pengen ngeles ala matrix, langsung refleks itu harusnya kerjaan orang yang lebih mumpuni, apalah guwehhhh… Dulu pernah baca 1 buku pengembangan kepribadian, dimulai dengan pertanyaan ” Seandainya kamu mampir ke pemakaman sendiri, dan temanmu sedang memberikan testimonial tentang kamu, apa yang akan diceritakan oleh dia?”

Sampai detik ini, masih belum bisa menjawabnya. Dung.

Standard
Cemilan, City Escape, Experience, Food Battle, Kuliner Lokal, Liburan Lokal

Kuliner Wajib Halal Palembang bag.2 (Chapter Masakan)

Kalau secara garis besar, masakan Palembang harusnya masuk trah Melayu, tapi karena sejak Jaman Sriwijaya Palembang adalah melting pot, tidak bisa dihindari adanya perpaduan dengan pendatang China dan Arab, plus adanya transmigrasi di tahun 70an, membawa pengaruh Jawa ke tatanan kuliner lokal. Interaksi dengan wilayah sekitar juga memperkaya perbendaharaan kuliner Palembang.

Disclaimer kali ini adalah semua rekomendasi disini adalah masakan yang dianggap trade mark Palembang walaupun bisa saja itu bukan makanan asli Palembang.

RM Pindang Meranjat – Demang Lebar Daun. Resto ini sudah tergolang senior dalam urusan pindang, mengusung pindang tarikan daerah Meranjat yang kuahnya cenderung lebih gelap, kuanya lebih light dari segi bumbu, tapi tetap nendang. Yang paling umum memakai ikan Patin, tapi kalau tersedia ikan Baung, harus dicoba, karena jenis ikan air tawar ini tidak dibudidayakan, jadi secara tektur akan lebih liat. Pindang Udangnya juga layak dicoba. CIri khas lain adalah sambal embem/mangga muda, yang cenderung kecut manis pedas. Menyegarkan sekaligus memuaskan.

RM Sri Melayu – Demang Lebar Daun. Resto ini merupakan tandem dari Meranjat, dengan tempat yang lebih luas dan banyak pilihan setting, dari meja biasa, lesehan hingga pondokan,. Menu juga cenderung lebih lengkap. Pindang adalannya juga serupa, tapi dengan trah pindang ini kuahnya cenderung lebih cerah, bumbunya lebih medok dan kental. Wajar kalau pindang tulang yang cenderung lebih berlemak, tapi tidak menjadi berat karena bumbu dan asam yang mendominasi. Menu favorit saya yang lain adalah ikan seluang goreng, sebenarnya hanya ikan kecil yang biasa mengganggu pemancing di sungai , tapi sedap sekali dipadukan dengan sambal calok (terasi). Buat yang mau coba pepes tempoyak, ikan patin yang dibungkus daun dan dibumbui dengan durian yang difermentasi. Aslinya merupakan masakan khas daerah lahat . Tastenya sedikit aneh buat yang belum terbiasa, tapi ini merupakan menu spesial yang sudah semakin langka.

RM Pagi Sore – Jendral Sudirman/Kol Atmo. Resto legendaris pilihan kedua saya, no.1 seharusnya Sari Bundo, cuma berhubung Sari Bundo sudah tutup, Pagi Sore menjadi incumbent deh. Jenis masakannya adalah Minang Melayu, jadi sekilas kelihatan seperti resto Padang. Kalau dicermati, ada perbedaan mendasar seperti rendang, yang dimasak hingga kering dengan bumbu seperti gumpalan lumpur, penggunaan lauk yang lebih variasi seperti udang, ikan hingga side dishnya. Sambal merah dan hijaunya merupakan bagian tak terlepaskan dari semua masakan lain. Buat yang di Jakarta resto ini bisa ditemukan di Fatmawati.

RM HAR – banyak cabang, diantaranya Kol. Atmo atau Jendral Sudirman. Hanya ada 1 menu, martabak telor dengan kuah kari kambing, Makanan legenda ini berakar dari budaya keturanan Arab di Palembang yang hingga kini sudah dianggap makanan local. Kulit martabak yang diolah hingga lebar, diisi dengan telur bebek dan digoreng dengan minyak samin. Wangi adonan kulit yang digoreng garing sangat cocok dengan kuah kari kambing dengan kentang sebagai saosnya, dan dimakan dengan cabe kecap sebagai penyedap. Ini makanan yang seharusnya illegal, addicted.

martabak-har

RM Sari Nande, Mayor Ruslan. Salah satu pesaing urusan pindang, segala macam kuliner klasik Palembang bisa ditemukan disini. Secara tastenya sangat dekat dengan Sri Melayu, tapi cenderung lebih light. Kuah pindang disajikan dengan burner yang menjaga kuah pindang tetap hangat, taburan kemangi yang menyedapkan dan memberikan aroma khas pindang. Yang menjadi ciri khas mereka diantaranya pepes Belido. Worth to try. Secara personal kalau harus memilih diantara 3 jagoan pindang akan berurut Sri Melayu, Sari Nande, Meranjat.

River View, Benteng Kuto Besak. RM ini masuk review ini bukan karena makanan, cuma karena letak strategis kalau dinner disini viewnya jembatan Ampera.

Mie Celor 26 Ilir, 26 ilir.. Mie celor adalah mie rebus ala Palembang, mie kuning dengan kuah kental kaldu udang dan santan, dengan taburan udang rebus cincang dan telur rebus. Dari sejak kecil tempat ini sudah melegenda, walaupun tempatnya sederhana dan agak jauh dari pusat kota. Kalau waktu kunjungan agak mepet, bisa ke Pujasera Veteran, tapi kurang aware ya cabang resmi atau bukan.

Sebenarnya ada yang harus dicoba juga kalau ke Palembang, jajanan pasar, agak tricky karena belum ada tempat yang menjual seperti halnya Monami di Jakarta, jadi harus ke area pasar, atau kalau mau jam 6-7 pagi ke Lap hatta, ada banyak penjual kue basah. Andalan saya selalu Talam Ebi, Bakcang ketan, Roti Goreng, Susu kacang fresh dan Bongkol.  Selamat hunting makanan di Palembang. Tell me what you think.

All picture are taken from Tripadvisor

Standard
City Escape, Experience, Food Battle, Kuliner Lokal, Liburan Lokal

Kulineran Wajib Palembang Halal bag.1 (Chapter Pempek)

Nah… kalau untuk yang ini malah listnya lebih panjang, secara garis besar adalah pempek dan non pempek J jadi untuk bag 1 nanti akan lebih dibahas pempek dan teman-temannya, baru bag.2 kita bahas yang non pempek. (note: di Palembang sebutannya adalah pempek, bukan mpek2 seperti di Jakarta)

Untuk disclaimer, Lupakan semua pempek yang biasa dijadiin oleh2 kebanyakan turis (C*#dy, R*&en, atau V&*o), rasanya sudah sangat Jakarta, jadi tidak dianggap original, dan karena saya besar di area seberang ilir, jadi akan lebih dominan di wilayah seberang ilir, di seberang ulu mungkin ada yang lebih enak, tapi that’s not my playground (seperti halnya Jakarta Timur buat saya sekarang)

Pempek Ek – Jalan Baru-Dempo Luar. Terkenal sebagai tempat yang menyediakan pempek ikan belido setiap hari, ukurannya termasuk bite size (dibaca imut),dan jangan salah, tempat ini terkenal juga sebagai pempek termahal di Palembang. Tapi percayalah, ada barang ada harga, untuk rasa, harus diacungin 4 jempol, kekenyalan pempeknya pas, rasa ikannya enak dan kuah cukonya mantab. Tanpa sadar sudah habis 10 pempek adaan nya. Model dan Tekwannya juga sangat dipoejikan. Item lain yang harus dicoba juga adalah pangsit ikan, dengan kuah seperti tekwan, kulit pangsitnya dibuat dari bahan pempek, dengan isi udang, yang ini WAJIB. Eits jangan takut kalau temen2/Keluarga di rumah gak bisa ikut nyobain, mereka juga menyediakan take away pack yang bisa dijadikan oleh2, siapin aja duit yang extra

Pempek Dolar – Dempo Dalam. Buat saya pempek tunu (panggang) terenak di Palembang ada disini, pempeknya wangi dan kuah cukonya yang kental dan wangi, dan dengan menulis ini saja langsung terbir air liur. Dan nama Dolar itu sendiri ada alasannya lho…. konon karena ukuran pempeknya sebesar ukuran dolar koin, dan harganya tentunya hahaha (konon lho ya…). Es kacang dan model ikan-nya termasuk lumayan enak, tapi bukan yang terbaik.

Pempek Saga – Depan walkot, jalan Merdeka. Ini adalah versi mutannya Pempek Ek, dengan harga sama dapat versi yang lebih gede, dan rasanya cuma sedikit levelnya dibawah Ek. Secara trah memang beda perguruan, kalau Ek itu anggun seperti putri Solo, kalau Saga itu seperti Putri Sunda yang lebih lugas. Pempek Lenggannya juga enak dan es campurnya termasuk enak, tapi bukan yang terbaik menurut versi saya lho ya.

Pempek Lenny – jalan Petanang, Veteran. Kalau tempat ini sebenarnya jarang didatangi, lebih sering order untuk bawa ke Jakarta, terutama untuk pempek mie dan pistel (seperti kapal selam tapi isi papaya muda yang dimasak dengan ebi dan bawang). Harus yang rebus ya, karena 2 jenis pempek ini lebih nikmat kalau dalam bentuk original. Dan yang paling penting harganya value for money banget. Kapal selamnya juga enak. Gugling aja pasti ketemu no telp nya kok.

Pempek Beringin – Jalan Baru, dempo luar. Kalau menyimak di tulisan kuliner non Halal Palembang, letaknya persis di sebelah Bakmi 88. Punya menu lengkap untuk perpempekan, pempek Tunu dan lenggang pangganya nya termasuk yang enak, dan jangan lupa nyobain menu khas palembang lain seperti celempungan (bola-bola pempek dengan kuah santan berbumbu) atau burgo (terbuat dari tepung beras, dengan tekstur seperti kwetiau dengan kuah santan berbumbu).

Pondok Pujasera – Veteran. Ini semacam foodcourt, kalau tidak banyak waktu dan ingin makan beberapa jenis makanan sekaligus, ini tempat yang harus disantroni. Mulai dari es Mamad yang terkenal di lap. Hatta, Mie Celor 26 ilir, Martabak HAR, pempek wawa, dan masih ada beberapa lagi yang tidak ingat. Praktis dan hemat waktu.

Kalau yang ini diluar konteks per-pempek-an, tapi karena jajanan favorite saya, jadi harus dilist juga deh hehehe

Es asuk koboi – Dempo Luar. Tempatnya dekat dengan mie Aloy, konon merupakan es campur terenak di Palembang, terutama es kacang, cincau, alpukat atau campur. Kacang merahnya super lembut dan manisnya ada sedikit karamel (burn) karena proses masaknya yang lama. Tempatnya kecil dan panas, jadi sebaiknya bungkus, kumpulin beberapa kulineran lalu digelar ditempat yang lebih lega ☺ ps : Senin tutup. Dan diseberang tempat ini ada tempat jual model gandum gerobakan, nah jenis makanan ini agak jarang di Jakarta, silahkan dicoba, murah meriah dan memorable.

Photo courtesy of Arie Parikesit – IG @arieparikesit

Standard
Antropologi Populer, Experience, Inspire, Pencarian, Uncategorized

Nodong Tuhan!

Screen Shot 2016-08-08 at 6.14.25 PM

Karena tulisan 1 orang di FB, jadi pengen juga share , tulisan yang SUPERB, link nya ini  https://superhalaman.wordpress.com/2010/09/22/aa-jin-sm-atheis-pietis/

Dari dulu hidup tidak pernah terlalu memperdulikan status agama, kolom agama dulu diisi juga dengan pakem kalau Chinese ya seharusnya Budha. Well, tidak tahu darimana pakem itu, walaupun saya tidak tahu apapun tentang ajaran Budha.

Waktu SD sempat terkspose oleh ajaran Islam karena pelajaran agama di sekolah, diwajibkan ikut sampai harus menghafal ayat-ayat Alquran, sebagaimana halnya pelajaran sekolah lain. Dan untuk penilaiannya bahkan beratas di top 10 kelas, walaupun saya tidak mengerti ajarannya secara benar, tapi saya suka konsep pengontrolan diri waktu puasa dan cerita 25 Nabi yang membuat saya menagih guru agama setiap jam pelajarannya.  Lulus SD dilanjutkan ke sekolah Katolik, dan seperti halnya waktu SD, saya terekpose karena di sekolah tidak ada pelajaran agama Budha yang saya cantumkan di kolom Agama. ( btw di rumah kita diajarkan dengan ajaran Kong Hu Cu dengan banyak adaptasi lokal – aka Palembang, dengan pertimbangan kepraktisan dan kepentingan sosialisasi dengan lingkungan). Sepanjang SMP-SMA saya belajar agama Katolik, bahkan sempat ikut kelas yang intensif, karena cukup tertarik dengan cerita di Alkitab, seperti halnya tertarik dengan kisah 25 Nabi waktu SD.  Saya cukup mengenal Katolik, tapi tidak memahami. Sampai dengan SMA saya masih menganggap diri sebagai Agnostik, percaya Tuhan tapi tanpa label.

Waktu SMA karena hobi membaca membawa saya untuk mencari tahu agama Budha, karena itu selama ini ngakunya kan beragama Budha. Literaturnya cukup terbatas perpustakaan sekolah dulu yang lebih banyak buku cerita ketimbang agama, hingga suatu hari diajak ke Vihara, yang dalam waktu singkat saya di”sah”kan menjadi penganut agama Budha sepenuhnya melalui ibadah aliran Matreiya. Tapi terus terang, saya juga belum memahami Budha sepenuhnya, apalagi ada anggapan nilai ketaatan atau akhlak yang baik ditentukan oleh seberapa rajin mengunjungi Vihara. Lucu aja, masa Ilmu Agama kita ditentukan oleh absensi, mungkin juga karena saya pemalas, jadi membuat asumsi ini.  Tapi saya tertarik menjadi vegetarian hingga menjalaninya selama 1 tahun waktu SMA, simply karena pengen kurus seh dan agak eneg makan daging karena penjelesan bikhu di Vihara soal roda samsara. Ibu berhasil mem-veto stop vegetarian karena kekurangtahuan dalam ber-Vegetarian yang menyebabkan berat badan turun hingga 15kg. Jadilah saya kurus hingga kuliah dan saya tetap malas ke Vihara (hingga sekarang)

Singkat cerita waktu kuliah, dengan pindah ke Jakarta, semua informasi lebih banyak tersedia, dan banyak sekali yang bisa ditanya, buku banyak tersedia dan mengenal ulang Budha dengan angle yang berbeda. Seorang temang memperkenalkan dengan aliran Budha Zen, yang nyeleneh, lalu juga mengenal beberapa pemuka agama Budha seperti Yongyur Rinpoche, Ajahn Chan, dll yang membuka mata ternyata banyak sekali yang mengaku  Budha dan mengagungkan ajaran hanya karena menghafal sutra, pintar mengaitkan ajaran dengan hidup sehari-hari hingga mengaku reinkarnasi Budha tertentu, yang mengaburkan diri dari Inti ajaran Budha. Banyak sekali yang menggunakan Sutra/Rupang/Bikhu/Relik sebagai kebenaran. Heran. (note :saya bukan penganut agama Budha yang baik apalagi pakar ajaran agama Budha)

Dari literatur yang dibaca, saya cuma ngerti hal dasar, kita tidak bisa mengesampingkan fungsi manusia hingga melemparkan semua nasib kita ke tangan Tuhan, Memohon sambil menyandera ketaatan kita untuk kepentingan kita sendiri, apalagi sampai mengimingi-imingi sang Pencipta dengan janji ibadah/doa/nyanyian untuk objektif kita. Logikanya tidak jelas buat saya, kita begitu berani mendikte Beliau untuk kita, apalagi kalau ada yang sampai bisa judge untuk kita hanya karena kita tidak melakukan ibadah/doa/kebiasaan umum karena kita menganut agamanya. Apalagi sekarang ada yang berani mempertanyakan keputusan Tuhan dalam menjalankan dunia, karena kepentingan kita ada yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Surreal bener.

Haduh makin berat yah, mungkin yang paling cocok adalah seperti mbah dalam tulisan teman di atas tadi, Amitaba, Eling dan Sadar diri. Tahu diri, Kita bukan bagian terpenting dari dunia, dan fokus aja bagaimana kita bisa menjadi saluran berkat yang bisa membantu lebih banyak orang tanpa memusingkan apa kepercayaanmu dan apa yang sudah kita perbuat di masa lalu. Amitaba. Amitaba. (dan saya yang ngaku Budhis dan masih malas untuk ke vihara…so judge me! )

ps. mungkin agak diluar konteks, tapi untuk pluralisme, saya rekomen untuk nonton film India, judulnya PK, yang agak diluar pakem, menohok dan satir, yang sambil ketawa miris, itu ada di sekitar kita aau bahkan ikut melakukannya.

Standard
City Escape, Experience, Kuliner Lokal

Arti Sepiring Nasi Ayam

Hampir semua chef ternama akan sependapat kalau chef dengan skill dan sense terbaik bisa dinilai dari masakan yang paling sederhana, semakin simple maka akan menunjukan keahiliannya dalam mengolah bahan pilihan menjadi kuliner yang ‘manjain’ dan ‘ngangenin’ lidah dan kalau ditambahkan ke dalam dunia  bisnis harus ada tambahan kata konsisten dan ‘experience’ sehingga bisnis kulinernya akan jadi legendaris.

Contohnya banyak, kalau di Jogja orang lokal akan menunjuk ko diam, legenda nasgor yang simple dengan waktu tunggu standard 1 jam, atau Yu Djum, Gudeg Jogja tidak akan seterkenal sekarang kalau tidak dengan dibuat jadi standard dan simple. atau gres & ben akan setuju dengan bakmie nya Mbah Mo, yang dimasak dengan kasih dan anglo. dan akan muncul nama lain yang segera jadi daftar  panjang karena setiap orang punya jagoannya. Monggo lho ditambahkan sendiri.

Tapi untuk ini spesifik akan dibahas soal Nasi Ayam Hainam, terus terang agak sebel ya kalau hidangan yang sederhana ini kok ya di Jakarta tidak ada yang cetar, konon di Sing yang paling enak dan mahal ada di chatter box, yang kalau disini tidak lebih dari hidangan standar, atau konon Pandor punya nasi yang cihui, yang ternyata nasinya kurang gurih dan ayamnya agak lari dari pakem Nasi Ayam Hainam idaman. Mungkin harus disamakan persepsi dulu, pakem Nasi Ayam  Hainam yang enak adalah dengan nasi yang harum, paduan kaldu, jahe, bawang putih dengan tampilan nasi yang lembab tapi tidak pulen, masih terberai seperti halnya nasi padang. Untuk Ayamnya kulitya harus cenderung pucat, tekstur kulit halus dan daging ayamnya lembut dan wangi. Paduan ayam yang aromatik tapi juga tidak menutupi rasa dagingnya, lengkap dengan kuah siraman yang cenderung menjadi pelengkap rasa, bukan yang medok menutupi semua rasa ayamnya.  Pencarian ayam hainam di Jakarta semua berakhir dengan komen, enaknya seh, tapi bla bla bla bla.. seperti katanya ciptaan Tuhan tidak ada yang enak sempurna. Sigh..

Dan begitu ada kesempatan balik ke Sing, questnya cuma 1, nyari Nasi Ayam Hainam, yang konon paling enak, namanya Tian Tian di Maxwell Foodcourt di China Town. Wait… sebelum berargumen lapak lain, ini memang dicari yang ada di hawker center, bukan resto dengan label harga cafe. Singkatnya, stall ini kecil, hanya 2 petak dari ukuran standarnya hawker di Sing, tapi antriannya lumayan lama, sekitar 50-60 customer lain di depan, plus sesudah kita selesai antri, masih ada jumlah kurang lebih sama di belakang.

Mari kita bandingkan dari sisi harga, 1 porsi nasi Ayam Hainam $5.50 atau 53rb IDR. Lumayan Mahal ya… terutama karena pembandingnya adalah Nasi Campur Babi lengkap dengan bebek panggang standar hanya $3.5. Secara harga sudah premium. Tapi dengan antrian dalam 1 jam lebih dari 120 customers antri, yang semuanya beli lebih dari 1 porsi, seharusnya harganya tidak masalah.

Dan apalagi kalau sudah mencoba ayamnya, rasanya harganya plus antrian 30-60menit, rasanya sepadan seh. Tidak heran mereka bisa bertahan, walaupun digempur dengan jenis makanan baru, belum lagi persaingan sesama nasi ayam, bisa dibilang quest mencari Nasi Ayam Hainam sempura boleh dikatakan sukses, saya menemukan 1. Tian Tian. Tampilan Ayam yang begitu sederhan dan garnisnya pun  hanya sedikit ketumbar dan kuah kental. Semua gambaran ayam rebus sempurna, kulitnya halus dan lembut, daging empuk dan wangi ringan kombinasi jahe, bawang putih dan daging ayam.Nasinya juga juarak… tidak lengket, ringan dan cocok dg kuahnya. Semua begitu sederhana, polos, tapi memberikan komibinasi dengan ponten 10. Ke sing pasti akan diabsen lagi deh, untuk mengecek konsistensi sehingga bisa mengalami experience yang sama dengan orang Sing lokal. #halah

IMG_9489

PS : dalam gambar adalah whole chicken, harganya 24$, btw utk harga nasinya 70cent

Standard
Antropologi Populer, Cemilan, Experience, Kuliner Lokal

Kuliner Nusantara dalam 1 porsi

Screen Shot 2016-07-11 at 10.58.11 PMBermula dari libur lebaran yang diisi dengan makan dan makan, plus ngobrol ngolor ngidul dengan sahabat lama, mendaratlah kita di tempat makan yang lagi hits, yang menyajikan Nasi Campur Babi Indonesia, betul BABIK.  Yang kalau dari penampakannya, bisa langsung ngeces kan. Tergolong unik karena belum ada resto sejenis yang menyajikan keanekaragaman makanan indonesia non HALAL yang dimasak dengan serius dan lengkap. Tanpa disebutkan namanya pun, penduduk Jakarta akan dengan mudah menemukan tempat jualnya. Dan yang menariknya pengusaha yang membuka tempat makan ini bukan orang Jakarta, tapi urang Bandung, masih muda dan rasanya intuisi bisnisnya mumpuni.

Kalau harus menganalisa satu persatu makanannya, mungkin saya kurang kompeten, tapi jenis masakannya sangat bervariasi, sangat berani dengan bumbu, mulai dari sejenis rendang batokok basah lengkap dengan sambal merah nan meriah, babi panggang Bali dengan sambal matah yang nendang, babi panggang Karo yang moist, lengkap dengan sambal ijo dan sayur daun singkong teri yang pedas dan menghentak, dan satu-satunya kuliner yang bukan asli Indonesia adalah bacon yang di-coating tepung dan goreng kering, yang harusnya diganti dengan lemak babi goreng kering yang biasa disediakan sebagai condiment di tempat makan bakmi Medan. Secara overall ponten untuk hidangan ini 8.5/10. Patoet Dipoejikeun, kalau mengutip penilaian seorang teman peminat kuliner yang dikenal dengan tukang nyicip.

Langsung teringat diskusi waktu WTF! JS beberapa waktu lalu, semua setuju tidak ada sumber informasi kuliner Indonesia dalam 1 atap, dan memang karena kuliner Indonesia yang begitu luas, hingga tidak bisa ditangani hanya oleh 1 badan, harus dikelola secara kolektif. Pada  tahun 2014 Tempo pernah mengeluarkan edisi khusus antropologi Kuliner Indonesia. yang sampai saat ini menurut saya masih merupakan yang paling runut, rapi dan dihimpun dengan serius. Kuliner dengan pendekatan sejarah, dan perjalanan bumbu, lengkap dengan ulasan ekonomi, politik, dan tentu saja mencicipi langsung makanannya. untuk tulisan ini, Tempo mengerahkan 1 team besar, rasanya pasti lebih dari 100 orang. Sungguh usaha yang serius, sayangnya hanya untuk 1 edisi, bukan yang berkelanjutan.

jalur remoah

Menurut Tempo, jalur rempah Indonesia terbagi menjadi 7, yang mana menjadi garis besar aliran kuliner Indonesia, yang nantinya masih akan pecah lagi menurut geografis, karena misalnya untuk Jalur 2 : Jawa, ada ratusan jenis masakan hanya dari 1 provinsi, yang masih bisa dipilah lagi berdasarkan suku, etnis, waktu dan pengembangannya karena asimilasi dan pergaulan. Bahkan kalau menurut saya Kuliner indonesia kalau dijadikan pendidikan, paling tidak bisa menjadi jurusan, bukan cuma sebagai mata kuliah. Coba bayangkan betapa kaya Kuliner Nusantara. Tidak ada salahnya kita sebagai generasi muda Indonesia mulai membuat pendataan Kuliner Indonesia, supaya generasi mendatang masih bisa menikmati Kuliner Indonesia yang sebagian sudah mulai dilupakan dan siapa tahu sambil melestarikan salah satu budaya Nusantara kita bisa belajar lebih banyak lagi dan mendapatkan manfaat ekonomi seperti urang Bandung yang kreatif membungkus kuliner Babi Nusantara dalam 1 piring? dan harusnya bukan cuma babi kan? Mari Makan.

photo : Tempo Edisi Khusus Antropologi Kuliner Nusantara 1-7 Dec 2014

 

 

Standard
Experience, Liburan Lokal

Baluran, Jawa Timur dan Wisata Lokal

image7

Ini Bukan di Afrika lho, ini Taman Nasional Baluran yang lagi naik daun. letak persisnya antara Situbondo dan Banyuwangi.  Baru akhir bulan Juni sempat main dalam rangka ‘ngangon’ ponakan judulnya, yang plannya pun hanya dalam hitungan hari. Here we go.

Ke Baluran ada 2 pilihan, via Surabaya kemudian nyambung naik mobil ke Baluran, atau via Banyuwangi, terus nyambung mobil ke Baluran. Option 1 naik mobilnya itu sekitar 6-7 jam, dan option 2 hanya 1 jam. Saya ambil option 1 karena ponakan kan belum pernah ke Surabaya jadi kita main dulu ke Surabaya.  Nah yang jadi pertanyaan main apa ya di Surabaya?  Kebun Binatang? hmmmm kan macannya pada kurus, Waterboom? next!  Jadinya kita malah ke pasar Atom karena omnya kepengen makan. Habis kangenan dengan bakwan gili dan jajanan pasar Atom, kita malah maen ke Museum Sampoerna ( i know bad uncle yah malah ajakin ke pabrik rokok ), pertama karena banyak Sejarah, kedua ada demo linting rokok, saatnya nunjukin rokok itu tidak manusiawi, karena buruh rokok sampai kerja seperti robot dan bau cengkeh yang menusuk, untungnya mereka enjoy kontennya, dan tidak enjoy bau cengkeh hehehe success.  Sorenya kita main ke hutan Mangrove dan ke Rumah Batik, sebuah usaha kecil dari pak Syarif Usman, mengumpulkan batik dari penjuru Jawa Timur hingga membuat batik khas Suroboyo. Must visit untuk pecinta Batik. (kalau mau info lengkap, bisa japri)

Perjalanan ke Baluran lumayan jauh, jadi disarankan untuk membawa hiburan untuk anak kalau memilih option 1 seperti saya. Dan untungnya ponakan pada bobo begitu di mobil, dan bangun begitu sudah lapar. Bisa singgah di Situbondo untuk lunch, baru dilanjutkan ke Baluran. Kalau ada niat untuk menginap di dalam Taman Nasional, ada 2 option penginapan, semuanya tanpa AC. Pilihannya di pos 1, Savana Bekol, dan di pos 2, Pantai Bima. Yang harus disadari karena penginapan posisinya di dalam Taman Nasional, tidak ada listrik PLN, jadi listrik hanya ada dari jam 6 sore hingga 11 malam dengan menggunakan genset. Seperti halnya semua penginapan sederhana, semuanya simpel dan basic, jadi manage expectation.

Beberapa hal yang perlu dipersiapakan kalau mau menginap di Baluran : 1. Bawa lilin, korek dan senter. 2. Bawa makanan siap makan, bisa dengan membeli dekat pintu masuk taman 3. Bawa penolak nyamuk/serangga 4.selimut/kain pantai 5.snack/cemilan dan air minum 6.Baju dan sepatu yang nyaman untuk hiking. 7.Topi, sunblock dan kacamata hitam.

Pos 2. Pantai Bima, tempat kita stay, jaraknya 9km dari pintu masuk, nama penginapannya Wisma Pilang, tarifnya hanya 200rb/malam. Bisa muat 5-6 orang, cocok untuk keluarga.

Waktu malam lumayan gelap, jadi enaknya tiduran di pantainya bisa melihat langit yang penuh bintang plus waktu kita menginap, ada tambahan bulan yang hampir purnama. Tidur malam enak juga ditemani debur ombak. Buat yang belum terbiasa dengan tidur di alam bebas (seperti halnya ponakan, dianjurkan membawa earphone, atau speaker kecil, untuk memutar lagu), akan banyak bunyi di luar, mulai dari jangkrik, burung hantu, tikus hingga monyet, jadi tidak perlu kaget, ini hutan bang.

Sunrise bisa dilihat mulai jam 5 pagi, dan pagi merupakan waktu paling tepat untuk menyusuri pantai dan hutan bakau. Pantai Bima lumayan panjang dan bisa diexplore oleh anak-anak, bisa dipakai untuk main air juga karena ombak tenang dan pantai landai. eh ada ayunan juga lho hehehe omnya senang deh.

Pos 1. Savana Bekol Jaraknya 6km dari pintu masuk TN. ditandai dengan adanya kompleks penginapan, untuk yang mencari alternatif penginapan lebih murah,disini dihitung per orang.  Ini adalah bagian TN yang paling banyak diphoto dan beredar di sosmed. Dimulai dari rak yang penuh dengan tengkorak Banteng, hingga pemandangan pohon khas Savana, gunung Baluran hingga kawanan Rusa, Banteng, Kerbau, Jerapah, Monyet, beberapa jenis burung dan mamalia besar lain. Kita diperbolehkan stop disini, tapi mobil tidak bisa masuk wilayah Savana. Jalan di kawasan TN harus lebih awas, karena kita berada di rumahnya satwa liar, jadi jangan buang sampah, jangan bawa barang berlebih, pastikan memakai topi dan bawa air minum. Banyak yang bisa diexplore, mulai dari pohon-pohon, monyet yang iseng (hati-hati dengan topi atau botol minuman, mereka bisa dengan santainya merampas lho), kubangan tempat mamalia besar bermain, juga ada tempat minum mereka yang disediakan oleh pihak TN. Intinya jangan terlalu dekat dengan mamalia besar, cukup diamati dari jauh, jangan iseng untuk mengganggu. Ponakan yang kecil sangat antusias, dia bahkan membawa tabletnya, sibuk memotret bunga liar, binatang kecil, kubangan, binatang kecil, bentuk pohon aneh hingga pemandangan yang memang sangat photogenic.  Udaranya juga enak, walaupun matahari nya sentrong, tapi masih ada angin semilir dan bisa berteduh di pohon yang tersebar di wilayah Savana. Sayang tidak berhasil menemukan Jerapah.

 

TN Baluran tempat yang asik buat yang suka mengamati hewan liar di habitatnya, buat saya istilah little Afrika seh kurang ngerti karena saya belum pernah ke Afrika tapi Baluran memang punya daya pikat sendiri. Trust me on this. I’ll be back.

Sebagai summary, Liburan tidak harus ke luar negeri lho, apalagi untuk anak-anak. terutama kalau liburannya hanya ke singapore atau malaysia, coba deh explore liburan lokal, banyak kok yang seru. Generasi sekarang kita ajak mengenal negaranya sendiri. Tak kenal maka tak sayang kan? Keponakan seh komplain habis, malam gak bisa tidur karena berisik oleh suara penghuni hutan, tidur tanpa AC di homestay hingga naik kereta ekonomi, tapi buat saya itu proses belajar kenal negara kita, tentu saja tidak lengkap kalau tidak makan makanan lokal, mulai dari nasi tempong, bakwan malang, sambal petis hingga depot Djangkrik dan Toko Oen yang legendaris. Bukan urusan saya kalau mereka bisa menikmati atau tidak, biar mereka yang memutuskan sendiri.

PS. option closingnya bisa ke Bali, tinggal menyebrang via Banyuwangi, atua ke Malang seperti saya dengan kereta Ekonomi yang berangkat jam 5 pagi. Malang sendri sekarang punya banyak tempat bermain untuk anak-anak. Tinggal gugling yak.

image2

Standard