Antropologi Populer, Entrepreneur, Experience, General, Inspire, Uncategorized

Moment!

Mungkin ini tema yang ditulis ulang ke-2 kali, tapi memang minggu lalu seperti ada desakan untuk nulis ulang. Saat semua orang sibuk mempertanyakan keabsahan penistaan, mayoritas minoritas, saya setuju mendingan kita posting yang positif saja. Bukan soal denial, cuma tidak mau ikutan terlibat dalam lingkaran setan saja. Dimulai dari postingan salah satu researcher handal yang mempertanyakan eksistensi diri, apa sih yang sudah kita perbuat untuk orang yang lebih banyak. Dug. langsung nusuk ulu hati seh. Tengkiu lho ri.

Lalu pas kemarin pindah2 channel TV karena bosan, ketemu talkshow di salah satu TV yang tidak pernah ditonton, ada tajuk female zone, dengan bintang tamu seorang ibu yang memperjuangkan listrik sudah dari 25 tahun yang lalu dengan julukan perempuan pembawa terang, perjuanganya masih jauh dari selesai dan masih tetap sangat positif. Di Indoneaia mungkin kurang dikenal, tapi dunia internasional sudah mengakuinya, bahkan beliau sudah pernah diundang ketemu Obama hingga ke World Economic Forum. Salah satu nasehatnya ( tidak exact, tapi ini yang saya tangkap): tetap saja berbuat baik, tidak pelu pusing soal orang gosipin atau jahatin kamu, percayalah hal-hal baik akan mengikuti kamu.

dan Pas weekend kemarin, ada 2 pertemuan dnegan 2 grup temen yang berbeda, dan baru terasa ya moment itu super cepat berlalu. Tadinya baby yang masih digendong, ileran dan tidur di pelukan, kini mau digendong aja sudah gak kuat, sudah jadi bocah 5 tahun dengan berat lebih dari 20kg.  Lalu ke perkawinannya seorang sahabat. Yang dulu waktu kita baru main bareng, tuh adenya baru masuk SMU, masih culun, dan kini sudah siap menjadi bapak untuk keluarganya. Mungkin yang menjadi pertanyaan nanti, seberapa kali lagi yah kita bisa ketemuan?  Baru sadar kalau kata bijak. “Don’t counting your things , Count Your Moments” bener banget.

Kembali ke masalah eksistensi, sighhh… langsung pengen ngeles ala matrix, langsung refleks itu harusnya kerjaan orang yang lebih mumpuni, apalah guwehhhh… Dulu pernah baca 1 buku pengembangan kepribadian, dimulai dengan pertanyaan ” Seandainya kamu mampir ke pemakaman sendiri, dan temanmu sedang memberikan testimonial tentang kamu, apa yang akan diceritakan oleh dia?”

Sampai detik ini, masih belum bisa menjawabnya. Dung.

Advertisements
Standard
Entrepreneur, Food Battle, General, Global Issue, Inspire, Uncategorized

Belanja Sayuran Segar di pasar Tradisional (online) bag. 2

2 tahun yang lalu, dunia startup Indonesia masih sepi adem ayem, tapi sudah lahir inovasi untuk belanja sayuran tradisional via online, dan per hari ini, syukurlah sudah lahir banyak produk inovasi pertanian yang sangat pro konsumen dan petani, sehingga 2 pihak utama yang merupakan motor demand dan supply  bisa memainkan perannya dengan lebih baik, tanpa adanya tangan lain yng selama ini menjadi penentu trend demand dan supply.  Sementara adik-adiknya terus memberikan produk inovasi, sebagai pioneer pasarminggu.co malah sepertinya jalan di tempat dan terlena dengan model bisnis yang menurut saya masih seperti saat launch. Sayang sekali.

Ada 2 produk yang menurut saya keren, dan semuanya dilahirkan oleh profesional muda yang prihati dengan problem pertanian Indonesia.

Kecipir.com  

screen-shot-2016-10-21-at-12-34-20-pm                                                                                                                              konsepnya adalah semua produk dasarnya adalah organik, jadi tidak ada alasan kalau produk organik itu mahal, caranya ya dengan membuat sebanyak mungkin petani menanam organik sehingga harganya akan turun mendekati harga pertanian konvensional. Konsep ini tercermin dari harga produk organiknya sangat murah, sudah mendekati produk sayuran segar yang ada di pasar tradisional. Konsep distribusi dengan menggunakan agen yang tersebar di semua wilayah Jakarta juga sangat unik dan memberikan kesempatan penambahan pendapatan (dan jaminan suplai sayur segar organik) buat ibu rumah tangga, begitu juga dengan supplai yang didapat dari petani yang tersebar di seputaran Jakarta. Produk lokal, dijual lokal, Brilliant!

Dengar-dengar Tantyo, sang founder lagi mempersiapkan produk barunya, semacam pemberdayaan konsumen untuk mendukung permodalan petani (crowd funding) jadi lengkap sudah siklus bisnisnya, petani dimodalin dari konsumen, jadi tidak perlu ngutang ke tengkulak dan terpaksa melepas hasil pertaniannya dengan harga tengkulak, dan konsumen mendapatkan produk segar dan harga yang tidak diinflasi oleh rantai distribusi hasil pertanian yang tidak efisien. Hmm ditunggu yak pak Tantyo.

Limakilo.id

screen-shot-2016-10-12-at-3-13-43-pm

Kalau limokilo ini bermula dari keprihatinan ketika konsumen membeli bawang merah, harganya mahal dan produknya sudah tidak segar. Jadilah dibuat riset ternyata untuk membeli langsung ke petani minumal pembelian adalah 5kg untuk retail, makanya namanya limakilo (cmiiw). Intinya juga sama seperti dengan kecipir, memotong jalur distribusi produk pertanian Indonesia yang tidak efisien.

Limakilo sendiri dilahirkan oleh 3 anak muda dan dibidani oleh kompetisi Hacketon 2015. Yang membuat salut adalah ketiganya tidak ada latar belakang pertanian atau bisnis pertanian, tapi dimulai keprihatianan dan keinginan untuk membuat suatu perubahan, dan kalau ditekuni dengan serius, dan dukungan teknologi dan dana, bisnis model ini sangat mungkin untuk melakukan sesuatu yang mungkin belum terjamah oleh pemerintah.

Summary: sebagai konsumen, kita sudah mulai dimanjakan oleh produk-produk yang dilahirkan oleh anak Indonesia yang tidak hanya berdiam diri dan mengeluh, tapi langsung terjun membuat perubahan (dan menghasikan uang!) Peran kita?? ya.. support mereka, dengan membeli atau ikut menjadi pemodal, jadi bukan inisiatif anak muda Indonesia itu bukan hanya Gojek lho. Percayalah Pertanian dan Infrastruktur akan memegang kunci keberhasilan pembangunan Indonesia 20 tahun kedepan. Mark my words.

image : dari website kecipir.com dan limakilo.id, dan cover dari beritasatu.com

Standard
Cemilan, City Escape, Experience, Food Battle, Kuliner Lokal, Liburan Lokal

Kuliner Wajib Halal Palembang bag.2 (Chapter Masakan)

Kalau secara garis besar, masakan Palembang harusnya masuk trah Melayu, tapi karena sejak Jaman Sriwijaya Palembang adalah melting pot, tidak bisa dihindari adanya perpaduan dengan pendatang China dan Arab, plus adanya transmigrasi di tahun 70an, membawa pengaruh Jawa ke tatanan kuliner lokal. Interaksi dengan wilayah sekitar juga memperkaya perbendaharaan kuliner Palembang.

Disclaimer kali ini adalah semua rekomendasi disini adalah masakan yang dianggap trade mark Palembang walaupun bisa saja itu bukan makanan asli Palembang.

RM Pindang Meranjat – Demang Lebar Daun. Resto ini sudah tergolang senior dalam urusan pindang, mengusung pindang tarikan daerah Meranjat yang kuahnya cenderung lebih gelap, kuanya lebih light dari segi bumbu, tapi tetap nendang. Yang paling umum memakai ikan Patin, tapi kalau tersedia ikan Baung, harus dicoba, karena jenis ikan air tawar ini tidak dibudidayakan, jadi secara tektur akan lebih liat. Pindang Udangnya juga layak dicoba. CIri khas lain adalah sambal embem/mangga muda, yang cenderung kecut manis pedas. Menyegarkan sekaligus memuaskan.

RM Sri Melayu – Demang Lebar Daun. Resto ini merupakan tandem dari Meranjat, dengan tempat yang lebih luas dan banyak pilihan setting, dari meja biasa, lesehan hingga pondokan,. Menu juga cenderung lebih lengkap. Pindang adalannya juga serupa, tapi dengan trah pindang ini kuahnya cenderung lebih cerah, bumbunya lebih medok dan kental. Wajar kalau pindang tulang yang cenderung lebih berlemak, tapi tidak menjadi berat karena bumbu dan asam yang mendominasi. Menu favorit saya yang lain adalah ikan seluang goreng, sebenarnya hanya ikan kecil yang biasa mengganggu pemancing di sungai , tapi sedap sekali dipadukan dengan sambal calok (terasi). Buat yang mau coba pepes tempoyak, ikan patin yang dibungkus daun dan dibumbui dengan durian yang difermentasi. Aslinya merupakan masakan khas daerah lahat . Tastenya sedikit aneh buat yang belum terbiasa, tapi ini merupakan menu spesial yang sudah semakin langka.

RM Pagi Sore – Jendral Sudirman/Kol Atmo. Resto legendaris pilihan kedua saya, no.1 seharusnya Sari Bundo, cuma berhubung Sari Bundo sudah tutup, Pagi Sore menjadi incumbent deh. Jenis masakannya adalah Minang Melayu, jadi sekilas kelihatan seperti resto Padang. Kalau dicermati, ada perbedaan mendasar seperti rendang, yang dimasak hingga kering dengan bumbu seperti gumpalan lumpur, penggunaan lauk yang lebih variasi seperti udang, ikan hingga side dishnya. Sambal merah dan hijaunya merupakan bagian tak terlepaskan dari semua masakan lain. Buat yang di Jakarta resto ini bisa ditemukan di Fatmawati.

RM HAR – banyak cabang, diantaranya Kol. Atmo atau Jendral Sudirman. Hanya ada 1 menu, martabak telor dengan kuah kari kambing, Makanan legenda ini berakar dari budaya keturanan Arab di Palembang yang hingga kini sudah dianggap makanan local. Kulit martabak yang diolah hingga lebar, diisi dengan telur bebek dan digoreng dengan minyak samin. Wangi adonan kulit yang digoreng garing sangat cocok dengan kuah kari kambing dengan kentang sebagai saosnya, dan dimakan dengan cabe kecap sebagai penyedap. Ini makanan yang seharusnya illegal, addicted.

martabak-har

RM Sari Nande, Mayor Ruslan. Salah satu pesaing urusan pindang, segala macam kuliner klasik Palembang bisa ditemukan disini. Secara tastenya sangat dekat dengan Sri Melayu, tapi cenderung lebih light. Kuah pindang disajikan dengan burner yang menjaga kuah pindang tetap hangat, taburan kemangi yang menyedapkan dan memberikan aroma khas pindang. Yang menjadi ciri khas mereka diantaranya pepes Belido. Worth to try. Secara personal kalau harus memilih diantara 3 jagoan pindang akan berurut Sri Melayu, Sari Nande, Meranjat.

River View, Benteng Kuto Besak. RM ini masuk review ini bukan karena makanan, cuma karena letak strategis kalau dinner disini viewnya jembatan Ampera.

Mie Celor 26 Ilir, 26 ilir.. Mie celor adalah mie rebus ala Palembang, mie kuning dengan kuah kental kaldu udang dan santan, dengan taburan udang rebus cincang dan telur rebus. Dari sejak kecil tempat ini sudah melegenda, walaupun tempatnya sederhana dan agak jauh dari pusat kota. Kalau waktu kunjungan agak mepet, bisa ke Pujasera Veteran, tapi kurang aware ya cabang resmi atau bukan.

Sebenarnya ada yang harus dicoba juga kalau ke Palembang, jajanan pasar, agak tricky karena belum ada tempat yang menjual seperti halnya Monami di Jakarta, jadi harus ke area pasar, atau kalau mau jam 6-7 pagi ke Lap hatta, ada banyak penjual kue basah. Andalan saya selalu Talam Ebi, Bakcang ketan, Roti Goreng, Susu kacang fresh dan Bongkol.  Selamat hunting makanan di Palembang. Tell me what you think.

All picture are taken from Tripadvisor

Standard
City Escape, Experience, Food Battle, Kuliner Lokal, Liburan Lokal

Kulineran Wajib Palembang Halal bag.1 (Chapter Pempek)

Nah… kalau untuk yang ini malah listnya lebih panjang, secara garis besar adalah pempek dan non pempek J jadi untuk bag 1 nanti akan lebih dibahas pempek dan teman-temannya, baru bag.2 kita bahas yang non pempek. (note: di Palembang sebutannya adalah pempek, bukan mpek2 seperti di Jakarta)

Untuk disclaimer, Lupakan semua pempek yang biasa dijadiin oleh2 kebanyakan turis (C*#dy, R*&en, atau V&*o), rasanya sudah sangat Jakarta, jadi tidak dianggap original, dan karena saya besar di area seberang ilir, jadi akan lebih dominan di wilayah seberang ilir, di seberang ulu mungkin ada yang lebih enak, tapi that’s not my playground (seperti halnya Jakarta Timur buat saya sekarang)

Pempek Ek – Jalan Baru-Dempo Luar. Terkenal sebagai tempat yang menyediakan pempek ikan belido setiap hari, ukurannya termasuk bite size (dibaca imut),dan jangan salah, tempat ini terkenal juga sebagai pempek termahal di Palembang. Tapi percayalah, ada barang ada harga, untuk rasa, harus diacungin 4 jempol, kekenyalan pempeknya pas, rasa ikannya enak dan kuah cukonya mantab. Tanpa sadar sudah habis 10 pempek adaan nya. Model dan Tekwannya juga sangat dipoejikan. Item lain yang harus dicoba juga adalah pangsit ikan, dengan kuah seperti tekwan, kulit pangsitnya dibuat dari bahan pempek, dengan isi udang, yang ini WAJIB. Eits jangan takut kalau temen2/Keluarga di rumah gak bisa ikut nyobain, mereka juga menyediakan take away pack yang bisa dijadikan oleh2, siapin aja duit yang extra

Pempek Dolar – Dempo Dalam. Buat saya pempek tunu (panggang) terenak di Palembang ada disini, pempeknya wangi dan kuah cukonya yang kental dan wangi, dan dengan menulis ini saja langsung terbir air liur. Dan nama Dolar itu sendiri ada alasannya lho…. konon karena ukuran pempeknya sebesar ukuran dolar koin, dan harganya tentunya hahaha (konon lho ya…). Es kacang dan model ikan-nya termasuk lumayan enak, tapi bukan yang terbaik.

Pempek Saga – Depan walkot, jalan Merdeka. Ini adalah versi mutannya Pempek Ek, dengan harga sama dapat versi yang lebih gede, dan rasanya cuma sedikit levelnya dibawah Ek. Secara trah memang beda perguruan, kalau Ek itu anggun seperti putri Solo, kalau Saga itu seperti Putri Sunda yang lebih lugas. Pempek Lenggannya juga enak dan es campurnya termasuk enak, tapi bukan yang terbaik menurut versi saya lho ya.

Pempek Lenny – jalan Petanang, Veteran. Kalau tempat ini sebenarnya jarang didatangi, lebih sering order untuk bawa ke Jakarta, terutama untuk pempek mie dan pistel (seperti kapal selam tapi isi papaya muda yang dimasak dengan ebi dan bawang). Harus yang rebus ya, karena 2 jenis pempek ini lebih nikmat kalau dalam bentuk original. Dan yang paling penting harganya value for money banget. Kapal selamnya juga enak. Gugling aja pasti ketemu no telp nya kok.

Pempek Beringin – Jalan Baru, dempo luar. Kalau menyimak di tulisan kuliner non Halal Palembang, letaknya persis di sebelah Bakmi 88. Punya menu lengkap untuk perpempekan, pempek Tunu dan lenggang pangganya nya termasuk yang enak, dan jangan lupa nyobain menu khas palembang lain seperti celempungan (bola-bola pempek dengan kuah santan berbumbu) atau burgo (terbuat dari tepung beras, dengan tekstur seperti kwetiau dengan kuah santan berbumbu).

Pondok Pujasera – Veteran. Ini semacam foodcourt, kalau tidak banyak waktu dan ingin makan beberapa jenis makanan sekaligus, ini tempat yang harus disantroni. Mulai dari es Mamad yang terkenal di lap. Hatta, Mie Celor 26 ilir, Martabak HAR, pempek wawa, dan masih ada beberapa lagi yang tidak ingat. Praktis dan hemat waktu.

Kalau yang ini diluar konteks per-pempek-an, tapi karena jajanan favorite saya, jadi harus dilist juga deh hehehe

Es asuk koboi – Dempo Luar. Tempatnya dekat dengan mie Aloy, konon merupakan es campur terenak di Palembang, terutama es kacang, cincau, alpukat atau campur. Kacang merahnya super lembut dan manisnya ada sedikit karamel (burn) karena proses masaknya yang lama. Tempatnya kecil dan panas, jadi sebaiknya bungkus, kumpulin beberapa kulineran lalu digelar ditempat yang lebih lega ☺ ps : Senin tutup. Dan diseberang tempat ini ada tempat jual model gandum gerobakan, nah jenis makanan ini agak jarang di Jakarta, silahkan dicoba, murah meriah dan memorable.

Photo courtesy of Arie Parikesit – IG @arieparikesit

Standard
City Escape, Food Battle, Kuliner Lokal, Liburan Lokal, non HALAL

Kulineran Wajib Non Halal Palembang!

 

Pertanyaan paling sering yang ditanyakan teman, ke Palembang itu ngapain sih? Jawaban standard selalu : MAKAN. Tapi nextnya malah jadi lebih ribet karena mulai deh harus list down makanan apa aja yang kudu, wajib untuk disantroni. Secara saya kan penggemar perbabian, jadi tentu kita selalu mulai dari ibab. Berikut pilihan favorite saya, tidak berdasarkan rangking ya.

Mie Terang Bulan (Sin Chiau Lok)– Pasar Sayangan. Ini termasuk bakmi legend, sudah masuk generasi kedua, dan sangat tradisional. Buka tepat jam 4 sore sd 8.30 malam teng, jadi jangan harga bisa order diluar jam tersebut. Menu utamanya Mie, Mie goreng dan pangsing goreng. Mie yang dimaksud adalah bakmi kering, tekstur mie kenyal dengan toping daging babi cincang, dan tentu saja jeruk kunci (kalamansi). Mie gorengnya cenderung agak basah, dengan limpahan daging babi, udang, jeroan dan sayuran, dan cabenya yang cenderung seperti paste, memang tidak ada tiganya. Dan tentunya harus ditemanin dengan pangsing goreng. Pangsit gorengnya beda dengan GM yang rapu, pangsitnya cenderung lebih garing dan isiannya melimpah, dan porsinya tetap 20 pcs, jangan pernah minta porsi lebih kecil, karena pasti akan jutekin “kalau tidak bisa habis, gak usah pesen!’. Keunikan lain kalau pesen mie untuk dibungkus , gak bakalan dibungkusin kuah, kalau mau kuah, harus bawa container sendiri. Dung. But trust me, it’s worth the wait and patience. Harus Sabar yah…..

Mie Aloy – Dempo Luar. Kalau bakmi ini sudah menjamur di Jakarta, tapi sediakan waktu untuk berkunjung, karena yang kita nikmati bukan hanya mie nya, tapi juga pengalamannya. Tempat ini sudah buka dari jam 5 pagi untuk melayani yang suka berolahraga pagi dan sekarang buka hingga malam hari (dulu hanya sampai lunch time). Topingnya juga banyak macam, dari babi cincang, chasiu, rica, dan ayam jamur. Yang istimewa adalah toping untuk kuah, mulai dari segala macam jeroan babi, usus, hati, ginjal, darah hingga macam-macam bakso. Yang harus dicoba juga adalah gohiong. Karena mulai dari konsep kopitiam, tentu ada telur ½ matang dan kopi. Jadi buat saya ini semacam institusi ketimbang sekedar tempat makan. Btw hampir setiap hari si ownernya, Aloi masih ikut meracik mienya lho, just say hi.

Mie Anlok – Pasar buah. Terletak  disudut sebelum pasar buah, tempatnya kecil dan mojok, humble dan homie, hanya ada paling  5 meja. Mie di Palembang normnya adalah kering, tapi disini yang selalu saya order adalah mie kuah. Tekstur mie nya cenderung lebih lembut dibandingkan aloy ataupun terang bulan. Sangat cocok untuk sarapan sambil ditemani es kopi yang menurut saya lebih enak dibandingkan dengan Ta’kie sekarang.

Mie 88 – Jalan Baru- Dempo Luar. Nah ini juga termasuk early riser, kalau mau sarapan jam 6 pagi mereka sudah ready. Seperti halnya Aloy, mereka juga menyediakan macam-macam toping kuah dan asiknya tempat ini bisa sambil pesen pempek d sebelahnya, pempek Beringin, pempek tunu (panggang) nya sangat menggoda. Tekstur mienya lebih lembut dari Terang Bulan, dan cenderung lebih gurih. Kalau mau beli kue-kue pasar juga ada, termasuk talam ebi. Yumm.

RM Tokyo – Sayangan, lorong panglong. Umur tempat ini sudah lama, dan pastinya bertahan karena alasan yang jelas, makanannya cihui. Masakannya adalah klasik Chinese food, termasuk babi lapis, bola udang, ayam pekcamke (ayam rebus) dan jiu chai hua (sayuran, gak nemu bahasa Indonesianya apa). Tempatnya juga masuk gang kecil, jadi disarankan parkir di depan gangnya. Setelah makan disini, kalau masih punya ruang di perut, sepanjang jalan masuk gang adalah china townnya Palembang, jadi banyak makanan enak, di depan gang sebelah kiri ada mie yang tidak ada namanya, termasuk tempat yang sering dikunjungi kalau mau makan cepat dan enak.

Kedai Akiun – Lap Hatta. Suka tempat ini karena spesialisasinya adalah babi panggang Bangka, jadi tidak perlu jauh-jauh ke Bangka kalau lagi ngidam, babi panggangnya dengan bumbu yang masih agak basah nempel di dagingnya, moist tapi garing, plus bagian fatnya tipis, ngomonginnya saja sudah ngiler. Masih ada sate babi dan ngohiong yang patut dipoejikan.

RM Sumber Rasa – Kol Atmo. Sebenarnya makanan babinya tidak terlalu istimewa, cuma untuk makanan ala tio ciu agak jarang di Palembang, bisa jadi alternative yang tidak kalah enak. Sop perut ikan dan Hotplate daging menjangan malah jadi andalan. Bakutnya lumayan, yang agak ribet cuma karena tempatnya kecil dan pelanggan banyak, lebih baik datang untuk early dinner or sekalian agak malaman (jam 8.30 consider malam di Palembang)

PS. karena Palembang kecil, jadi tidak akan susah menemukan tempatnya walaupun tidak detail, tinggal nanya di area tersebut, pasti akan ktemu kok. eits yang asli Palembang jangan protes, ini kan pilihan personal saya 🙂 peace!

 

Standard
Food Battle, General, Kuliner Lokal

Battle of Bakmi Mewah vs Real Meat

screen-shot-2016-09-17-at-8-08-22-pmYeahhhh kali ini pengen nulis sesuatu yang gak biasa, dengan melakukan hal yang biasa 🙂 Bermula dari brief job yang tidak kesampean, jadi penasaran seperti apa sih produk yang dibanggakan klien ini. No offense ya pak, cuma pengen lebih tau aja. Terus begitu belanjan ke outlet, eh ada saingan dekatnya, yang kebetulan dibuat sama pemimpin pasar, wah kepikiran dong buat battlenya, kek orang lain nulis review henpon gitu. So here i am.

Let’s the fight begin.

1, Fisik produk.

Dimensi cenderung sama, mungkin karena sang pemimpin pasar kecolongan hingga langsung copy aja, yang membedakan real meat masih ada plastic wrap, sedangkan bakmi mewah packaging dilaminasi untuk menonjolkan premise mewah. berat keduanya juga sama 110g, yang menurut saya personal akan kecil dibandingkan dengan mie korea 120-150g, itu pun untuk yang kuah. Untuk bakmi kering pasti akan kecil porsinya.

2.. Desain Pack.

real meat tinggal mencopy templete desain dari range indomie dan cenderung play safe, sementara bakmi mewah karena tidak ada heritage ataupun family brand, lebih berani dan bahkan menggunakan mangkuk untuk mempresentasikan mie dengan premise mewah seperti restoran.  Tapi untuk informasi konsumen, saran penyajian dan informasi nilai gizi real meat jauh lebih mudah dibaca dibandingkan dengan bakmi mewah yang blend in dengan desain hingga susyah baca.

3. Isi Kemasan.

real meat lebih praktis, mienya sendiri, dengan 1 kemasan daging ayamnya, sayuran kering dan bumbu. Sedangkan bakmi mewah, ada 5 kemasan berbeda, mulai dari minyak, kecap, saos, sayur kering dab bumbu. secara fisik mie real meat cenderung mirip indomie pada umumnya, sedangkan bakmi mewah seperti bakmi biasa tapi kering.

4. Masak dan penyajian.

Waktu masak yang dianjurkan sama 2 menit, dan perbedaan cara penyajian adalah di real meat daging dikeluarkan dahulu di pring (daging ayam potongan besar, dengan saus yang berminyak dan berkecap), mie yang ditiriskan baru diaduk rata dengan bumbu kering. Sedangkan bakmi mewah, mie ditiriskan, baru dikasih kecap, minyak, bumbu, baru diaduk dan disajikan dengan toping daging ayam (daging ayam potongan kecil, warna ayam asli, tanpa kecap)

img_0333

5. Tekstur dan Rasa.

Mie real meat sangat identik dengan tekstur indomie pada umunya, mungkin secara bahan beda sedikit, tapi tidak signifikan. daging ayamnya cenderung manis dan agak keras, mungkin karena dipakai daging ayam kering yang diproses ulang, jadi cenderung kering, keras dan kurang alami. Rasa manisnya juga kurang membumi layaknya bakmi yang digemari di Jakarta tidak ada manis seperti ini, bahkan untuk ukuran yamien ( dan yamien harus ada kecap manisnya). Untuk bakmi mewah teksur mie nya agak surprise, walaupun pas kering tidak begitu kelihatan beda, tapi pas dimakan cenderung lebih halus, seperti bakmi yang dibuat dari mie basah, daging ayamnya juga lebih berdaging dan alami, dengan tarikan cenderung lebih asin seperti halnya bakmi ayam yang dijual di kaki lima atau restoran.

Jadi… kesimpulannya, secara umum bakmi mewah menawarkan value yang lebih baik daripada real meat, premise bakmi restorannya cukup masuk akal. Tapi secara overal dengan harga beli 7000-8000 (beli di hipermarket) lebih bijaksana kalau membeli bakmi aja, bakmi abang2 kampung harga segitu, atau nambah dikit sudah dapat bakmi yang lebih proper. Well, beda cerita kalau di tengah hutan dab tengah malam (kalau tengah malam di Jakarta masih banyak yang jual mie ayam)…. you have option now.

Toss Bakmi.

ps : ini adalah pendapat personal, tidak ada pesan sponsor ataupun berbayar.

 

Standard
Antropologi Populer, Experience, Inspire, Pencarian, Uncategorized

Nodong Tuhan!

Screen Shot 2016-08-08 at 6.14.25 PM

Karena tulisan 1 orang di FB, jadi pengen juga share , tulisan yang SUPERB, link nya ini  https://superhalaman.wordpress.com/2010/09/22/aa-jin-sm-atheis-pietis/

Dari dulu hidup tidak pernah terlalu memperdulikan status agama, kolom agama dulu diisi juga dengan pakem kalau Chinese ya seharusnya Budha. Well, tidak tahu darimana pakem itu, walaupun saya tidak tahu apapun tentang ajaran Budha.

Waktu SD sempat terkspose oleh ajaran Islam karena pelajaran agama di sekolah, diwajibkan ikut sampai harus menghafal ayat-ayat Alquran, sebagaimana halnya pelajaran sekolah lain. Dan untuk penilaiannya bahkan beratas di top 10 kelas, walaupun saya tidak mengerti ajarannya secara benar, tapi saya suka konsep pengontrolan diri waktu puasa dan cerita 25 Nabi yang membuat saya menagih guru agama setiap jam pelajarannya.  Lulus SD dilanjutkan ke sekolah Katolik, dan seperti halnya waktu SD, saya terekpose karena di sekolah tidak ada pelajaran agama Budha yang saya cantumkan di kolom Agama. ( btw di rumah kita diajarkan dengan ajaran Kong Hu Cu dengan banyak adaptasi lokal – aka Palembang, dengan pertimbangan kepraktisan dan kepentingan sosialisasi dengan lingkungan). Sepanjang SMP-SMA saya belajar agama Katolik, bahkan sempat ikut kelas yang intensif, karena cukup tertarik dengan cerita di Alkitab, seperti halnya tertarik dengan kisah 25 Nabi waktu SD.  Saya cukup mengenal Katolik, tapi tidak memahami. Sampai dengan SMA saya masih menganggap diri sebagai Agnostik, percaya Tuhan tapi tanpa label.

Waktu SMA karena hobi membaca membawa saya untuk mencari tahu agama Budha, karena itu selama ini ngakunya kan beragama Budha. Literaturnya cukup terbatas perpustakaan sekolah dulu yang lebih banyak buku cerita ketimbang agama, hingga suatu hari diajak ke Vihara, yang dalam waktu singkat saya di”sah”kan menjadi penganut agama Budha sepenuhnya melalui ibadah aliran Matreiya. Tapi terus terang, saya juga belum memahami Budha sepenuhnya, apalagi ada anggapan nilai ketaatan atau akhlak yang baik ditentukan oleh seberapa rajin mengunjungi Vihara. Lucu aja, masa Ilmu Agama kita ditentukan oleh absensi, mungkin juga karena saya pemalas, jadi membuat asumsi ini.  Tapi saya tertarik menjadi vegetarian hingga menjalaninya selama 1 tahun waktu SMA, simply karena pengen kurus seh dan agak eneg makan daging karena penjelesan bikhu di Vihara soal roda samsara. Ibu berhasil mem-veto stop vegetarian karena kekurangtahuan dalam ber-Vegetarian yang menyebabkan berat badan turun hingga 15kg. Jadilah saya kurus hingga kuliah dan saya tetap malas ke Vihara (hingga sekarang)

Singkat cerita waktu kuliah, dengan pindah ke Jakarta, semua informasi lebih banyak tersedia, dan banyak sekali yang bisa ditanya, buku banyak tersedia dan mengenal ulang Budha dengan angle yang berbeda. Seorang temang memperkenalkan dengan aliran Budha Zen, yang nyeleneh, lalu juga mengenal beberapa pemuka agama Budha seperti Yongyur Rinpoche, Ajahn Chan, dll yang membuka mata ternyata banyak sekali yang mengaku  Budha dan mengagungkan ajaran hanya karena menghafal sutra, pintar mengaitkan ajaran dengan hidup sehari-hari hingga mengaku reinkarnasi Budha tertentu, yang mengaburkan diri dari Inti ajaran Budha. Banyak sekali yang menggunakan Sutra/Rupang/Bikhu/Relik sebagai kebenaran. Heran. (note :saya bukan penganut agama Budha yang baik apalagi pakar ajaran agama Budha)

Dari literatur yang dibaca, saya cuma ngerti hal dasar, kita tidak bisa mengesampingkan fungsi manusia hingga melemparkan semua nasib kita ke tangan Tuhan, Memohon sambil menyandera ketaatan kita untuk kepentingan kita sendiri, apalagi sampai mengimingi-imingi sang Pencipta dengan janji ibadah/doa/nyanyian untuk objektif kita. Logikanya tidak jelas buat saya, kita begitu berani mendikte Beliau untuk kita, apalagi kalau ada yang sampai bisa judge untuk kita hanya karena kita tidak melakukan ibadah/doa/kebiasaan umum karena kita menganut agamanya. Apalagi sekarang ada yang berani mempertanyakan keputusan Tuhan dalam menjalankan dunia, karena kepentingan kita ada yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Surreal bener.

Haduh makin berat yah, mungkin yang paling cocok adalah seperti mbah dalam tulisan teman di atas tadi, Amitaba, Eling dan Sadar diri. Tahu diri, Kita bukan bagian terpenting dari dunia, dan fokus aja bagaimana kita bisa menjadi saluran berkat yang bisa membantu lebih banyak orang tanpa memusingkan apa kepercayaanmu dan apa yang sudah kita perbuat di masa lalu. Amitaba. Amitaba. (dan saya yang ngaku Budhis dan masih malas untuk ke vihara…so judge me! )

ps. mungkin agak diluar konteks, tapi untuk pluralisme, saya rekomen untuk nonton film India, judulnya PK, yang agak diluar pakem, menohok dan satir, yang sambil ketawa miris, itu ada di sekitar kita aau bahkan ikut melakukannya.

Standard