Beberapa bulan lalu, Netflix meluncurkan dokumenter Street Food Asia dengan salah satu episodenya membahas kuliner di Jogja. Apa menariknya? Toh hampir semua TV lokal, youtubers sampe what so called influencer makanan sudah pernah membahas atau meliput kuliner Jogja kan? Buat penggemar Netflix akan tahu ini sebenarnya adalah versi ‘pop’ nya Chef’s Table yang tersohor, versi yang lebih membumi.

Keindahan pengambilan gambar selalu menjadi nilai jual Netflix, tapi sebenarnya apa yang membuat dokumenter ini jadi sangat menarik? Setelah menganalisa beberapa episodenya, termasuk Chef’s Table, saya namakan “Romansa Kuliner”. Apa itu? Kisah yang tidak hanya membahas kulinernya saja, tapi cerita di belakang kulinernya itu sendiri. Sejarah diciptakan makanannya atau keluarga pembuat kuliner, bagaimana mereka dengan segala cerita kesedihan, kekonyolan, kegigihan, semangat, kepasrahan hingga cerita cinta dan kecintaannya terhadao usaha atau kuliner yang mereka jalani. Semua itu dibalut dengan esensi kekinian kuliner. Mungkin lebih tepat kalau disebut sebagai drama cinta kuliner kali ya? Lihat bagaimana framing tokoh ‘Mbah Satinem’ yang bahkan saya tidak tahu tapi ngiler lihat bagaimana dia menyendok gula merah dan tertawa sendiri melihat romantisnya cinta sang mbah terhadap bojonya. INI BEDANYA.
Untuk level Indonesia, produksi dokumenter nasional untuk Kuliner masih jauh dari standar Neflix. Saya pernah menemukan karya blogger yang lumayan bagus, yang menceritakan tentang gudeg kalau tidak salah, nah jenis seperti ini yang bisa membuat kita akan semakin cinta terhadap Indonesia. Kalau buat saya untuk memperat persatuan Indonesia, mungkin cara yang paling natural adalah dengan saling mengenal, dengan mengenal baru akan ada rasa sayang, dan paling mudah dimulai dari Kuliner.
Back to topic, kebayangkan kalau kita membuat dokumenter kuliner Indonesia dengan serius, salah satu contoh yang sangat detail, baik dari segi konten, cerita, emosi, dibuat oleh CCTV, TVRInya Tiongkok, a bite of China, yang sekarang sudah entah season berapa, bahkan ada edisi khusus. Dedikasi dan keseriusan pembuatannya membuat kita sebagai penonton dimanjakan, sampai penasaran seperti apa makanannya. Kebayangkan kalau ini dibuat versi Indonesia. Kita akan sangat mengenal saudara setanah air dimanapun, mungkin dari situ akan muncul lebih rasa sayang yang natural, yang akan mematahkan hasutan dalam bentuk apapun.

Barangkali ada teman-teman pemerhati dan pecinta kuliner, kreator youtuber, atau bahkan pemerintah daerah atau pusat yang ingin lebih memperkenalkan daerahnya, bisa mulai membuat dokumenter sejenis, atau mungkin kita bisa bekerja sama, why not? YOK! Mau mulai dari daerah mana dulu kita explore? Manado?
All pictures belong to the owner of the programs
konsepnya adalah semua produk dasarnya adalah organik, jadi tidak ada alasan kalau produk organik itu mahal, caranya ya dengan membuat sebanyak mungkin petani menanam organik sehingga harganya akan turun mendekati harga pertanian konvensional. Konsep ini tercermin dari harga produk organiknya sangat murah, sudah mendekati produk sayuran segar yang ada di pasar tradisional. Konsep distribusi dengan menggunakan agen yang tersebar di semua wilayah Jakarta juga sangat unik dan memberikan kesempatan penambahan pendapatan (dan jaminan suplai sayur segar organik) buat ibu rumah tangga, begitu juga dengan supplai yang didapat dari petani yang tersebar di seputaran Jakarta. Produk lokal, dijual lokal, Brilliant!

Yeahhhh kali ini pengen nulis sesuatu yang gak biasa, dengan melakukan hal yang biasa 🙂 Bermula dari brief job yang tidak kesampean, jadi penasaran seperti apa sih produk yang dibanggakan klien ini. No offense ya pak, cuma pengen lebih tau aja. Terus begitu belanjan ke outlet, eh ada saingan dekatnya, yang kebetulan dibuat sama pemimpin pasar, wah kepikiran dong buat battlenya, kek orang lain nulis review henpon gitu. So here i am.



Bermula dari libur lebaran yang diisi dengan makan dan makan, plus ngobrol ngolor ngidul dengan sahabat lama, mendaratlah kita di tempat makan yang lagi hits, yang menyajikan Nasi Campur Babi Indonesia, betul BABIK. Yang kalau dari penampakannya, bisa langsung ngeces kan. Tergolong unik karena belum ada resto sejenis yang menyajikan keanekaragaman makanan indonesia non HALAL yang dimasak dengan serius dan lengkap. Tanpa disebutkan namanya pun, penduduk Jakarta akan dengan mudah menemukan tempat jualnya. Dan yang menariknya pengusaha yang membuka tempat makan ini bukan orang Jakarta, tapi urang Bandung, masih muda dan rasanya intuisi bisnisnya mumpuni.