Cemilan, City Escape, Experience, Food Battle, Kuliner Lokal, Liburan Lokal

Kuliner Wajib Halal Palembang bag.2 (Chapter Masakan)

Kalau secara garis besar, masakan Palembang harusnya masuk trah Melayu, tapi karena sejak Jaman Sriwijaya Palembang adalah melting pot, tidak bisa dihindari adanya perpaduan dengan pendatang China dan Arab, plus adanya transmigrasi di tahun 70an, membawa pengaruh Jawa ke tatanan kuliner lokal. Interaksi dengan wilayah sekitar juga memperkaya perbendaharaan kuliner Palembang.

Disclaimer kali ini adalah semua rekomendasi disini adalah masakan yang dianggap trade mark Palembang walaupun bisa saja itu bukan makanan asli Palembang.

RM Pindang Meranjat – Demang Lebar Daun. Resto ini sudah tergolang senior dalam urusan pindang, mengusung pindang tarikan daerah Meranjat yang kuahnya cenderung lebih gelap, kuanya lebih light dari segi bumbu, tapi tetap nendang. Yang paling umum memakai ikan Patin, tapi kalau tersedia ikan Baung, harus dicoba, karena jenis ikan air tawar ini tidak dibudidayakan, jadi secara tektur akan lebih liat. Pindang Udangnya juga layak dicoba. CIri khas lain adalah sambal embem/mangga muda, yang cenderung kecut manis pedas. Menyegarkan sekaligus memuaskan.

RM Sri Melayu – Demang Lebar Daun. Resto ini merupakan tandem dari Meranjat, dengan tempat yang lebih luas dan banyak pilihan setting, dari meja biasa, lesehan hingga pondokan,. Menu juga cenderung lebih lengkap. Pindang adalannya juga serupa, tapi dengan trah pindang ini kuahnya cenderung lebih cerah, bumbunya lebih medok dan kental. Wajar kalau pindang tulang yang cenderung lebih berlemak, tapi tidak menjadi berat karena bumbu dan asam yang mendominasi. Menu favorit saya yang lain adalah ikan seluang goreng, sebenarnya hanya ikan kecil yang biasa mengganggu pemancing di sungai , tapi sedap sekali dipadukan dengan sambal calok (terasi). Buat yang mau coba pepes tempoyak, ikan patin yang dibungkus daun dan dibumbui dengan durian yang difermentasi. Aslinya merupakan masakan khas daerah lahat . Tastenya sedikit aneh buat yang belum terbiasa, tapi ini merupakan menu spesial yang sudah semakin langka.

RM Pagi Sore – Jendral Sudirman/Kol Atmo. Resto legendaris pilihan kedua saya, no.1 seharusnya Sari Bundo, cuma berhubung Sari Bundo sudah tutup, Pagi Sore menjadi incumbent deh. Jenis masakannya adalah Minang Melayu, jadi sekilas kelihatan seperti resto Padang. Kalau dicermati, ada perbedaan mendasar seperti rendang, yang dimasak hingga kering dengan bumbu seperti gumpalan lumpur, penggunaan lauk yang lebih variasi seperti udang, ikan hingga side dishnya. Sambal merah dan hijaunya merupakan bagian tak terlepaskan dari semua masakan lain. Buat yang di Jakarta resto ini bisa ditemukan di Fatmawati.

RM HAR – banyak cabang, diantaranya Kol. Atmo atau Jendral Sudirman. Hanya ada 1 menu, martabak telor dengan kuah kari kambing, Makanan legenda ini berakar dari budaya keturanan Arab di Palembang yang hingga kini sudah dianggap makanan local. Kulit martabak yang diolah hingga lebar, diisi dengan telur bebek dan digoreng dengan minyak samin. Wangi adonan kulit yang digoreng garing sangat cocok dengan kuah kari kambing dengan kentang sebagai saosnya, dan dimakan dengan cabe kecap sebagai penyedap. Ini makanan yang seharusnya illegal, addicted.

martabak-har

RM Sari Nande, Mayor Ruslan. Salah satu pesaing urusan pindang, segala macam kuliner klasik Palembang bisa ditemukan disini. Secara tastenya sangat dekat dengan Sri Melayu, tapi cenderung lebih light. Kuah pindang disajikan dengan burner yang menjaga kuah pindang tetap hangat, taburan kemangi yang menyedapkan dan memberikan aroma khas pindang. Yang menjadi ciri khas mereka diantaranya pepes Belido. Worth to try. Secara personal kalau harus memilih diantara 3 jagoan pindang akan berurut Sri Melayu, Sari Nande, Meranjat.

River View, Benteng Kuto Besak. RM ini masuk review ini bukan karena makanan, cuma karena letak strategis kalau dinner disini viewnya jembatan Ampera.

Mie Celor 26 Ilir, 26 ilir.. Mie celor adalah mie rebus ala Palembang, mie kuning dengan kuah kental kaldu udang dan santan, dengan taburan udang rebus cincang dan telur rebus. Dari sejak kecil tempat ini sudah melegenda, walaupun tempatnya sederhana dan agak jauh dari pusat kota. Kalau waktu kunjungan agak mepet, bisa ke Pujasera Veteran, tapi kurang aware ya cabang resmi atau bukan.

Sebenarnya ada yang harus dicoba juga kalau ke Palembang, jajanan pasar, agak tricky karena belum ada tempat yang menjual seperti halnya Monami di Jakarta, jadi harus ke area pasar, atau kalau mau jam 6-7 pagi ke Lap hatta, ada banyak penjual kue basah. Andalan saya selalu Talam Ebi, Bakcang ketan, Roti Goreng, Susu kacang fresh dan Bongkol.  Selamat hunting makanan di Palembang. Tell me what you think.

All picture are taken from Tripadvisor

Standard
City Escape, Experience, Food Battle, Kuliner Lokal, Liburan Lokal

Kulineran Wajib Palembang Halal bag.1 (Chapter Pempek)

Nah… kalau untuk yang ini malah listnya lebih panjang, secara garis besar adalah pempek dan non pempek J jadi untuk bag 1 nanti akan lebih dibahas pempek dan teman-temannya, baru bag.2 kita bahas yang non pempek. (note: di Palembang sebutannya adalah pempek, bukan mpek2 seperti di Jakarta)

Untuk disclaimer, Lupakan semua pempek yang biasa dijadiin oleh2 kebanyakan turis (C*#dy, R*&en, atau V&*o), rasanya sudah sangat Jakarta, jadi tidak dianggap original, dan karena saya besar di area seberang ilir, jadi akan lebih dominan di wilayah seberang ilir, di seberang ulu mungkin ada yang lebih enak, tapi that’s not my playground (seperti halnya Jakarta Timur buat saya sekarang)

Pempek Ek – Jalan Baru-Dempo Luar. Terkenal sebagai tempat yang menyediakan pempek ikan belido setiap hari, ukurannya termasuk bite size (dibaca imut),dan jangan salah, tempat ini terkenal juga sebagai pempek termahal di Palembang. Tapi percayalah, ada barang ada harga, untuk rasa, harus diacungin 4 jempol, kekenyalan pempeknya pas, rasa ikannya enak dan kuah cukonya mantab. Tanpa sadar sudah habis 10 pempek adaan nya. Model dan Tekwannya juga sangat dipoejikan. Item lain yang harus dicoba juga adalah pangsit ikan, dengan kuah seperti tekwan, kulit pangsitnya dibuat dari bahan pempek, dengan isi udang, yang ini WAJIB. Eits jangan takut kalau temen2/Keluarga di rumah gak bisa ikut nyobain, mereka juga menyediakan take away pack yang bisa dijadikan oleh2, siapin aja duit yang extra

Pempek Dolar – Dempo Dalam. Buat saya pempek tunu (panggang) terenak di Palembang ada disini, pempeknya wangi dan kuah cukonya yang kental dan wangi, dan dengan menulis ini saja langsung terbir air liur. Dan nama Dolar itu sendiri ada alasannya lho…. konon karena ukuran pempeknya sebesar ukuran dolar koin, dan harganya tentunya hahaha (konon lho ya…). Es kacang dan model ikan-nya termasuk lumayan enak, tapi bukan yang terbaik.

Pempek Saga – Depan walkot, jalan Merdeka. Ini adalah versi mutannya Pempek Ek, dengan harga sama dapat versi yang lebih gede, dan rasanya cuma sedikit levelnya dibawah Ek. Secara trah memang beda perguruan, kalau Ek itu anggun seperti putri Solo, kalau Saga itu seperti Putri Sunda yang lebih lugas. Pempek Lenggannya juga enak dan es campurnya termasuk enak, tapi bukan yang terbaik menurut versi saya lho ya.

Pempek Lenny – jalan Petanang, Veteran. Kalau tempat ini sebenarnya jarang didatangi, lebih sering order untuk bawa ke Jakarta, terutama untuk pempek mie dan pistel (seperti kapal selam tapi isi papaya muda yang dimasak dengan ebi dan bawang). Harus yang rebus ya, karena 2 jenis pempek ini lebih nikmat kalau dalam bentuk original. Dan yang paling penting harganya value for money banget. Kapal selamnya juga enak. Gugling aja pasti ketemu no telp nya kok.

Pempek Beringin – Jalan Baru, dempo luar. Kalau menyimak di tulisan kuliner non Halal Palembang, letaknya persis di sebelah Bakmi 88. Punya menu lengkap untuk perpempekan, pempek Tunu dan lenggang pangganya nya termasuk yang enak, dan jangan lupa nyobain menu khas palembang lain seperti celempungan (bola-bola pempek dengan kuah santan berbumbu) atau burgo (terbuat dari tepung beras, dengan tekstur seperti kwetiau dengan kuah santan berbumbu).

Pondok Pujasera – Veteran. Ini semacam foodcourt, kalau tidak banyak waktu dan ingin makan beberapa jenis makanan sekaligus, ini tempat yang harus disantroni. Mulai dari es Mamad yang terkenal di lap. Hatta, Mie Celor 26 ilir, Martabak HAR, pempek wawa, dan masih ada beberapa lagi yang tidak ingat. Praktis dan hemat waktu.

Kalau yang ini diluar konteks per-pempek-an, tapi karena jajanan favorite saya, jadi harus dilist juga deh hehehe

Es asuk koboi – Dempo Luar. Tempatnya dekat dengan mie Aloy, konon merupakan es campur terenak di Palembang, terutama es kacang, cincau, alpukat atau campur. Kacang merahnya super lembut dan manisnya ada sedikit karamel (burn) karena proses masaknya yang lama. Tempatnya kecil dan panas, jadi sebaiknya bungkus, kumpulin beberapa kulineran lalu digelar ditempat yang lebih lega ☺ ps : Senin tutup. Dan diseberang tempat ini ada tempat jual model gandum gerobakan, nah jenis makanan ini agak jarang di Jakarta, silahkan dicoba, murah meriah dan memorable.

Photo courtesy of Arie Parikesit – IG @arieparikesit

Standard
City Escape, Food Battle, Kuliner Lokal, Liburan Lokal, non HALAL

Kulineran Wajib Non Halal Palembang!

 

Pertanyaan paling sering yang ditanyakan teman, ke Palembang itu ngapain sih? Jawaban standard selalu : MAKAN. Tapi nextnya malah jadi lebih ribet karena mulai deh harus list down makanan apa aja yang kudu, wajib untuk disantroni. Secara saya kan penggemar perbabian, jadi tentu kita selalu mulai dari ibab. Berikut pilihan favorite saya, tidak berdasarkan rangking ya.

Mie Terang Bulan (Sin Chiau Lok)– Pasar Sayangan. Ini termasuk bakmi legend, sudah masuk generasi kedua, dan sangat tradisional. Buka tepat jam 4 sore sd 8.30 malam teng, jadi jangan harga bisa order diluar jam tersebut. Menu utamanya Mie, Mie goreng dan pangsing goreng. Mie yang dimaksud adalah bakmi kering, tekstur mie kenyal dengan toping daging babi cincang, dan tentu saja jeruk kunci (kalamansi). Mie gorengnya cenderung agak basah, dengan limpahan daging babi, udang, jeroan dan sayuran, dan cabenya yang cenderung seperti paste, memang tidak ada tiganya. Dan tentunya harus ditemanin dengan pangsing goreng. Pangsit gorengnya beda dengan GM yang rapu, pangsitnya cenderung lebih garing dan isiannya melimpah, dan porsinya tetap 20 pcs, jangan pernah minta porsi lebih kecil, karena pasti akan jutekin “kalau tidak bisa habis, gak usah pesen!’. Keunikan lain kalau pesen mie untuk dibungkus , gak bakalan dibungkusin kuah, kalau mau kuah, harus bawa container sendiri. Dung. But trust me, it’s worth the wait and patience. Harus Sabar yah…..

Mie Aloy – Dempo Luar. Kalau bakmi ini sudah menjamur di Jakarta, tapi sediakan waktu untuk berkunjung, karena yang kita nikmati bukan hanya mie nya, tapi juga pengalamannya. Tempat ini sudah buka dari jam 5 pagi untuk melayani yang suka berolahraga pagi dan sekarang buka hingga malam hari (dulu hanya sampai lunch time). Topingnya juga banyak macam, dari babi cincang, chasiu, rica, dan ayam jamur. Yang istimewa adalah toping untuk kuah, mulai dari segala macam jeroan babi, usus, hati, ginjal, darah hingga macam-macam bakso. Yang harus dicoba juga adalah gohiong. Karena mulai dari konsep kopitiam, tentu ada telur ½ matang dan kopi. Jadi buat saya ini semacam institusi ketimbang sekedar tempat makan. Btw hampir setiap hari si ownernya, Aloi masih ikut meracik mienya lho, just say hi.

Mie Anlok – Pasar buah. Terletak  disudut sebelum pasar buah, tempatnya kecil dan mojok, humble dan homie, hanya ada paling  5 meja. Mie di Palembang normnya adalah kering, tapi disini yang selalu saya order adalah mie kuah. Tekstur mie nya cenderung lebih lembut dibandingkan aloy ataupun terang bulan. Sangat cocok untuk sarapan sambil ditemani es kopi yang menurut saya lebih enak dibandingkan dengan Ta’kie sekarang.

Mie 88 – Jalan Baru- Dempo Luar. Nah ini juga termasuk early riser, kalau mau sarapan jam 6 pagi mereka sudah ready. Seperti halnya Aloy, mereka juga menyediakan macam-macam toping kuah dan asiknya tempat ini bisa sambil pesen pempek d sebelahnya, pempek Beringin, pempek tunu (panggang) nya sangat menggoda. Tekstur mienya lebih lembut dari Terang Bulan, dan cenderung lebih gurih. Kalau mau beli kue-kue pasar juga ada, termasuk talam ebi. Yumm.

RM Tokyo – Sayangan, lorong panglong. Umur tempat ini sudah lama, dan pastinya bertahan karena alasan yang jelas, makanannya cihui. Masakannya adalah klasik Chinese food, termasuk babi lapis, bola udang, ayam pekcamke (ayam rebus) dan jiu chai hua (sayuran, gak nemu bahasa Indonesianya apa). Tempatnya juga masuk gang kecil, jadi disarankan parkir di depan gangnya. Setelah makan disini, kalau masih punya ruang di perut, sepanjang jalan masuk gang adalah china townnya Palembang, jadi banyak makanan enak, di depan gang sebelah kiri ada mie yang tidak ada namanya, termasuk tempat yang sering dikunjungi kalau mau makan cepat dan enak.

Kedai Akiun – Lap Hatta. Suka tempat ini karena spesialisasinya adalah babi panggang Bangka, jadi tidak perlu jauh-jauh ke Bangka kalau lagi ngidam, babi panggangnya dengan bumbu yang masih agak basah nempel di dagingnya, moist tapi garing, plus bagian fatnya tipis, ngomonginnya saja sudah ngiler. Masih ada sate babi dan ngohiong yang patut dipoejikan.

RM Sumber Rasa – Kol Atmo. Sebenarnya makanan babinya tidak terlalu istimewa, cuma untuk makanan ala tio ciu agak jarang di Palembang, bisa jadi alternative yang tidak kalah enak. Sop perut ikan dan Hotplate daging menjangan malah jadi andalan. Bakutnya lumayan, yang agak ribet cuma karena tempatnya kecil dan pelanggan banyak, lebih baik datang untuk early dinner or sekalian agak malaman (jam 8.30 consider malam di Palembang)

PS. karena Palembang kecil, jadi tidak akan susah menemukan tempatnya walaupun tidak detail, tinggal nanya di area tersebut, pasti akan ktemu kok. eits yang asli Palembang jangan protes, ini kan pilihan personal saya 🙂 peace!

 

Standard
City Escape, Experience, Kuliner Lokal

Arti Sepiring Nasi Ayam

Hampir semua chef ternama akan sependapat kalau chef dengan skill dan sense terbaik bisa dinilai dari masakan yang paling sederhana, semakin simple maka akan menunjukan keahiliannya dalam mengolah bahan pilihan menjadi kuliner yang ‘manjain’ dan ‘ngangenin’ lidah dan kalau ditambahkan ke dalam dunia  bisnis harus ada tambahan kata konsisten dan ‘experience’ sehingga bisnis kulinernya akan jadi legendaris.

Contohnya banyak, kalau di Jogja orang lokal akan menunjuk ko diam, legenda nasgor yang simple dengan waktu tunggu standard 1 jam, atau Yu Djum, Gudeg Jogja tidak akan seterkenal sekarang kalau tidak dengan dibuat jadi standard dan simple. atau gres & ben akan setuju dengan bakmie nya Mbah Mo, yang dimasak dengan kasih dan anglo. dan akan muncul nama lain yang segera jadi daftar  panjang karena setiap orang punya jagoannya. Monggo lho ditambahkan sendiri.

Tapi untuk ini spesifik akan dibahas soal Nasi Ayam Hainam, terus terang agak sebel ya kalau hidangan yang sederhana ini kok ya di Jakarta tidak ada yang cetar, konon di Sing yang paling enak dan mahal ada di chatter box, yang kalau disini tidak lebih dari hidangan standar, atau konon Pandor punya nasi yang cihui, yang ternyata nasinya kurang gurih dan ayamnya agak lari dari pakem Nasi Ayam Hainam idaman. Mungkin harus disamakan persepsi dulu, pakem Nasi Ayam  Hainam yang enak adalah dengan nasi yang harum, paduan kaldu, jahe, bawang putih dengan tampilan nasi yang lembab tapi tidak pulen, masih terberai seperti halnya nasi padang. Untuk Ayamnya kulitya harus cenderung pucat, tekstur kulit halus dan daging ayamnya lembut dan wangi. Paduan ayam yang aromatik tapi juga tidak menutupi rasa dagingnya, lengkap dengan kuah siraman yang cenderung menjadi pelengkap rasa, bukan yang medok menutupi semua rasa ayamnya.  Pencarian ayam hainam di Jakarta semua berakhir dengan komen, enaknya seh, tapi bla bla bla bla.. seperti katanya ciptaan Tuhan tidak ada yang enak sempurna. Sigh..

Dan begitu ada kesempatan balik ke Sing, questnya cuma 1, nyari Nasi Ayam Hainam, yang konon paling enak, namanya Tian Tian di Maxwell Foodcourt di China Town. Wait… sebelum berargumen lapak lain, ini memang dicari yang ada di hawker center, bukan resto dengan label harga cafe. Singkatnya, stall ini kecil, hanya 2 petak dari ukuran standarnya hawker di Sing, tapi antriannya lumayan lama, sekitar 50-60 customer lain di depan, plus sesudah kita selesai antri, masih ada jumlah kurang lebih sama di belakang.

Mari kita bandingkan dari sisi harga, 1 porsi nasi Ayam Hainam $5.50 atau 53rb IDR. Lumayan Mahal ya… terutama karena pembandingnya adalah Nasi Campur Babi lengkap dengan bebek panggang standar hanya $3.5. Secara harga sudah premium. Tapi dengan antrian dalam 1 jam lebih dari 120 customers antri, yang semuanya beli lebih dari 1 porsi, seharusnya harganya tidak masalah.

Dan apalagi kalau sudah mencoba ayamnya, rasanya harganya plus antrian 30-60menit, rasanya sepadan seh. Tidak heran mereka bisa bertahan, walaupun digempur dengan jenis makanan baru, belum lagi persaingan sesama nasi ayam, bisa dibilang quest mencari Nasi Ayam Hainam sempura boleh dikatakan sukses, saya menemukan 1. Tian Tian. Tampilan Ayam yang begitu sederhan dan garnisnya pun  hanya sedikit ketumbar dan kuah kental. Semua gambaran ayam rebus sempurna, kulitnya halus dan lembut, daging empuk dan wangi ringan kombinasi jahe, bawang putih dan daging ayam.Nasinya juga juarak… tidak lengket, ringan dan cocok dg kuahnya. Semua begitu sederhana, polos, tapi memberikan komibinasi dengan ponten 10. Ke sing pasti akan diabsen lagi deh, untuk mengecek konsistensi sehingga bisa mengalami experience yang sama dengan orang Sing lokal. #halah

IMG_9489

PS : dalam gambar adalah whole chicken, harganya 24$, btw utk harga nasinya 70cent

Standard
Antropologi Populer, Cemilan, Experience, Kuliner Lokal

Kuliner Nusantara dalam 1 porsi

Screen Shot 2016-07-11 at 10.58.11 PMBermula dari libur lebaran yang diisi dengan makan dan makan, plus ngobrol ngolor ngidul dengan sahabat lama, mendaratlah kita di tempat makan yang lagi hits, yang menyajikan Nasi Campur Babi Indonesia, betul BABIK.  Yang kalau dari penampakannya, bisa langsung ngeces kan. Tergolong unik karena belum ada resto sejenis yang menyajikan keanekaragaman makanan indonesia non HALAL yang dimasak dengan serius dan lengkap. Tanpa disebutkan namanya pun, penduduk Jakarta akan dengan mudah menemukan tempat jualnya. Dan yang menariknya pengusaha yang membuka tempat makan ini bukan orang Jakarta, tapi urang Bandung, masih muda dan rasanya intuisi bisnisnya mumpuni.

Kalau harus menganalisa satu persatu makanannya, mungkin saya kurang kompeten, tapi jenis masakannya sangat bervariasi, sangat berani dengan bumbu, mulai dari sejenis rendang batokok basah lengkap dengan sambal merah nan meriah, babi panggang Bali dengan sambal matah yang nendang, babi panggang Karo yang moist, lengkap dengan sambal ijo dan sayur daun singkong teri yang pedas dan menghentak, dan satu-satunya kuliner yang bukan asli Indonesia adalah bacon yang di-coating tepung dan goreng kering, yang harusnya diganti dengan lemak babi goreng kering yang biasa disediakan sebagai condiment di tempat makan bakmi Medan. Secara overall ponten untuk hidangan ini 8.5/10. Patoet Dipoejikeun, kalau mengutip penilaian seorang teman peminat kuliner yang dikenal dengan tukang nyicip.

Langsung teringat diskusi waktu WTF! JS beberapa waktu lalu, semua setuju tidak ada sumber informasi kuliner Indonesia dalam 1 atap, dan memang karena kuliner Indonesia yang begitu luas, hingga tidak bisa ditangani hanya oleh 1 badan, harus dikelola secara kolektif. Pada  tahun 2014 Tempo pernah mengeluarkan edisi khusus antropologi Kuliner Indonesia. yang sampai saat ini menurut saya masih merupakan yang paling runut, rapi dan dihimpun dengan serius. Kuliner dengan pendekatan sejarah, dan perjalanan bumbu, lengkap dengan ulasan ekonomi, politik, dan tentu saja mencicipi langsung makanannya. untuk tulisan ini, Tempo mengerahkan 1 team besar, rasanya pasti lebih dari 100 orang. Sungguh usaha yang serius, sayangnya hanya untuk 1 edisi, bukan yang berkelanjutan.

jalur remoah

Menurut Tempo, jalur rempah Indonesia terbagi menjadi 7, yang mana menjadi garis besar aliran kuliner Indonesia, yang nantinya masih akan pecah lagi menurut geografis, karena misalnya untuk Jalur 2 : Jawa, ada ratusan jenis masakan hanya dari 1 provinsi, yang masih bisa dipilah lagi berdasarkan suku, etnis, waktu dan pengembangannya karena asimilasi dan pergaulan. Bahkan kalau menurut saya Kuliner indonesia kalau dijadikan pendidikan, paling tidak bisa menjadi jurusan, bukan cuma sebagai mata kuliah. Coba bayangkan betapa kaya Kuliner Nusantara. Tidak ada salahnya kita sebagai generasi muda Indonesia mulai membuat pendataan Kuliner Indonesia, supaya generasi mendatang masih bisa menikmati Kuliner Indonesia yang sebagian sudah mulai dilupakan dan siapa tahu sambil melestarikan salah satu budaya Nusantara kita bisa belajar lebih banyak lagi dan mendapatkan manfaat ekonomi seperti urang Bandung yang kreatif membungkus kuliner Babi Nusantara dalam 1 piring? dan harusnya bukan cuma babi kan? Mari Makan.

photo : Tempo Edisi Khusus Antropologi Kuliner Nusantara 1-7 Dec 2014

 

 

Standard
Cemilan, General, Inspire, Kuliner Lokal, Uncategorized

Bakcang Festival dan Momen.

FullSizeRender

Hari ini hari bakcang, dan baru sadar kemarin ditanyain oleh sepupu kapan mau ambil bakcangnya Gile ini ya mau dikasih eh malah diingetin, kurang tahu diri hehehe.  Hm… jadi ingat dulu kalau hari bakcang itu selalu spesial. Waktunya ngumpul ngobrol ngolor ngidul dengan mama sambil bantu recokin. Kadang bareng dengan tante-tante, lalu nungguin rebus parcel kecil itu semalaman, dan paginya bangun bersemangat mau sarapan bakcang yang masih mengepul. Semakin umur bertambah jadi semakin menghargai momen.

Bakcang sendiri banyak nama dan jenis, tapi tidak perlu bahas bakcang negara lain ya, di Indonesia aja saking banyak jenisnya gak sempet nyicip atu-atu. Konon seh bakcang dibuat sebagai rasa penyesalan kaisar setelah sang pemaisuri menenggelamkan diri di sungai karena sang kaisar tidak perhatian. Bakcang dibuat untuk makanan ikan di sungai supaya jenazah sang permaisuri tidak digerogoti. anyway… kisah ini bukan yang diceritain di keluarga seh, ini hasil gugel aja.

Bakcang adalah jenis makanan yang dibungkus daun, yang berisi ketan/nasi yang  membungkus lauk dan dikukus/rebu sampai empuk. Bakcang yang kita kenal di indonesia terbagi jadi 2 genre besar, dengan bahan beras  (yang dominasi di Jakarta, Bogor, dan sebagian Jawa) dan dengan bahan ketan (selain yang disebutkan di bagianberas). Untuk pembungkus, dipakai bermacam daun bambu. Untuk lauk isian tergantung keturunan suku, kalau hokkian cenderung mengisi dengan babi cincang kecap, kalo konghu dan tiociu, biasanya dengan kombinasi kacang hijau kupas, telur kuning asin dan daging babi acar bawang. Nah ada juga adaptasi lokal dengan mengisi kacang tanah atau bahkan tanpa isian, namanya Ki cang, yang dimakan dengan gula pasir atau seperti lupis dengan parutan kelapa dan gula merah cair.

Dalam keluarga sih bakcang itu simbol silahturami, mama biasa buat bakcang dalam jumlah banyak, untuk dibagikan ke semua keluarga besar, dan dihitung lho harus buat berapa pcs. Persiapannya rumit dan panjang, minimal 2 hari. Karena keluarga kita keturunan kong hu, maka persiapan lauk isinya lebih banyak jenis  Ritual dimulai dari merendam kacang hijau, sampai kulit ari hijaunya terkupas, kacang hijau jadi kelihatan seperti kedele. Lalu daging babi yang harus banyak lemaknya, diacar dengan bawang merah, rempah dan garam, direndam selama 2 malam supaya bumbu meresap dan telur asin hanya bagian kuningnya. Ada variasi lain dengan jamur, ginko, kacang tanah dsb . Bahan utamanya ketan yang direndam min 1 malam juga. Kebayang kan time consumingnya.

Ritual bungkus juga gampang-gampang susah, eh harusnya susah-susah gampang, Karena manual, harus bisa kerajinan tangan melipat daun bambunya, sambil meracik isi nya seperti koki, lalu membentuknya seperti arsitek, dan menutupnya dengan tegas seperti butcher. Dari semua keluarga besar, sepertinya garis keturunan kedua tidak ada lagi yang menguasainya, sepertinya budaya membungkus bakcang sendiri akan kita bunuh di generasi saya dan semua sepupu, dengar….. ini tanggung jawab bareng yah.

Tapi percayalah, bakcang yang enak itu tidak dibeli di toko (maap ya juragan bakcang yang terhormat, saya suka beli juga kok di hari biasa…) tapi bakcang yang dibuat oleh mama atau kerabat dekat kita, yang dibuat dengan penuh cinta kasih dan sambil dihitung berapa lagi bakcang yang harus dibuat supaya semua kebagian. the love and care. Tuh momen lagi kan. ini ngomong bakcang atau momen seh? – ( eh thank you buat tante ellen, bakcangnya sudah beristihat tenang di perut)

Suka lupa ya kalau banyak yang lebih penting dari apa yang dikira lebih penting (baca : KERJAAN KANTOR), dulu sempet baca ntah dmana, kalau ada kesempatan bersama keluarga, atau teman terkasih, mind setnya harus ganti, bukan coba menunda dengan alasan sibuk, atau ketemu trus nyambi bales email or chat ya semacam take it for granted lah. Ehhh…  waktu kita di dunia itu terbatas lho dan kita tidak tahu kapan dipanggil, jadi mind setnya harus ganti jadi kapan lagi kita bisa ngumpul? kita tidak tahu kan? anggap aja ini selalu jadi momen kita yang terakhir. Agreed?

 

Standard
Experience, Kuliner Lokal

Kuliner non HALAL Jogja bag 2

Menyambung bag 1, sebenarnya masih banyak tempat makan baru yang asik, dan tempat makan lama yang tidak pernah diexpose selain orang Jogja lokal, dan ternyata dengan booming wisata dalam 2-3 tahun terakhir, membuat Jogja jadi lebih terbuka dan sekarang variasi makanannya sudah melebihi kota lain di Indonesia, in a good way ya, karena kuliner lokal juga berkembang maju.

Dan walaupun dalam catatan ini menu non HALAL, sebagian dari tempat in juga menyediakan menu Halal kok, jadi nyantai aja, lihat catatan di tiap tempatnya aja. Pilihan untuk kulinaran non HALAL saya selalu diprioritaskan dari rasa, harga baru tempat atau suasananya, jadi kalau ada perdebatan pemilihan, refers ke prioritas saja 🙂 so let’s start

4. RM Baru – Chinese Food – jl. dr Wahidin no.29 Buka sepanjang hari, hanya tutup 3 jam waktu siang.

Ini merupakan tempat favorite penggemar chinese food Jogja, menunya sangat klasik, mulai dari bistik, koloke, bakmi goreng, capjay hingga sayuran cah. Baru perhatiin ternyata chinese food Jogja jarang menggunakan seafood sebagai andalan seperti di Jakarta, seperti ikan tim atau menu kepiting. Mungkin ini ada hubungan dengan etnis chinese yang eksis. entahlah hanya hipotesis kosong. Back to meal. Untuk bistik babi, tastenya tipikal chinese food, dg saus inggris yang kenceng dan kentang goreng, koloke babi renyah dan capjay dengan saos kecap kental. Untuk rasa buat saya personal agak manis, mungkin ini yang merupakan ciri penyesuain dengan rasa lokal Jawa Tengah yang lebih manis. Harga moderate untuk ukuran porsi dan rasanya, cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan kebanyakan rumah makan tapi masih jauh kalau dibandingkan dengan rumah makan selevel di Jakarta. Monggo. Ponten 8/10

Menyantap-Bestik-Spektakuler-khas-Rumah-Makan-Baru-artikel66IMG_0985

5. Atap Grill – Western BBQ – Jalan Tentara Rakyat Mataram No.5 Buka dari sore jam 5-10 malam

Tempatnya agak jauh terpencil dari koloni tempat makan yang hits, dan restonya juga rustic looks, semacam gudang dengan banyak informasi dan jokes/quotes di interiornya, mulai dari cuts untuk beed and pork, sampai meat map nya Inndonesia. Menunya juga ada di bagian interior resto lengkap dengan harga, dan dengan rekomendasi dari pelayan, saya pesan BBQ pork ribs saja, karena katanya porsinya lumayan besar, dan baru saja makan nasi goreng ko Diam.

Pork Ribsnya datang dengan porsi sedang,  tampilannya sangat bingung,  dengan garnish okra beberapa potong, ada sedikit cipratan entah saos apa, dan beberapa potong french fries nya random.  Ribsnya ukuran sedang, dagingnya empuk, bumbunya meresap sampai dalam, sepertinya memang sudah dimasask dulu karena tulangnya lembut, bumbunya tipikal bbq sauce, manis, gurih, dan rasanya cukup smoky. Pasti akan lebih enak kalau ada lime/lemon untuk pelengkap, dan saus mushroomnya tidak ada kaitan dengan hidangan, sebaiknya dihilangkan, mungkin ganti dengan home made spicy sauce.. harga per porsi 80rb. Ponten 7.5/10 (harus improved penerangan, plating dan buat option spicy)

Standard