City Escape, Experience, Kuliner Lokal

Arti Sepiring Nasi Ayam

Hampir semua chef ternama akan sependapat kalau chef dengan skill dan sense terbaik bisa dinilai dari masakan yang paling sederhana, semakin simple maka akan menunjukan keahiliannya dalam mengolah bahan pilihan menjadi kuliner yang ‘manjain’ dan ‘ngangenin’ lidah dan kalau ditambahkan ke dalam dunia  bisnis harus ada tambahan kata konsisten dan ‘experience’ sehingga bisnis kulinernya akan jadi legendaris.

Contohnya banyak, kalau di Jogja orang lokal akan menunjuk ko diam, legenda nasgor yang simple dengan waktu tunggu standard 1 jam, atau Yu Djum, Gudeg Jogja tidak akan seterkenal sekarang kalau tidak dengan dibuat jadi standard dan simple. atau gres & ben akan setuju dengan bakmie nya Mbah Mo, yang dimasak dengan kasih dan anglo. dan akan muncul nama lain yang segera jadi daftar  panjang karena setiap orang punya jagoannya. Monggo lho ditambahkan sendiri.

Tapi untuk ini spesifik akan dibahas soal Nasi Ayam Hainam, terus terang agak sebel ya kalau hidangan yang sederhana ini kok ya di Jakarta tidak ada yang cetar, konon di Sing yang paling enak dan mahal ada di chatter box, yang kalau disini tidak lebih dari hidangan standar, atau konon Pandor punya nasi yang cihui, yang ternyata nasinya kurang gurih dan ayamnya agak lari dari pakem Nasi Ayam Hainam idaman. Mungkin harus disamakan persepsi dulu, pakem Nasi Ayam  Hainam yang enak adalah dengan nasi yang harum, paduan kaldu, jahe, bawang putih dengan tampilan nasi yang lembab tapi tidak pulen, masih terberai seperti halnya nasi padang. Untuk Ayamnya kulitya harus cenderung pucat, tekstur kulit halus dan daging ayamnya lembut dan wangi. Paduan ayam yang aromatik tapi juga tidak menutupi rasa dagingnya, lengkap dengan kuah siraman yang cenderung menjadi pelengkap rasa, bukan yang medok menutupi semua rasa ayamnya.  Pencarian ayam hainam di Jakarta semua berakhir dengan komen, enaknya seh, tapi bla bla bla bla.. seperti katanya ciptaan Tuhan tidak ada yang enak sempurna. Sigh..

Dan begitu ada kesempatan balik ke Sing, questnya cuma 1, nyari Nasi Ayam Hainam, yang konon paling enak, namanya Tian Tian di Maxwell Foodcourt di China Town. Wait… sebelum berargumen lapak lain, ini memang dicari yang ada di hawker center, bukan resto dengan label harga cafe. Singkatnya, stall ini kecil, hanya 2 petak dari ukuran standarnya hawker di Sing, tapi antriannya lumayan lama, sekitar 50-60 customer lain di depan, plus sesudah kita selesai antri, masih ada jumlah kurang lebih sama di belakang.

Mari kita bandingkan dari sisi harga, 1 porsi nasi Ayam Hainam $5.50 atau 53rb IDR. Lumayan Mahal ya… terutama karena pembandingnya adalah Nasi Campur Babi lengkap dengan bebek panggang standar hanya $3.5. Secara harga sudah premium. Tapi dengan antrian dalam 1 jam lebih dari 120 customers antri, yang semuanya beli lebih dari 1 porsi, seharusnya harganya tidak masalah.

Dan apalagi kalau sudah mencoba ayamnya, rasanya harganya plus antrian 30-60menit, rasanya sepadan seh. Tidak heran mereka bisa bertahan, walaupun digempur dengan jenis makanan baru, belum lagi persaingan sesama nasi ayam, bisa dibilang quest mencari Nasi Ayam Hainam sempura boleh dikatakan sukses, saya menemukan 1. Tian Tian. Tampilan Ayam yang begitu sederhan dan garnisnya pun  hanya sedikit ketumbar dan kuah kental. Semua gambaran ayam rebus sempurna, kulitnya halus dan lembut, daging empuk dan wangi ringan kombinasi jahe, bawang putih dan daging ayam.Nasinya juga juarak… tidak lengket, ringan dan cocok dg kuahnya. Semua begitu sederhana, polos, tapi memberikan komibinasi dengan ponten 10. Ke sing pasti akan diabsen lagi deh, untuk mengecek konsistensi sehingga bisa mengalami experience yang sama dengan orang Sing lokal. #halah

IMG_9489

PS : dalam gambar adalah whole chicken, harganya 24$, btw utk harga nasinya 70cent

Standard
Antropologi Populer, Cemilan, Experience, Kuliner Lokal

Kuliner Nusantara dalam 1 porsi

Screen Shot 2016-07-11 at 10.58.11 PMBermula dari libur lebaran yang diisi dengan makan dan makan, plus ngobrol ngolor ngidul dengan sahabat lama, mendaratlah kita di tempat makan yang lagi hits, yang menyajikan Nasi Campur Babi Indonesia, betul BABIK.  Yang kalau dari penampakannya, bisa langsung ngeces kan. Tergolong unik karena belum ada resto sejenis yang menyajikan keanekaragaman makanan indonesia non HALAL yang dimasak dengan serius dan lengkap. Tanpa disebutkan namanya pun, penduduk Jakarta akan dengan mudah menemukan tempat jualnya. Dan yang menariknya pengusaha yang membuka tempat makan ini bukan orang Jakarta, tapi urang Bandung, masih muda dan rasanya intuisi bisnisnya mumpuni.

Kalau harus menganalisa satu persatu makanannya, mungkin saya kurang kompeten, tapi jenis masakannya sangat bervariasi, sangat berani dengan bumbu, mulai dari sejenis rendang batokok basah lengkap dengan sambal merah nan meriah, babi panggang Bali dengan sambal matah yang nendang, babi panggang Karo yang moist, lengkap dengan sambal ijo dan sayur daun singkong teri yang pedas dan menghentak, dan satu-satunya kuliner yang bukan asli Indonesia adalah bacon yang di-coating tepung dan goreng kering, yang harusnya diganti dengan lemak babi goreng kering yang biasa disediakan sebagai condiment di tempat makan bakmi Medan. Secara overall ponten untuk hidangan ini 8.5/10. Patoet Dipoejikeun, kalau mengutip penilaian seorang teman peminat kuliner yang dikenal dengan tukang nyicip.

Langsung teringat diskusi waktu WTF! JS beberapa waktu lalu, semua setuju tidak ada sumber informasi kuliner Indonesia dalam 1 atap, dan memang karena kuliner Indonesia yang begitu luas, hingga tidak bisa ditangani hanya oleh 1 badan, harus dikelola secara kolektif. Pada  tahun 2014 Tempo pernah mengeluarkan edisi khusus antropologi Kuliner Indonesia. yang sampai saat ini menurut saya masih merupakan yang paling runut, rapi dan dihimpun dengan serius. Kuliner dengan pendekatan sejarah, dan perjalanan bumbu, lengkap dengan ulasan ekonomi, politik, dan tentu saja mencicipi langsung makanannya. untuk tulisan ini, Tempo mengerahkan 1 team besar, rasanya pasti lebih dari 100 orang. Sungguh usaha yang serius, sayangnya hanya untuk 1 edisi, bukan yang berkelanjutan.

jalur remoah

Menurut Tempo, jalur rempah Indonesia terbagi menjadi 7, yang mana menjadi garis besar aliran kuliner Indonesia, yang nantinya masih akan pecah lagi menurut geografis, karena misalnya untuk Jalur 2 : Jawa, ada ratusan jenis masakan hanya dari 1 provinsi, yang masih bisa dipilah lagi berdasarkan suku, etnis, waktu dan pengembangannya karena asimilasi dan pergaulan. Bahkan kalau menurut saya Kuliner indonesia kalau dijadikan pendidikan, paling tidak bisa menjadi jurusan, bukan cuma sebagai mata kuliah. Coba bayangkan betapa kaya Kuliner Nusantara. Tidak ada salahnya kita sebagai generasi muda Indonesia mulai membuat pendataan Kuliner Indonesia, supaya generasi mendatang masih bisa menikmati Kuliner Indonesia yang sebagian sudah mulai dilupakan dan siapa tahu sambil melestarikan salah satu budaya Nusantara kita bisa belajar lebih banyak lagi dan mendapatkan manfaat ekonomi seperti urang Bandung yang kreatif membungkus kuliner Babi Nusantara dalam 1 piring? dan harusnya bukan cuma babi kan? Mari Makan.

photo : Tempo Edisi Khusus Antropologi Kuliner Nusantara 1-7 Dec 2014

 

 

Standard
Experience, Liburan Lokal

Baluran, Jawa Timur dan Wisata Lokal

image7

Ini Bukan di Afrika lho, ini Taman Nasional Baluran yang lagi naik daun. letak persisnya antara Situbondo dan Banyuwangi.  Baru akhir bulan Juni sempat main dalam rangka ‘ngangon’ ponakan judulnya, yang plannya pun hanya dalam hitungan hari. Here we go.

Ke Baluran ada 2 pilihan, via Surabaya kemudian nyambung naik mobil ke Baluran, atau via Banyuwangi, terus nyambung mobil ke Baluran. Option 1 naik mobilnya itu sekitar 6-7 jam, dan option 2 hanya 1 jam. Saya ambil option 1 karena ponakan kan belum pernah ke Surabaya jadi kita main dulu ke Surabaya.  Nah yang jadi pertanyaan main apa ya di Surabaya?  Kebun Binatang? hmmmm kan macannya pada kurus, Waterboom? next!  Jadinya kita malah ke pasar Atom karena omnya kepengen makan. Habis kangenan dengan bakwan gili dan jajanan pasar Atom, kita malah maen ke Museum Sampoerna ( i know bad uncle yah malah ajakin ke pabrik rokok ), pertama karena banyak Sejarah, kedua ada demo linting rokok, saatnya nunjukin rokok itu tidak manusiawi, karena buruh rokok sampai kerja seperti robot dan bau cengkeh yang menusuk, untungnya mereka enjoy kontennya, dan tidak enjoy bau cengkeh hehehe success.  Sorenya kita main ke hutan Mangrove dan ke Rumah Batik, sebuah usaha kecil dari pak Syarif Usman, mengumpulkan batik dari penjuru Jawa Timur hingga membuat batik khas Suroboyo. Must visit untuk pecinta Batik. (kalau mau info lengkap, bisa japri)

Perjalanan ke Baluran lumayan jauh, jadi disarankan untuk membawa hiburan untuk anak kalau memilih option 1 seperti saya. Dan untungnya ponakan pada bobo begitu di mobil, dan bangun begitu sudah lapar. Bisa singgah di Situbondo untuk lunch, baru dilanjutkan ke Baluran. Kalau ada niat untuk menginap di dalam Taman Nasional, ada 2 option penginapan, semuanya tanpa AC. Pilihannya di pos 1, Savana Bekol, dan di pos 2, Pantai Bima. Yang harus disadari karena penginapan posisinya di dalam Taman Nasional, tidak ada listrik PLN, jadi listrik hanya ada dari jam 6 sore hingga 11 malam dengan menggunakan genset. Seperti halnya semua penginapan sederhana, semuanya simpel dan basic, jadi manage expectation.

Beberapa hal yang perlu dipersiapakan kalau mau menginap di Baluran : 1. Bawa lilin, korek dan senter. 2. Bawa makanan siap makan, bisa dengan membeli dekat pintu masuk taman 3. Bawa penolak nyamuk/serangga 4.selimut/kain pantai 5.snack/cemilan dan air minum 6.Baju dan sepatu yang nyaman untuk hiking. 7.Topi, sunblock dan kacamata hitam.

Pos 2. Pantai Bima, tempat kita stay, jaraknya 9km dari pintu masuk, nama penginapannya Wisma Pilang, tarifnya hanya 200rb/malam. Bisa muat 5-6 orang, cocok untuk keluarga.

Waktu malam lumayan gelap, jadi enaknya tiduran di pantainya bisa melihat langit yang penuh bintang plus waktu kita menginap, ada tambahan bulan yang hampir purnama. Tidur malam enak juga ditemani debur ombak. Buat yang belum terbiasa dengan tidur di alam bebas (seperti halnya ponakan, dianjurkan membawa earphone, atau speaker kecil, untuk memutar lagu), akan banyak bunyi di luar, mulai dari jangkrik, burung hantu, tikus hingga monyet, jadi tidak perlu kaget, ini hutan bang.

Sunrise bisa dilihat mulai jam 5 pagi, dan pagi merupakan waktu paling tepat untuk menyusuri pantai dan hutan bakau. Pantai Bima lumayan panjang dan bisa diexplore oleh anak-anak, bisa dipakai untuk main air juga karena ombak tenang dan pantai landai. eh ada ayunan juga lho hehehe omnya senang deh.

Pos 1. Savana Bekol Jaraknya 6km dari pintu masuk TN. ditandai dengan adanya kompleks penginapan, untuk yang mencari alternatif penginapan lebih murah,disini dihitung per orang.  Ini adalah bagian TN yang paling banyak diphoto dan beredar di sosmed. Dimulai dari rak yang penuh dengan tengkorak Banteng, hingga pemandangan pohon khas Savana, gunung Baluran hingga kawanan Rusa, Banteng, Kerbau, Jerapah, Monyet, beberapa jenis burung dan mamalia besar lain. Kita diperbolehkan stop disini, tapi mobil tidak bisa masuk wilayah Savana. Jalan di kawasan TN harus lebih awas, karena kita berada di rumahnya satwa liar, jadi jangan buang sampah, jangan bawa barang berlebih, pastikan memakai topi dan bawa air minum. Banyak yang bisa diexplore, mulai dari pohon-pohon, monyet yang iseng (hati-hati dengan topi atau botol minuman, mereka bisa dengan santainya merampas lho), kubangan tempat mamalia besar bermain, juga ada tempat minum mereka yang disediakan oleh pihak TN. Intinya jangan terlalu dekat dengan mamalia besar, cukup diamati dari jauh, jangan iseng untuk mengganggu. Ponakan yang kecil sangat antusias, dia bahkan membawa tabletnya, sibuk memotret bunga liar, binatang kecil, kubangan, binatang kecil, bentuk pohon aneh hingga pemandangan yang memang sangat photogenic.  Udaranya juga enak, walaupun matahari nya sentrong, tapi masih ada angin semilir dan bisa berteduh di pohon yang tersebar di wilayah Savana. Sayang tidak berhasil menemukan Jerapah.

 

TN Baluran tempat yang asik buat yang suka mengamati hewan liar di habitatnya, buat saya istilah little Afrika seh kurang ngerti karena saya belum pernah ke Afrika tapi Baluran memang punya daya pikat sendiri. Trust me on this. I’ll be back.

Sebagai summary, Liburan tidak harus ke luar negeri lho, apalagi untuk anak-anak. terutama kalau liburannya hanya ke singapore atau malaysia, coba deh explore liburan lokal, banyak kok yang seru. Generasi sekarang kita ajak mengenal negaranya sendiri. Tak kenal maka tak sayang kan? Keponakan seh komplain habis, malam gak bisa tidur karena berisik oleh suara penghuni hutan, tidur tanpa AC di homestay hingga naik kereta ekonomi, tapi buat saya itu proses belajar kenal negara kita, tentu saja tidak lengkap kalau tidak makan makanan lokal, mulai dari nasi tempong, bakwan malang, sambal petis hingga depot Djangkrik dan Toko Oen yang legendaris. Bukan urusan saya kalau mereka bisa menikmati atau tidak, biar mereka yang memutuskan sendiri.

PS. option closingnya bisa ke Bali, tinggal menyebrang via Banyuwangi, atua ke Malang seperti saya dengan kereta Ekonomi yang berangkat jam 5 pagi. Malang sendri sekarang punya banyak tempat bermain untuk anak-anak. Tinggal gugling yak.

image2

Standard
Cemilan, General, Inspire, Kuliner Lokal, Uncategorized

Bakcang Festival dan Momen.

FullSizeRender

Hari ini hari bakcang, dan baru sadar kemarin ditanyain oleh sepupu kapan mau ambil bakcangnya Gile ini ya mau dikasih eh malah diingetin, kurang tahu diri hehehe.  Hm… jadi ingat dulu kalau hari bakcang itu selalu spesial. Waktunya ngumpul ngobrol ngolor ngidul dengan mama sambil bantu recokin. Kadang bareng dengan tante-tante, lalu nungguin rebus parcel kecil itu semalaman, dan paginya bangun bersemangat mau sarapan bakcang yang masih mengepul. Semakin umur bertambah jadi semakin menghargai momen.

Bakcang sendiri banyak nama dan jenis, tapi tidak perlu bahas bakcang negara lain ya, di Indonesia aja saking banyak jenisnya gak sempet nyicip atu-atu. Konon seh bakcang dibuat sebagai rasa penyesalan kaisar setelah sang pemaisuri menenggelamkan diri di sungai karena sang kaisar tidak perhatian. Bakcang dibuat untuk makanan ikan di sungai supaya jenazah sang permaisuri tidak digerogoti. anyway… kisah ini bukan yang diceritain di keluarga seh, ini hasil gugel aja.

Bakcang adalah jenis makanan yang dibungkus daun, yang berisi ketan/nasi yang  membungkus lauk dan dikukus/rebu sampai empuk. Bakcang yang kita kenal di indonesia terbagi jadi 2 genre besar, dengan bahan beras  (yang dominasi di Jakarta, Bogor, dan sebagian Jawa) dan dengan bahan ketan (selain yang disebutkan di bagianberas). Untuk pembungkus, dipakai bermacam daun bambu. Untuk lauk isian tergantung keturunan suku, kalau hokkian cenderung mengisi dengan babi cincang kecap, kalo konghu dan tiociu, biasanya dengan kombinasi kacang hijau kupas, telur kuning asin dan daging babi acar bawang. Nah ada juga adaptasi lokal dengan mengisi kacang tanah atau bahkan tanpa isian, namanya Ki cang, yang dimakan dengan gula pasir atau seperti lupis dengan parutan kelapa dan gula merah cair.

Dalam keluarga sih bakcang itu simbol silahturami, mama biasa buat bakcang dalam jumlah banyak, untuk dibagikan ke semua keluarga besar, dan dihitung lho harus buat berapa pcs. Persiapannya rumit dan panjang, minimal 2 hari. Karena keluarga kita keturunan kong hu, maka persiapan lauk isinya lebih banyak jenis  Ritual dimulai dari merendam kacang hijau, sampai kulit ari hijaunya terkupas, kacang hijau jadi kelihatan seperti kedele. Lalu daging babi yang harus banyak lemaknya, diacar dengan bawang merah, rempah dan garam, direndam selama 2 malam supaya bumbu meresap dan telur asin hanya bagian kuningnya. Ada variasi lain dengan jamur, ginko, kacang tanah dsb . Bahan utamanya ketan yang direndam min 1 malam juga. Kebayang kan time consumingnya.

Ritual bungkus juga gampang-gampang susah, eh harusnya susah-susah gampang, Karena manual, harus bisa kerajinan tangan melipat daun bambunya, sambil meracik isi nya seperti koki, lalu membentuknya seperti arsitek, dan menutupnya dengan tegas seperti butcher. Dari semua keluarga besar, sepertinya garis keturunan kedua tidak ada lagi yang menguasainya, sepertinya budaya membungkus bakcang sendiri akan kita bunuh di generasi saya dan semua sepupu, dengar….. ini tanggung jawab bareng yah.

Tapi percayalah, bakcang yang enak itu tidak dibeli di toko (maap ya juragan bakcang yang terhormat, saya suka beli juga kok di hari biasa…) tapi bakcang yang dibuat oleh mama atau kerabat dekat kita, yang dibuat dengan penuh cinta kasih dan sambil dihitung berapa lagi bakcang yang harus dibuat supaya semua kebagian. the love and care. Tuh momen lagi kan. ini ngomong bakcang atau momen seh? – ( eh thank you buat tante ellen, bakcangnya sudah beristihat tenang di perut)

Suka lupa ya kalau banyak yang lebih penting dari apa yang dikira lebih penting (baca : KERJAAN KANTOR), dulu sempet baca ntah dmana, kalau ada kesempatan bersama keluarga, atau teman terkasih, mind setnya harus ganti, bukan coba menunda dengan alasan sibuk, atau ketemu trus nyambi bales email or chat ya semacam take it for granted lah. Ehhh…  waktu kita di dunia itu terbatas lho dan kita tidak tahu kapan dipanggil, jadi mind setnya harus ganti jadi kapan lagi kita bisa ngumpul? kita tidak tahu kan? anggap aja ini selalu jadi momen kita yang terakhir. Agreed?

 

Standard
Do It Yourself, Entrepreneur, Experience, Uncategorized

Battle of Comfort VS ‘whatever’-preneur

 

Screen Shot 2016-06-07 at 1.33.02 PM

Sudah sering kan dengar teman atau temanya teman atau yang share di sosmed mengeluh soal kerja atau kerjaan, mulai dari merasa tertekan karena kerjaan, rekan kerja, atau bahkan karena bos (tentunya), belum lagi load kerjaan, jenis kerjaan hingga alasan lain yang kadang membuat alis kanan mendelik.. (gak enak, kantornya di mall!!) Menurut ngana?

Dan rasanya juga sudah sangat umum kalau mendengar komprominya, ya udah toh, kerjaan sekarang susah dicari, anak masih perlu susu/sekolah/makan, kasian istri/mertua/orangtua, dsb hingga dia akan tetap stay di kerjaannya, takut mencoba hal yang dia lebih suka/prefer dan terus mengeluh sebagai solusinya. Klasik.

Atau mungkin ada yang mendengar temannya itu nekad keluar dari kerjaannya, entah itu merintis usaha sendiri atau jadi freelance/konsultan/advisor, langsung semua bersorak entah mewakili ketertindasan sendiri atau secara tidak langsung nyinyir liat aja situ tahan berapa lama, intinya semua menyatakan salut atas inisiatif dan keberaniannya untuk keluar dari comfort zone dan mulai menjalani apa yang menjadi passionnya. Familiar?

Well, dari hasil ngobrol dan ikutan ngambil jalur ke-2, ada kesimpulannya, untuk apapun alasannya mulai menjalani passion atau stay di comfort zone, harus jelas sebenarnya apa yang kita kejar. Semua option itu ada konsekuensinya, dan kalikan resiko itu hingga 5-10x dari yang dibayangkan, kalau sudah siap menerima, silahkan ambil pilihannya.

Mungkin yang bisa dishare soal ‘whatever’preneur, coba deh mulai dari hal paling simpel, mau nyari apa sik? jangan sampai kejeblos sebelum mengenal lebih jauh. Dan pleaseeee… jangan ganti haluan hanya karena mentok di kantor atau  sebagai pelarian karir. Coba deh cari tahu dulu apa yang menjadi passion. gali lebih dalam, ngobrol dengan yang sudah lebih senior, cari tahu literaturnya, praktekan bahkan kalau memungkinkan coba mulai dari skala kecil. Kalau sudah mulai mantap dengan passionnya, boleh mulai branding diri, buat asosiasi passion itu dengan kita, mulai dari sosmed, lingkungan kerja bahkan sosial. Jadi kalau ada yang mau tau hal related dengan passion itu, kita akan dikenal sebagai at least enthusiast nya. Ini yang saya petik dari event WTF Jalansutra minggu lalu.

Dan follow your passion is great, tapi yang lebih great lagi, responsible for your choice and live it like no tomorrow. At the end, gak penting orang ngomong apa tentang lo, yang jalanin dan hidupkan lo sendiri. Got it? cuss

Screen Shot 2016-06-07 at 1.27.06 PM

Update : dan ternyata ada video yang related neh dari Joe Silva, check it out

How to find your passion

Speaker: Jason Silva
Original Video: https://youtu.be/HScOL_aOMrw
Jasons Facebook Video:https://www.facebook.com/jasonlsilva/videos/1700545290209749/

 

 

Standard
Uncategorized

WTF! Urban Food Movement

Yup, bukan WTF yang itu, ini Writing, Travel dan Food, Tema dari JS aka Jalansutra. Komunitas yang bermula dari artikelnya pak Bondan, yang menjelma jadi 13k member, yang kemarin merayakan ultah ke 13, kalau anak remaja umur 13 neh lagi musim pancaroba. Ini erat berkaitan dengan perayaan yang beda kali ini, dengan mengusung topik Urban Food Movement, ultah yang biasa dimeriahkan dengan potluck makanan, yang biasanya makan-makan sampe bego, kali ini dimeriahkan dengan potluck ide, yang kalau diserap semuanya bisa keblenger juga. But wait…. off course ada makan-makan dong, namanya juga JS

FullSizeRender

Tadinya sempet pesimis, anak JS biasanya hiperaktif, kalau disuruh duduk dari jam 9 pagi sd jam 5 sore, bakalan bisa gak ya? mana akan ada 18 topik presentasi @15 menit, kebayangkan liat presentasi hari Sabtu?  Tapi NOO, it’s an eye opening. Komunitas yang digagas dari ide suka makan dan jalan2, lalu share, ternyata membawa anggotanya menjalani perubahan signifikan dan hidupnya, mendalami passion dan hidup di dalamnya. wow how cool is that.

Dengan tidak mengesampingkan siapapun yang tidak disebutkan di sini, ada beberapa presenter yang mengesankan, dimulai dari Batara, yang entah kesambet apa, sesudah menghabiskan waktu di luar Indonesia malah kembali ke Indonesia, untuk melestarikan makan lokal??? yang idenya mendasar pada produk pangan lokal dan menjaga kelesarian makan lokal yang ternyata idenya juga senada dengan Banyumurti, Cooking Mama Papanya Euis, Ono Nihanya ibu Noni, Gerakan Minangkayo dari Trio Reno, Febi, Ichil, atau Mama Makasarnya Nat. Mungkin ada beda interest dan sudut pandang, tapi semua punya benang merah yang sama.  Yang langsung menjadikan pertanyaan, apa yang bisa dibantu ya? apa kita harus buat semacam crowd writing, yang bisa menampung aspirasi mereka semua dan menjadikannya sebagai Kulinerpedianya Indonesia. Hm… minat diskusi lanjut? kontek saya deh 🙂

Topik menarik lainnya adalah teh dan kopi, JS punya master di bidang ini, Bambang Laresolo dan Ratna Soemantri berbagi cerita, catatan untuk presentasi Bambang adalah passion can become your business/job, dan ini bukan isapan jempol, di JS sudah banyak contoh, selain Bambang dan Ratna, ada Yohan, Adi, Grace, Lita, Letta (dan masih banyak yang lain) yang sudah berlabuh di passionnya di dunia F&B secara profesional.  Master kopi JS  Adi @peminumkopi berbagi mimpinya untuk Coffee Lab yang katanya akan segera launch… yooohooo can’t wait for it. Thanks untuk bagi2 kopi dari pu er. Tastenya light, menyenangkan untuk hari Minggu yang rilex.

Sayangnya dari Tepian tidak sempat berbagi tentang Collective farmingnya, padahal itu topik yang ditunggu, paling tidak ada Benny yang berbagi pengalamannya untuk Urban Farming, setuju banget dengan idenya, kita tidak perlu komplain ini itu soal krisis pangan, mulai dari kita sendiri, apa yang bisa kita tanam untuk kebutuhan sehari-hari, mungkin tidak untuk setiap hari, tapi kalau dalam 1 bulan ada 1 hari kita hidup dengan apa yang kita tanam sendiri, bayangkan kalau itu ada 1000 keluarga? atau 1 juta keluarga? berapa banyak pangan yang bisa dihasilkan oleh kita sendiri? coba mulai dengan pot, polybag atau dengan contohnya Benny, kotak minuman susu anaknya yang biasa dibuang, yang sudah menjadi tempat tumbuh Kemangi.

Passion di bidang Kuliner juga membawa Gerry, yang terkenal sebagai anaknya Lita menjadi salah satu pelaku pop up market dan the man behind Puyo, yang walaupun mungkin paling muda diantara yang hadir, tapi sudah berkiprah kencang, atau Iqbal yang juga salah satu teman dekat, yang saya lihat sendiri berkembang jauh pesat setelah menemukan passionnya dan bersiap-siap melahirkan Bungkuss.com. Yang surprise adalah Madre, konsep makanan rumah yang buat jadi nasi bungkus daun yang cihui, sempet icip se-dua sendok dari Gres dan Rujak pengantennya yang yummy.

Secara overall, bener seh, keblenger dengan semua ide yang dipresentasikan, tapi keblenger yang mungkin jadi seperti pecutan, hayoo segera mulai….. , when you gonna start to work on your dream? what stop you? Well, perut kekenyangan juga seh, dimanjakan dengan jajanan Makasar dari Mamanya Nat, belum lagi Chef Ragil membuat saya harus rela makan ayam suwir pedesnya walaupun dalam pemulihan Tipus dan Ikan saos Tempoyaknya yang smoky… juarak!. Plus seperti biasa kalau anak JS luar kota suka membekali teman2 Jakarta dengan jajanan. Dapat ketan Cirebon dari Jurangan cantik Cirebon dong.

Ultah kali ini meriah, kenyang perut dan otak, dan motivasi. Jangan kapok panitia ya.. Lita, Gres, Harnas, You guys done a great job. Bravo! Thanks juga buat pak Bondan, you start the movement and now unstoppable. Ditunggu lagi event yang wowww.                    Plus Bir Bintang yang refill terus dan dioleh-olehin goodie bag dari Anggur OT. How i miss my buddie during my services in there 🙂 

IMG_8643

 

 

 

Standard
Experience, Uncategorized

Life after work.

kaki

Bukan subjek yang suka dibahas seh, mungkin karena gak penting dan tidak relevan, plus cape mikir karena masih lama keleussss. Postingnya mbak Riri tentang artikel “Hidup Senang Selepas Masa Kerja, Bisa gak sih? http://liveolive.com/post/view/650-hidup-senang-selepas-masa-kerja-bisa-nggak-sih ‘ jadi tergoda untuk ikutan nulis, berdasarkan pengalaman pribadi tentunya. Gak ada tendensi untuk menggurui, cuma semacam komen aja seh 🙂  semoga kepake deh.

Prinsipnya simple seh cuma gimana punya penghasilan diluar dari gaji kantor. Dulu waktu gaji masih imut, rasanya gak pernah kecukupan, tapi dipaksain nabung masih bisa lah, pas gaji naik banyak pun, tetap aja gak kecukupan, nabung gak nambah, gaji keburu habis sebelum bulan habis. untungnya punya prinsip ogah ngutang apalagi ke kartu kredit. Tapi yang namanya tabungan 0(nol) besar.  Sampai suatu ketika Sales Director yang orang asing memberikan tamparan pedas tentang gaji seharusnya ditabung min 50%, BAHKAN DIANJURKAN 70%. WHATTTT???  dan semuanya ditabung untuk jadi KAPITAL. You have to work for CAPITAL, not salary.

Reaksi pertama GAK BISA! gaji gw berapa vs Loe???  Tapi setelah mikir2 hmmm masa seh gak bisa ya? coba kalau berpikir positif dikit, apa yang terjadi kalau gaji 50% langsung ditabung, apa yang harus dilakukan? seketika itu merasa tercekik. Tentu saja prosesnya gak segampang nulis ini, tapi intinya harus merubah semua, including gaya hidup, kebiasaan, secara drastis.  Sampai hari ini pun masih belajar. Tentuin Prioritas, banyak belajar dan siap untuk hidup tidak nyaman, sampai dijauhi teman pun akan jadi imbas perubahan itu. Selama siap dengan konsekuensinya, untuk menjawab artikel “Hidup Senang Selepas Masa Kerja, Bisa gak? ” BISA BANGET.

pertanyaan lebih tepatnya, siap dengan segala macam konsekuensinya?  lebih penting mana, hidup hura2, nikmat sekarang, tapi besok belum tahu? atau hidup cukup hari ini, tapi besoknya ada jaminan gak bakal susah. YOUR CHOICE. 🙂

 

 

Standard