Antropologi Populer, Entrepreneur, Experience, General, Inspire, Uncategorized

Moment!

Mungkin ini tema yang ditulis ulang ke-2 kali, tapi memang minggu lalu seperti ada desakan untuk nulis ulang. Saat semua orang sibuk mempertanyakan keabsahan penistaan, mayoritas minoritas, saya setuju mendingan kita posting yang positif saja. Bukan soal denial, cuma tidak mau ikutan terlibat dalam lingkaran setan saja. Dimulai dari postingan salah satu researcher handal yang mempertanyakan eksistensi diri, apa sih yang sudah kita perbuat untuk orang yang lebih banyak. Dug. langsung nusuk ulu hati seh. Tengkiu lho ri.

Lalu pas kemarin pindah2 channel TV karena bosan, ketemu talkshow di salah satu TV yang tidak pernah ditonton, ada tajuk female zone, dengan bintang tamu seorang ibu yang memperjuangkan listrik sudah dari 25 tahun yang lalu dengan julukan perempuan pembawa terang, perjuanganya masih jauh dari selesai dan masih tetap sangat positif. Di Indoneaia mungkin kurang dikenal, tapi dunia internasional sudah mengakuinya, bahkan beliau sudah pernah diundang ketemu Obama hingga ke World Economic Forum. Salah satu nasehatnya ( tidak exact, tapi ini yang saya tangkap): tetap saja berbuat baik, tidak pelu pusing soal orang gosipin atau jahatin kamu, percayalah hal-hal baik akan mengikuti kamu.

dan Pas weekend kemarin, ada 2 pertemuan dnegan 2 grup temen yang berbeda, dan baru terasa ya moment itu super cepat berlalu. Tadinya baby yang masih digendong, ileran dan tidur di pelukan, kini mau digendong aja sudah gak kuat, sudah jadi bocah 5 tahun dengan berat lebih dari 20kg.  Lalu ke perkawinannya seorang sahabat. Yang dulu waktu kita baru main bareng, tuh adenya baru masuk SMU, masih culun, dan kini sudah siap menjadi bapak untuk keluarganya. Mungkin yang menjadi pertanyaan nanti, seberapa kali lagi yah kita bisa ketemuan?  Baru sadar kalau kata bijak. “Don’t counting your things , Count Your Moments” bener banget.

Kembali ke masalah eksistensi, sighhh… langsung pengen ngeles ala matrix, langsung refleks itu harusnya kerjaan orang yang lebih mumpuni, apalah guwehhhh… Dulu pernah baca 1 buku pengembangan kepribadian, dimulai dengan pertanyaan ” Seandainya kamu mampir ke pemakaman sendiri, dan temanmu sedang memberikan testimonial tentang kamu, apa yang akan diceritakan oleh dia?”

Sampai detik ini, masih belum bisa menjawabnya. Dung.

Standard
Entrepreneur, Food Battle, General, Global Issue, Inspire, Uncategorized

Belanja Sayuran Segar di pasar Tradisional (online) bag. 2

2 tahun yang lalu, dunia startup Indonesia masih sepi adem ayem, tapi sudah lahir inovasi untuk belanja sayuran tradisional via online, dan per hari ini, syukurlah sudah lahir banyak produk inovasi pertanian yang sangat pro konsumen dan petani, sehingga 2 pihak utama yang merupakan motor demand dan supply  bisa memainkan perannya dengan lebih baik, tanpa adanya tangan lain yng selama ini menjadi penentu trend demand dan supply.  Sementara adik-adiknya terus memberikan produk inovasi, sebagai pioneer pasarminggu.co malah sepertinya jalan di tempat dan terlena dengan model bisnis yang menurut saya masih seperti saat launch. Sayang sekali.

Ada 2 produk yang menurut saya keren, dan semuanya dilahirkan oleh profesional muda yang prihati dengan problem pertanian Indonesia.

Kecipir.com  

screen-shot-2016-10-21-at-12-34-20-pm                                                                                                                              konsepnya adalah semua produk dasarnya adalah organik, jadi tidak ada alasan kalau produk organik itu mahal, caranya ya dengan membuat sebanyak mungkin petani menanam organik sehingga harganya akan turun mendekati harga pertanian konvensional. Konsep ini tercermin dari harga produk organiknya sangat murah, sudah mendekati produk sayuran segar yang ada di pasar tradisional. Konsep distribusi dengan menggunakan agen yang tersebar di semua wilayah Jakarta juga sangat unik dan memberikan kesempatan penambahan pendapatan (dan jaminan suplai sayur segar organik) buat ibu rumah tangga, begitu juga dengan supplai yang didapat dari petani yang tersebar di seputaran Jakarta. Produk lokal, dijual lokal, Brilliant!

Dengar-dengar Tantyo, sang founder lagi mempersiapkan produk barunya, semacam pemberdayaan konsumen untuk mendukung permodalan petani (crowd funding) jadi lengkap sudah siklus bisnisnya, petani dimodalin dari konsumen, jadi tidak perlu ngutang ke tengkulak dan terpaksa melepas hasil pertaniannya dengan harga tengkulak, dan konsumen mendapatkan produk segar dan harga yang tidak diinflasi oleh rantai distribusi hasil pertanian yang tidak efisien. Hmm ditunggu yak pak Tantyo.

Limakilo.id

screen-shot-2016-10-12-at-3-13-43-pm

Kalau limokilo ini bermula dari keprihatinan ketika konsumen membeli bawang merah, harganya mahal dan produknya sudah tidak segar. Jadilah dibuat riset ternyata untuk membeli langsung ke petani minumal pembelian adalah 5kg untuk retail, makanya namanya limakilo (cmiiw). Intinya juga sama seperti dengan kecipir, memotong jalur distribusi produk pertanian Indonesia yang tidak efisien.

Limakilo sendiri dilahirkan oleh 3 anak muda dan dibidani oleh kompetisi Hacketon 2015. Yang membuat salut adalah ketiganya tidak ada latar belakang pertanian atau bisnis pertanian, tapi dimulai keprihatianan dan keinginan untuk membuat suatu perubahan, dan kalau ditekuni dengan serius, dan dukungan teknologi dan dana, bisnis model ini sangat mungkin untuk melakukan sesuatu yang mungkin belum terjamah oleh pemerintah.

Summary: sebagai konsumen, kita sudah mulai dimanjakan oleh produk-produk yang dilahirkan oleh anak Indonesia yang tidak hanya berdiam diri dan mengeluh, tapi langsung terjun membuat perubahan (dan menghasikan uang!) Peran kita?? ya.. support mereka, dengan membeli atau ikut menjadi pemodal, jadi bukan inisiatif anak muda Indonesia itu bukan hanya Gojek lho. Percayalah Pertanian dan Infrastruktur akan memegang kunci keberhasilan pembangunan Indonesia 20 tahun kedepan. Mark my words.

image : dari website kecipir.com dan limakilo.id, dan cover dari beritasatu.com

Standard
Antropologi Populer, Experience, Inspire, Pencarian, Uncategorized

Nodong Tuhan!

Screen Shot 2016-08-08 at 6.14.25 PM

Karena tulisan 1 orang di FB, jadi pengen juga share , tulisan yang SUPERB, link nya ini  https://superhalaman.wordpress.com/2010/09/22/aa-jin-sm-atheis-pietis/

Dari dulu hidup tidak pernah terlalu memperdulikan status agama, kolom agama dulu diisi juga dengan pakem kalau Chinese ya seharusnya Budha. Well, tidak tahu darimana pakem itu, walaupun saya tidak tahu apapun tentang ajaran Budha.

Waktu SD sempat terkspose oleh ajaran Islam karena pelajaran agama di sekolah, diwajibkan ikut sampai harus menghafal ayat-ayat Alquran, sebagaimana halnya pelajaran sekolah lain. Dan untuk penilaiannya bahkan beratas di top 10 kelas, walaupun saya tidak mengerti ajarannya secara benar, tapi saya suka konsep pengontrolan diri waktu puasa dan cerita 25 Nabi yang membuat saya menagih guru agama setiap jam pelajarannya.  Lulus SD dilanjutkan ke sekolah Katolik, dan seperti halnya waktu SD, saya terekpose karena di sekolah tidak ada pelajaran agama Budha yang saya cantumkan di kolom Agama. ( btw di rumah kita diajarkan dengan ajaran Kong Hu Cu dengan banyak adaptasi lokal – aka Palembang, dengan pertimbangan kepraktisan dan kepentingan sosialisasi dengan lingkungan). Sepanjang SMP-SMA saya belajar agama Katolik, bahkan sempat ikut kelas yang intensif, karena cukup tertarik dengan cerita di Alkitab, seperti halnya tertarik dengan kisah 25 Nabi waktu SD.  Saya cukup mengenal Katolik, tapi tidak memahami. Sampai dengan SMA saya masih menganggap diri sebagai Agnostik, percaya Tuhan tapi tanpa label.

Waktu SMA karena hobi membaca membawa saya untuk mencari tahu agama Budha, karena itu selama ini ngakunya kan beragama Budha. Literaturnya cukup terbatas perpustakaan sekolah dulu yang lebih banyak buku cerita ketimbang agama, hingga suatu hari diajak ke Vihara, yang dalam waktu singkat saya di”sah”kan menjadi penganut agama Budha sepenuhnya melalui ibadah aliran Matreiya. Tapi terus terang, saya juga belum memahami Budha sepenuhnya, apalagi ada anggapan nilai ketaatan atau akhlak yang baik ditentukan oleh seberapa rajin mengunjungi Vihara. Lucu aja, masa Ilmu Agama kita ditentukan oleh absensi, mungkin juga karena saya pemalas, jadi membuat asumsi ini.  Tapi saya tertarik menjadi vegetarian hingga menjalaninya selama 1 tahun waktu SMA, simply karena pengen kurus seh dan agak eneg makan daging karena penjelesan bikhu di Vihara soal roda samsara. Ibu berhasil mem-veto stop vegetarian karena kekurangtahuan dalam ber-Vegetarian yang menyebabkan berat badan turun hingga 15kg. Jadilah saya kurus hingga kuliah dan saya tetap malas ke Vihara (hingga sekarang)

Singkat cerita waktu kuliah, dengan pindah ke Jakarta, semua informasi lebih banyak tersedia, dan banyak sekali yang bisa ditanya, buku banyak tersedia dan mengenal ulang Budha dengan angle yang berbeda. Seorang temang memperkenalkan dengan aliran Budha Zen, yang nyeleneh, lalu juga mengenal beberapa pemuka agama Budha seperti Yongyur Rinpoche, Ajahn Chan, dll yang membuka mata ternyata banyak sekali yang mengaku  Budha dan mengagungkan ajaran hanya karena menghafal sutra, pintar mengaitkan ajaran dengan hidup sehari-hari hingga mengaku reinkarnasi Budha tertentu, yang mengaburkan diri dari Inti ajaran Budha. Banyak sekali yang menggunakan Sutra/Rupang/Bikhu/Relik sebagai kebenaran. Heran. (note :saya bukan penganut agama Budha yang baik apalagi pakar ajaran agama Budha)

Dari literatur yang dibaca, saya cuma ngerti hal dasar, kita tidak bisa mengesampingkan fungsi manusia hingga melemparkan semua nasib kita ke tangan Tuhan, Memohon sambil menyandera ketaatan kita untuk kepentingan kita sendiri, apalagi sampai mengimingi-imingi sang Pencipta dengan janji ibadah/doa/nyanyian untuk objektif kita. Logikanya tidak jelas buat saya, kita begitu berani mendikte Beliau untuk kita, apalagi kalau ada yang sampai bisa judge untuk kita hanya karena kita tidak melakukan ibadah/doa/kebiasaan umum karena kita menganut agamanya. Apalagi sekarang ada yang berani mempertanyakan keputusan Tuhan dalam menjalankan dunia, karena kepentingan kita ada yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Surreal bener.

Haduh makin berat yah, mungkin yang paling cocok adalah seperti mbah dalam tulisan teman di atas tadi, Amitaba, Eling dan Sadar diri. Tahu diri, Kita bukan bagian terpenting dari dunia, dan fokus aja bagaimana kita bisa menjadi saluran berkat yang bisa membantu lebih banyak orang tanpa memusingkan apa kepercayaanmu dan apa yang sudah kita perbuat di masa lalu. Amitaba. Amitaba. (dan saya yang ngaku Budhis dan masih malas untuk ke vihara…so judge me! )

ps. mungkin agak diluar konteks, tapi untuk pluralisme, saya rekomen untuk nonton film India, judulnya PK, yang agak diluar pakem, menohok dan satir, yang sambil ketawa miris, itu ada di sekitar kita aau bahkan ikut melakukannya.

Standard
Cemilan, General, Inspire, Kuliner Lokal, Uncategorized

Bakcang Festival dan Momen.

FullSizeRender

Hari ini hari bakcang, dan baru sadar kemarin ditanyain oleh sepupu kapan mau ambil bakcangnya Gile ini ya mau dikasih eh malah diingetin, kurang tahu diri hehehe.  Hm… jadi ingat dulu kalau hari bakcang itu selalu spesial. Waktunya ngumpul ngobrol ngolor ngidul dengan mama sambil bantu recokin. Kadang bareng dengan tante-tante, lalu nungguin rebus parcel kecil itu semalaman, dan paginya bangun bersemangat mau sarapan bakcang yang masih mengepul. Semakin umur bertambah jadi semakin menghargai momen.

Bakcang sendiri banyak nama dan jenis, tapi tidak perlu bahas bakcang negara lain ya, di Indonesia aja saking banyak jenisnya gak sempet nyicip atu-atu. Konon seh bakcang dibuat sebagai rasa penyesalan kaisar setelah sang pemaisuri menenggelamkan diri di sungai karena sang kaisar tidak perhatian. Bakcang dibuat untuk makanan ikan di sungai supaya jenazah sang permaisuri tidak digerogoti. anyway… kisah ini bukan yang diceritain di keluarga seh, ini hasil gugel aja.

Bakcang adalah jenis makanan yang dibungkus daun, yang berisi ketan/nasi yang  membungkus lauk dan dikukus/rebu sampai empuk. Bakcang yang kita kenal di indonesia terbagi jadi 2 genre besar, dengan bahan beras  (yang dominasi di Jakarta, Bogor, dan sebagian Jawa) dan dengan bahan ketan (selain yang disebutkan di bagianberas). Untuk pembungkus, dipakai bermacam daun bambu. Untuk lauk isian tergantung keturunan suku, kalau hokkian cenderung mengisi dengan babi cincang kecap, kalo konghu dan tiociu, biasanya dengan kombinasi kacang hijau kupas, telur kuning asin dan daging babi acar bawang. Nah ada juga adaptasi lokal dengan mengisi kacang tanah atau bahkan tanpa isian, namanya Ki cang, yang dimakan dengan gula pasir atau seperti lupis dengan parutan kelapa dan gula merah cair.

Dalam keluarga sih bakcang itu simbol silahturami, mama biasa buat bakcang dalam jumlah banyak, untuk dibagikan ke semua keluarga besar, dan dihitung lho harus buat berapa pcs. Persiapannya rumit dan panjang, minimal 2 hari. Karena keluarga kita keturunan kong hu, maka persiapan lauk isinya lebih banyak jenis  Ritual dimulai dari merendam kacang hijau, sampai kulit ari hijaunya terkupas, kacang hijau jadi kelihatan seperti kedele. Lalu daging babi yang harus banyak lemaknya, diacar dengan bawang merah, rempah dan garam, direndam selama 2 malam supaya bumbu meresap dan telur asin hanya bagian kuningnya. Ada variasi lain dengan jamur, ginko, kacang tanah dsb . Bahan utamanya ketan yang direndam min 1 malam juga. Kebayang kan time consumingnya.

Ritual bungkus juga gampang-gampang susah, eh harusnya susah-susah gampang, Karena manual, harus bisa kerajinan tangan melipat daun bambunya, sambil meracik isi nya seperti koki, lalu membentuknya seperti arsitek, dan menutupnya dengan tegas seperti butcher. Dari semua keluarga besar, sepertinya garis keturunan kedua tidak ada lagi yang menguasainya, sepertinya budaya membungkus bakcang sendiri akan kita bunuh di generasi saya dan semua sepupu, dengar….. ini tanggung jawab bareng yah.

Tapi percayalah, bakcang yang enak itu tidak dibeli di toko (maap ya juragan bakcang yang terhormat, saya suka beli juga kok di hari biasa…) tapi bakcang yang dibuat oleh mama atau kerabat dekat kita, yang dibuat dengan penuh cinta kasih dan sambil dihitung berapa lagi bakcang yang harus dibuat supaya semua kebagian. the love and care. Tuh momen lagi kan. ini ngomong bakcang atau momen seh? – ( eh thank you buat tante ellen, bakcangnya sudah beristihat tenang di perut)

Suka lupa ya kalau banyak yang lebih penting dari apa yang dikira lebih penting (baca : KERJAAN KANTOR), dulu sempet baca ntah dmana, kalau ada kesempatan bersama keluarga, atau teman terkasih, mind setnya harus ganti, bukan coba menunda dengan alasan sibuk, atau ketemu trus nyambi bales email or chat ya semacam take it for granted lah. Ehhh…  waktu kita di dunia itu terbatas lho dan kita tidak tahu kapan dipanggil, jadi mind setnya harus ganti jadi kapan lagi kita bisa ngumpul? kita tidak tahu kan? anggap aja ini selalu jadi momen kita yang terakhir. Agreed?

 

Standard
Do It Yourself, Entrepreneur, Experience, Uncategorized

Battle of Comfort VS ‘whatever’-preneur

 

Screen Shot 2016-06-07 at 1.33.02 PM

Sudah sering kan dengar teman atau temanya teman atau yang share di sosmed mengeluh soal kerja atau kerjaan, mulai dari merasa tertekan karena kerjaan, rekan kerja, atau bahkan karena bos (tentunya), belum lagi load kerjaan, jenis kerjaan hingga alasan lain yang kadang membuat alis kanan mendelik.. (gak enak, kantornya di mall!!) Menurut ngana?

Dan rasanya juga sudah sangat umum kalau mendengar komprominya, ya udah toh, kerjaan sekarang susah dicari, anak masih perlu susu/sekolah/makan, kasian istri/mertua/orangtua, dsb hingga dia akan tetap stay di kerjaannya, takut mencoba hal yang dia lebih suka/prefer dan terus mengeluh sebagai solusinya. Klasik.

Atau mungkin ada yang mendengar temannya itu nekad keluar dari kerjaannya, entah itu merintis usaha sendiri atau jadi freelance/konsultan/advisor, langsung semua bersorak entah mewakili ketertindasan sendiri atau secara tidak langsung nyinyir liat aja situ tahan berapa lama, intinya semua menyatakan salut atas inisiatif dan keberaniannya untuk keluar dari comfort zone dan mulai menjalani apa yang menjadi passionnya. Familiar?

Well, dari hasil ngobrol dan ikutan ngambil jalur ke-2, ada kesimpulannya, untuk apapun alasannya mulai menjalani passion atau stay di comfort zone, harus jelas sebenarnya apa yang kita kejar. Semua option itu ada konsekuensinya, dan kalikan resiko itu hingga 5-10x dari yang dibayangkan, kalau sudah siap menerima, silahkan ambil pilihannya.

Mungkin yang bisa dishare soal ‘whatever’preneur, coba deh mulai dari hal paling simpel, mau nyari apa sik? jangan sampai kejeblos sebelum mengenal lebih jauh. Dan pleaseeee… jangan ganti haluan hanya karena mentok di kantor atau  sebagai pelarian karir. Coba deh cari tahu dulu apa yang menjadi passion. gali lebih dalam, ngobrol dengan yang sudah lebih senior, cari tahu literaturnya, praktekan bahkan kalau memungkinkan coba mulai dari skala kecil. Kalau sudah mulai mantap dengan passionnya, boleh mulai branding diri, buat asosiasi passion itu dengan kita, mulai dari sosmed, lingkungan kerja bahkan sosial. Jadi kalau ada yang mau tau hal related dengan passion itu, kita akan dikenal sebagai at least enthusiast nya. Ini yang saya petik dari event WTF Jalansutra minggu lalu.

Dan follow your passion is great, tapi yang lebih great lagi, responsible for your choice and live it like no tomorrow. At the end, gak penting orang ngomong apa tentang lo, yang jalanin dan hidupkan lo sendiri. Got it? cuss

Screen Shot 2016-06-07 at 1.27.06 PM

Update : dan ternyata ada video yang related neh dari Joe Silva, check it out

How to find your passion

Speaker: Jason Silva
Original Video: https://youtu.be/HScOL_aOMrw
Jasons Facebook Video:https://www.facebook.com/jasonlsilva/videos/1700545290209749/

 

 

Standard
Uncategorized

WTF! Urban Food Movement

Yup, bukan WTF yang itu, ini Writing, Travel dan Food, Tema dari JS aka Jalansutra. Komunitas yang bermula dari artikelnya pak Bondan, yang menjelma jadi 13k member, yang kemarin merayakan ultah ke 13, kalau anak remaja umur 13 neh lagi musim pancaroba. Ini erat berkaitan dengan perayaan yang beda kali ini, dengan mengusung topik Urban Food Movement, ultah yang biasa dimeriahkan dengan potluck makanan, yang biasanya makan-makan sampe bego, kali ini dimeriahkan dengan potluck ide, yang kalau diserap semuanya bisa keblenger juga. But wait…. off course ada makan-makan dong, namanya juga JS

FullSizeRender

Tadinya sempet pesimis, anak JS biasanya hiperaktif, kalau disuruh duduk dari jam 9 pagi sd jam 5 sore, bakalan bisa gak ya? mana akan ada 18 topik presentasi @15 menit, kebayangkan liat presentasi hari Sabtu?  Tapi NOO, it’s an eye opening. Komunitas yang digagas dari ide suka makan dan jalan2, lalu share, ternyata membawa anggotanya menjalani perubahan signifikan dan hidupnya, mendalami passion dan hidup di dalamnya. wow how cool is that.

Dengan tidak mengesampingkan siapapun yang tidak disebutkan di sini, ada beberapa presenter yang mengesankan, dimulai dari Batara, yang entah kesambet apa, sesudah menghabiskan waktu di luar Indonesia malah kembali ke Indonesia, untuk melestarikan makan lokal??? yang idenya mendasar pada produk pangan lokal dan menjaga kelesarian makan lokal yang ternyata idenya juga senada dengan Banyumurti, Cooking Mama Papanya Euis, Ono Nihanya ibu Noni, Gerakan Minangkayo dari Trio Reno, Febi, Ichil, atau Mama Makasarnya Nat. Mungkin ada beda interest dan sudut pandang, tapi semua punya benang merah yang sama.  Yang langsung menjadikan pertanyaan, apa yang bisa dibantu ya? apa kita harus buat semacam crowd writing, yang bisa menampung aspirasi mereka semua dan menjadikannya sebagai Kulinerpedianya Indonesia. Hm… minat diskusi lanjut? kontek saya deh 🙂

Topik menarik lainnya adalah teh dan kopi, JS punya master di bidang ini, Bambang Laresolo dan Ratna Soemantri berbagi cerita, catatan untuk presentasi Bambang adalah passion can become your business/job, dan ini bukan isapan jempol, di JS sudah banyak contoh, selain Bambang dan Ratna, ada Yohan, Adi, Grace, Lita, Letta (dan masih banyak yang lain) yang sudah berlabuh di passionnya di dunia F&B secara profesional.  Master kopi JS  Adi @peminumkopi berbagi mimpinya untuk Coffee Lab yang katanya akan segera launch… yooohooo can’t wait for it. Thanks untuk bagi2 kopi dari pu er. Tastenya light, menyenangkan untuk hari Minggu yang rilex.

Sayangnya dari Tepian tidak sempat berbagi tentang Collective farmingnya, padahal itu topik yang ditunggu, paling tidak ada Benny yang berbagi pengalamannya untuk Urban Farming, setuju banget dengan idenya, kita tidak perlu komplain ini itu soal krisis pangan, mulai dari kita sendiri, apa yang bisa kita tanam untuk kebutuhan sehari-hari, mungkin tidak untuk setiap hari, tapi kalau dalam 1 bulan ada 1 hari kita hidup dengan apa yang kita tanam sendiri, bayangkan kalau itu ada 1000 keluarga? atau 1 juta keluarga? berapa banyak pangan yang bisa dihasilkan oleh kita sendiri? coba mulai dengan pot, polybag atau dengan contohnya Benny, kotak minuman susu anaknya yang biasa dibuang, yang sudah menjadi tempat tumbuh Kemangi.

Passion di bidang Kuliner juga membawa Gerry, yang terkenal sebagai anaknya Lita menjadi salah satu pelaku pop up market dan the man behind Puyo, yang walaupun mungkin paling muda diantara yang hadir, tapi sudah berkiprah kencang, atau Iqbal yang juga salah satu teman dekat, yang saya lihat sendiri berkembang jauh pesat setelah menemukan passionnya dan bersiap-siap melahirkan Bungkuss.com. Yang surprise adalah Madre, konsep makanan rumah yang buat jadi nasi bungkus daun yang cihui, sempet icip se-dua sendok dari Gres dan Rujak pengantennya yang yummy.

Secara overall, bener seh, keblenger dengan semua ide yang dipresentasikan, tapi keblenger yang mungkin jadi seperti pecutan, hayoo segera mulai….. , when you gonna start to work on your dream? what stop you? Well, perut kekenyangan juga seh, dimanjakan dengan jajanan Makasar dari Mamanya Nat, belum lagi Chef Ragil membuat saya harus rela makan ayam suwir pedesnya walaupun dalam pemulihan Tipus dan Ikan saos Tempoyaknya yang smoky… juarak!. Plus seperti biasa kalau anak JS luar kota suka membekali teman2 Jakarta dengan jajanan. Dapat ketan Cirebon dari Jurangan cantik Cirebon dong.

Ultah kali ini meriah, kenyang perut dan otak, dan motivasi. Jangan kapok panitia ya.. Lita, Gres, Harnas, You guys done a great job. Bravo! Thanks juga buat pak Bondan, you start the movement and now unstoppable. Ditunggu lagi event yang wowww.                    Plus Bir Bintang yang refill terus dan dioleh-olehin goodie bag dari Anggur OT. How i miss my buddie during my services in there 🙂 

IMG_8643

 

 

 

Standard
Experience, Uncategorized

Life after work.

kaki

Bukan subjek yang suka dibahas seh, mungkin karena gak penting dan tidak relevan, plus cape mikir karena masih lama keleussss. Postingnya mbak Riri tentang artikel “Hidup Senang Selepas Masa Kerja, Bisa gak sih? http://liveolive.com/post/view/650-hidup-senang-selepas-masa-kerja-bisa-nggak-sih ‘ jadi tergoda untuk ikutan nulis, berdasarkan pengalaman pribadi tentunya. Gak ada tendensi untuk menggurui, cuma semacam komen aja seh 🙂  semoga kepake deh.

Prinsipnya simple seh cuma gimana punya penghasilan diluar dari gaji kantor. Dulu waktu gaji masih imut, rasanya gak pernah kecukupan, tapi dipaksain nabung masih bisa lah, pas gaji naik banyak pun, tetap aja gak kecukupan, nabung gak nambah, gaji keburu habis sebelum bulan habis. untungnya punya prinsip ogah ngutang apalagi ke kartu kredit. Tapi yang namanya tabungan 0(nol) besar.  Sampai suatu ketika Sales Director yang orang asing memberikan tamparan pedas tentang gaji seharusnya ditabung min 50%, BAHKAN DIANJURKAN 70%. WHATTTT???  dan semuanya ditabung untuk jadi KAPITAL. You have to work for CAPITAL, not salary.

Reaksi pertama GAK BISA! gaji gw berapa vs Loe???  Tapi setelah mikir2 hmmm masa seh gak bisa ya? coba kalau berpikir positif dikit, apa yang terjadi kalau gaji 50% langsung ditabung, apa yang harus dilakukan? seketika itu merasa tercekik. Tentu saja prosesnya gak segampang nulis ini, tapi intinya harus merubah semua, including gaya hidup, kebiasaan, secara drastis.  Sampai hari ini pun masih belajar. Tentuin Prioritas, banyak belajar dan siap untuk hidup tidak nyaman, sampai dijauhi teman pun akan jadi imbas perubahan itu. Selama siap dengan konsekuensinya, untuk menjawab artikel “Hidup Senang Selepas Masa Kerja, Bisa gak? ” BISA BANGET.

pertanyaan lebih tepatnya, siap dengan segala macam konsekuensinya?  lebih penting mana, hidup hura2, nikmat sekarang, tapi besok belum tahu? atau hidup cukup hari ini, tapi besoknya ada jaminan gak bakal susah. YOUR CHOICE. 🙂

 

 

Standard